Ini Ceritaku atas Pengalaman Iman dalam Asian Youth Day ke 7 di Yogjakarta

Oleh: Rina Fransiska Paroki St. Hilarius – Batam
Oleh: Rina Fransiska
Paroki St. Hilarius – Batam

Awalnya tak pernah terpikirkan untuk ikut ambil bagian dalam Asian Youth Day 2017 ini. Sebagian besar rekan OMK berantusias untuk ikut, dalam pikiran saya “Yah, biar saja mereka yang ikut, saya disini saja melihat dari kejauhan”. Tidak berapa lama kemudian Ketua OMK, menawarkan saya untuk ikut, yah lagi-lagi masih dengan senyuman menjawabnya. Namun saya berpikir, kesempatan ini mungkin tidak bisa dirasakan semua OMK, namun saya mendapatkan kesempatan itu. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajukan cuti ditempat kerja, dan Romo pun mendukung saya untuk ikut.

Selang beberapa waktu, kami Kontingen Keuskupan Pangkalpinang khususnya Kevikepan Utara berkumpul  untuk membicarakan segala persiapan AYD 7 ini. Mulai dari mempersiapkan Yel-yel, tarian persembahan mewakili Keuskupan PangkalPinang. Cukup rumit untuk mengumpulkan kami, karna kesibukan pekerjaan dan kuliah diantara kami. Namun satu yang saya rasakan bahwa Tuhan hadir dalam setiap usaha ini, dan suka cita Injil mulai tumbuh dalam hati ini. Romo Rusdi, SS.CC untuk Kevikepan Utara dan Romo Yosef Setiawan untuk Kevikepan Selatan yang tak kalah antusias dari kami Kaum Muda ini, hampir disela awaktu kegiatan Pastoral, mereka sejenak menyempatkan diri untuk hadir dalam persiapan ini. Dan yang tak kalah semangatnya mereka ikut berlatih dalam Theme Song AYD 7 ini. Yah, tak kalah semangatnya….

Hal yang sedikit sulit ketika Paroki yang terpisahkan lautan di Keuskupan ini membuat kami untuk siap berbagi tugas dalam Pentas Seni yang akan kami tampilkan, seperti LDR begitu, jauh dimata dekat dihati….

Waktu berjalan begitu cepat, tepat tanggal 29 Juli 2017 pukul 18.00 WIB kami mengikuti Misa Perutusan Kontingen AYD 2017 ini dipimpin oleh RP. Rusdi SS.CC dan RD. Yosef Setiawan di Kevikepan masing-masing, bersyukur untuk setiap doa yang turut menyemangati dan menemani kami dalam perjalanan kami esok.  Haru, kami harus melakukan yang terbaik dan menghasilkan suka cita Injil dalam kehidupan kami pribadi dan kemajuan OMK di Paroki kami masing-masing. Dalam bait doa “Tuhan, aku bersyukur untuk panggilan dalam perutusan menjadi Kontingen AYD 7 ini, jadikanlah kami penebar suka cita Injil ditengah kehidupan yang Multikultural ini”.

Ke Markas OMK Palembang

rina4

Tanggal 30 Juli 2017 pukul 07.00 WIB dengan Pesawat, kami terbang menuju Sumatera Selatan yaitu Kota Palembang. Setibanya di Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport kami disambut dengan suka cita dari OMK dan Panitia DID Keuskupan Palembang. Selendang dan Tanjak pun dipasangkan disetiap bahu dan kepala kami. Yang laki-laki mengenakan Tanjak dan yang perempuan mengenakan Selendang khas Palembang. Setibanya di Paroki St. Petrus – Palembang, kami disambut dengan nyanyian dan tarian Kuda Lumping dari rekan-rekan OMK Keuskupan Palembang. Lambaian tangan pun terarah untuk mereka yang kami jumpai “Haii, selamat berjumpa semoga kebersamaan ini menjadi awal dari sebuah suka cita Injil dalam perjumpaan ini”.

Pempek Khas Palembang, Sate, Tekwan dan makanan lainnya menjadi penghantar keharmonisan dan keanekaragaman budaya Indonesia. “Aku bahagia hidup di Indonesia, kaya akan budaya, bahasa dan keanekaragaman lainnya”. Jamuan hangat pun diselingi dengan rangkaian musik, lagu dan tarian dari rekan-rekan OMK tuan rumah. Pada pukul 17.00 WIB kami bergegas masuk kedalam gereja, untuk membuka Upacara DID ini dengan Misa yang dipimpin oleh Uskup Mgr. Anthony Alwyn Fernandes Barreto dan Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ beserta Imam Konselebran lainnya yang berada di Keuskupan Seregio Sumatera dan dari Negara India serta Malaysia.

