Jambore Akbar I, Kepri : “Here I am Lord”

Arsip Pribadi, Juli 2010/ costmust

Siapa yang tak kenal namamu…., siapa yang tak ingin hadirmu….Sosok pribadimu yang mempesona, memancarkan kesucian jiwa….Monsinyur Hilarius, engkau imam tabah dan setia…Monsinyur Hilarius, engkau imam Kristus selamanya….

 

Demikianlah penggalan lagu yang dinyanyikan dengan riang oleh seribuan peserta dan pembina Jambore Akbar Remaja Misioner Dekenat Kepri dalam rangka Penutupan Tahun Imam menyambut kedatangan YM.Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD; Uskupnya memasuki Bumi Jambore Rempang-Galang.

Tabuh genderang Pencanangan Tahun Imam diumumkan oleh Bapa Suci Paus Benediktus XVI di Vatikan pada bulan Juni 2009,  tepat pada Yubileum 150 tahun St. Yohanes Maria Vianney dan melalui surat edaran Bapa Uskup Pangkalpinang tentang Tahun Imam, umat dan imam dengan penuh antusias menyambutnya.

Dimulai pada pertemuan rutin para Imam Dekenat Kepri diputuskan ada empat sasaran animasi Tahun Imam, yaitu Remaja, Para Keluarga-keluarga yang mempunyai anak/saudara menjadi imam, biarawan/wati (Keluarga Religius), Kaum Muda dan GOTAUS.

Sejak kepanitiaan Tahun Imam terbentuk pada bulan September, panitia mulai bergerak menyusun rencana strategis sebagaimana diamanatkan Bapa Uskup dalam Surat Edarannya.

Tahun Imam sendiri dibagi dalam tiga (3) tahap; Pra (sebelum) -Pro (saat) – Post (setelah) Puncak Tahun Imam.

Kegiatan Pra diisi dengan berbagai animasi Panggilan Khusus sebagai Imam, Biarawan/wati; diantaranya melalui Katekese Tahun Imam bagi seluruh Remaja Katolik di semua paroki, Pengenalan St. Yohanes Maria Vianney sebagai pelindung imam di seluruh dunia,  Aksi-aksi Panggilan, Publikasi di warta-warta Paroki, Doa Untuk para Imam di setiap Paroki, Rekoleksi bersama Imam, Rekoleksi Keluarga Religius, dan berbagai kegiatan kreatifitas lainnya.  Rangkaian kegiatan Pra ditutup dengan Novena untuk para Imam; dengan penuh kerahasiaan seluruh Remaja mendapatkan tugas mendoakan satu imam selama sembilan hari, tugas mulia itu diberikan dengan instruksi “TOP SECRET”; remaja menjaga kerahasiaan imam yang didoakan.

Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu remaja itu tiba, tanggal 28 Juni 2010 seluruh kontingen dari tujuh Paroki di Dekenat Kepri berangkat menuju Rempang. Iphin dibantu rekan-rekannya OMK MBPA  menjemput peserta dari pos-pos perhentian yang sudah ditetapkan, baik di pelabuhan-pelabuhan maupun di kapel-kapel, sedikitnya ada lima belas bus besar dikerahkan sebagai armada utama selain kendaraan pribadi lainnya.

Setelah proses registrasi selesai, seluruh peserta dan pembina mengikuti Ekaristi Penutupan Tahun Imam Dekenat Kepri. Ekaristi dipimpin Bapa Uskup Mgr. Hilarius didampingi dua puluh dua imam konselebran. “Cita-cita apapun yang akan kalian capai nanti, pertama-tama kalian harus menjadi orang baik..” demikian Bapa Uskup memberikan pesan dalam homilinya. Ekaristi berlangsung dengan khidmat dan anggun; tak kurang dari dua ratusan anggota Koor Remaja Misioner MBPA telah mempersiapkan diri mereka jauh-jauh hari, demikian juga dengan petugas liturgi lainnya.

Ekaristi ditutup dengan Prosesi Sakramen Mahakudus menuju Ruang Adorasi untuk kemudian ditahtakan selama Jambore berlangsung; dibawah koordinadi Bu Dana, petugas dan peserta secara bergantian selama dua puluh empat jam non-stop beradorasi.

Setelah makan malam bersama, para imam memperkenalkan diri kepada para Remaja, “oh .. jadi ini pastor yang aku doakan selama ini…ssttt” para peserta berguman.

Hari kedua merupakan hari khusus Panggilan, bagaimana tidak, sejak pukul 06.00 pagi para peserta memulai hari itu dengan Rosario Misioner untuk Para Imam, untaian Bapa Kami dan Salam Maria mereka persembahkan bagi imam-imamnya dan bagi seluruh remaja di lima benua agar bibit-bibit panggilan terus tumbuh. Setelah itu Ibu Yohana Halimah (Kak Yo), Staff Karya Kepausan Indonesia (KKI) – KWI Jakarta berkenan memberikan materi kepada peserta di Tenda Utama. Dalam materinya, Kak  Yo  memaparkan tentang apa itu Panggilan, macam-macam Panggilan, sampai kepada discerment, refleksi dan diskusi.

Sorenya, 29 Juni; sesuai dengan kalender Gereja Universal, Gereja merayakan Hari Raya St. Petrus dan St. Paulus. Ekaristi dipimpin Romo Ngadiono dari Ujung Beting. Dalam Homilinya Romo Ngadiono mengajak Remaja Misioner untuk berani memberikan kesaksian seperti rasul Petrus dan Paulus kepada siapa saja melalui doa, derma, kurban dan kesaksian. Setelah Ekaristi, Acara dilanjutkan dengan perkenalan konggregasi yang ada di Kepulauan Riau; SVD, SSCC, dan imam Praja; Suster-suster FCh, FSE, KKS dan RGS.

Setelah perkenalan dan sedikit penjelasan mengenai spiritualitas dan kharisma dari setiap kongregasi, tibalah acara Puncak Novena untuk Imam. Satu per satu para imam diminta maju ke depan, setelah itu Lusi dan Pak Agung sebagai seksi acara mengumumkan nama imam tersebut dihadapan remaja, dan bagi remaja yang bertugas mendoakan imam tersebut maju menemui imam tersebut. Akhirnya susasana menjadi semakin mengharukan ketika para imam mengajak remaja masuk ke ruangan-ruangan yang telah disediakan untuk saling ber-sharing, saling bercerita, saling menguatkan, saling mendoakan….. ”luar biasa, yang seperti ini baru pertama di Indonesia, saya akan membawa dalam diskusi nanti di Roma…” ujar Kak Yo ketika melihat para remaja dan imam begitu akrab dalam suasana haru.

Namun, ada remaja yang begitu sedih, bahkan ada yang menitikkan air mata, mereka adalah remaja yang mendoakan salah satu imam, namun imam tersebut tidak dapat datang karena alasan yang darurat. Tanda-tanda kekhawatiran itu sudah mulai nampak dari hari pertama, ketika mereka tidak melihat imam yang selama sembilan (9) hari mereka doakan dengan penuh semangat. Akhirnya panitia mengumpulkan mereka dan menguatkan mereka untuk tidak kecewa.

Hari ketiga, 30 Juli adalah Puncak Jambore Akbar Remaja Misioner. Lokasi acara berpindah dari Rempang ke Galang. Komitmen Panitia benar-benar diuji, tepat jam 02.00 dini hari dengan menggunakan Lori, seluruh perlengkapan Acara, Soundsystem dan Liturgi diangkut dari Rempang ke Galang. Sungguh mengharukan bagi Panitia, baik pastor, frater dan Kaum Muda, mereka bahu mebahu tak kenal lelah menset lokasi Galang menjadi Lokasi baru Jambore.

Akhirnya pukul 08.00 seluruh peserta diberangkatkan menuju lokasi baru dengan lima belas (15) bus. Sesampainya di Galang, panitia membagi