Live in di Palembang

Seusai Pembukaan Kegiatan DID (Days in Diocese) kami pun siap untuk pulang kerumah live in kami. Didepan gereja kami sudah ditunggu oleh orangtua Live in kami. Masih bingung dan penasaran “Siapa orangtua live in ku ya??”, namaku pun disebut, yah majulah seorang Bapak yang didampingi putrinya dan menghampiri kami. Mari nak, sapa Bapak itu. Kami terdiri dari 3 orang perempuan dari masing-masing kontingen keuskupan kami., saya dari Keuskupan PangkalPinang, Arum dari Kesukupan Palembang, dan Caroline dari Negara Malaysia. Sekarang kami jadi satu keluarga dalam perjumpaan selama 3 hari kedepan.

Sesampai dirumah Ibu telah menunggu kedatangan kami, sapa dan dekapan diawal pertemuan kami terasa begitu hangat dan erat. Teh hangat telah terhidang dimeja makan sebagai awal dari perjumpaan ini. Setelah bersapa sejenak kami pun melanjutkan dengan istirahat malam tepat pukul 01.00 WIB.

Kagum dengan karya Pastoral di Palembang

Esokan harinya telah menunggu untuk kegiatan berikutnya, pagi yang cerah dengan misa yang begitu khsyuk menyapa hati. Indah, sejuk hati ini. Selanjutnya kami berkesempatan mengunjungi RS. RK. Charitas dibawah pengelolaan Suster-suster FCh-Palembang. Di aula RS. RK. Charitas, kami kembali menerima pengetahuan perjalanan dari suster yang berjuang membangun dan memajukan Rumah Sakit itu. Perjalanan berikutnya ke aula SMA Xaverian Palembang. Disana kami disuguhi pengalaman dan perjalanan dalam memajukan pendidikan bagi anak-anak bangsa, menurut saya sekolah ini lah yang dibutuhkan generasi bangsa saat ini. Disekolah ini tidak menutup kemungkinan bagi anak-anak yang kekurangan tetapi ingin bersekolah disini, mengapa?? Karena disekolah ini memiliki kebijakan dalam menghadapi persoalan yang menjadi dilema bagi orangtua yang ingin anaknya bersekolah disekolah Katolik ini. Sekolah ini dibimbing langsung oleh Pastor dan Suster yang melayani di Keuskupan Palembang itu sendiri. Pada kesempatan ini kami pun diberikesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat pelayanan dan sarana yang dimiliki oleh Keuskupan Palembang, diantaranya Universitas MUSI dan Seminari Menengah St. Paulus. Salut dan bangga dengan semua usaha keras adari keuskupan ini.

Pentas Seni di DID

Pada malam hari, kami diberi kesempatan untuk menampilkan segala bentuk Pentas Seni dari masing-masing Keuskpuan dan Negara. Nomor urut pertama diberi kesempatan kepada Keuskupan Sibolga, tarian dari daerah Nias pun menjadi pembuka malam itu. Disusul dari Keuskupan PangkalPinang dengan Tarian Lancang Kuning dan Lagu Laskar Pelangi yang diarasemen ulang dari rekan-rekan Babel. Tepuk tangan meriah dan suara teriakan menjadi hasil dari penampilan kami. Bersyukur dan bahagia untuk hasil kolaborasi dari 2 Kevikepan ini. Dan dilanjutkan dari Keuskupan Tanjung Karang, Keuskupan Medan, Delegasi Negara Malaysia, Keuskupan Padang, Delegasi Negara India dan Keuskupan Palembang.

Keesokan harinya kami berkesempatan mengunjungi tempat wisata dan peninggalan kerajaan Sriwijaya, seperti Musium Sriwijaya, Gelora Sriwijaya, Icon Plaembang dan lainnya. Setibanya di Paroki Live in, kami berkesempatan untuk membuat makanan khas Palemnbang yaitu Pempek.

Selamat jalan Palembang

Hari berjalan, kami harus mengakhiri perjumpaan di Keuskupan Palembang ini. Misa Penutupan dibagi sesuai Paroki Live in masing-masing, yaitu Paroki Katedral, Paroki St. Petrus, Paroki St. Yosepdan Paroki lainnya. Seusai misa penutupan ini, kami diberi kesempatan untuk menutup kegiatan ini dengan malam inagurasi bersama Pastor Paroki, Suster, Oarangtua Live in, Panitia DID, dan umat yang ada. Terharu, sedih, bahagia akan perjumpaan singkat ini. Terimkaasih untuk semua yang ikut ambil bagian dalam kegiatan DID ini, terutama Orangtua Live ini. Terimakasih Bapak, Ibu, Mba, dan adik. Bagia boleh menikmati kesempatan hidup bersama dalam 3 hari ini. Dan tak lupa untukmu 2 temanku Arum dan Caroline. Terimakasih untuk kebersamaan ini, dan boleh bersemangat dalm suka cita injil ini. Dari kalian aku belajar bagaimana untuk menghargai perbedaan yang menyatukan ini. Mulai dari bahasa, suku, dan cara hidup kita masing-masing.

Selamat Datang Yogyakarta

rina3

Dan akhirnya tiba di Kota Batik ini, Yogjakarta. Rasa takut, penasaran dan bahagia. Yah takut kalau ketemu Oppa Korea, takut ga bisa kedip…hahaha….

Bus 37, kendaraan istimewa untuk Delegasi Kuskupan Pangkal Pinang dan Palembang. Setibanya di JEC (Jogja Expo Centre) kami disambut senyum indah dari Mgr. Ruby. Senyum yang menandakan selamat datang di Keuskupan Semarang, selamat datang di Jogja semua Delegasi.

Setiba didalam aula kami dikumpulkan menjadi satu dari 22 Negara Se-Asia, dengan total peserta 2140 orang dari dalam Negeri, dan 942 dari luar Negeri. Dengan jumlah OMK 1889 orang, yang terdiri dari 1075 OMK dari dalam Negeri dan 814 OMK DdariI Luar Negeri. 158 Pastor yang terdiri dari 78 Pastor dari dalam Negeri dan 78 dari Luar Negeri. 12 Orang Bruder : 4 Bruder Dalam Negrei dan 8 Bruder dari Luar Negeri. 29 Orang Suster : 9 Dari dalam negeri dan 20 suster dari luar negeri. Dan total Uskup (Termasuk Kardinal) 52 Orang yang terdiri dari 31 Uskup dalam negeri dan 21 dari luar negeri. Serta 6 Kardinal : 1 orang Kardinal dari dalam negeri dan 5 Kardinal dari luar negeri.

Puncak Pembukaan AYD 7 ini diawali dengan Misa. Steelah Misa dilanjutkan dengan Upacara Pembukaan AYD 7 yang dihadiri oleh Gubernur DIY, Para Kardinal, Uskup, Pastor, Suster, Bruder, Frater dan Seluruh Peserta AYD 7.

Dalam setiap pertemuan kegiatan saya sangat bersyukur karena boleh mengenal setiap pribadi OMK yang ada di Asia ini yang terdiri dari 21 Negra. Saya boleh mengenal setiap kehidupan yang ada dalam kegiatan ini. Pada sebuah kesempatan kami berkesempatan untuk mengunjungi setiap paroki yang ada di Jogja. Terkhususnya saya bersyukur boleh mengunjungi Paroki St. Petrus dan Paulus Babadan. Diparoki ini saya dikenalkan dengan keberaneka ragaman agama, ada Islam, Budha, Protestan dan tentu sja Katolik. Paroki ini berdiri atau diapit oleh Vihara dan Pesantren. Mereka hidup rukun tanpa saling menganggap bahwa perbedaan ini membuat suatu jurang pemisah untuk menebarkan kasih dan suka cita Injil. Disini saya belajar bahwa sebagi minoritas tak menutup kemungkinan untuk berbagi, bersuka cita, bergembira bersama serta menshearingkan pengalaman hidup dalam kaca mata yang berbeda. Disaat itu kami menikmati sebuah Kajian Rohani dari Rekan-rekan yang beragama Islam yaitu “Rebana/lantunan ayat suci Al-quran”, dari agama Budha menampilkan tarian yang berjudul  “Tarian Persudaraan”.

Dalam sebuah refleksi saya menyadari bahwa hidup tak sebatas aku dan sahabat seimanku, melainkan aku dan seluruh penganut agama yang memancarkan kasih, suka cita injil dalam kehadiran Tuhan disetiap wjah yang berbeda. Tekhususnya untuk Indonesia yang memiliki suku, bahasa, budaya dan agama yang berbeda, kita disadarkan bahwa sebuah perbedaan hanya sebuah gambaran bahwa Tuhan memanggil, menghadirkan kasih dan membagi cinta untuk ku dari mereka sahabatku yang berbeda keyakinan denganku. Tuhan hadir dalam sebuah perbedaan yang bukan menjadi sebuah perbedaan yang menyebrangi sebuah cinta itu sendiri.

Dalam AYD 7 ini, saya berbangga karena kami Katolik, kami Universal, kami satu dalam Iman. Menambah relasi iman dalam keberagaman negara, saya dituntut untuk menjadi tuan rumah (Indonesia) bahwa saya harus mampu memberikan kenyamanan dalam sebuah perjalanan, pengenalan Tuhan dan sebuah pertemuan ini.

Saya bangga menjadi Katolik, saya bangga untuk Indonesia yang beraneka ragam….

Karena saya 100% Katolik, 100% Indonesia….

Tuhan Memberkati…

By : Rina Fransiska, Paroki St. Hilarius – Batam, 24 tahun


Editor: costmust/BerkatNews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *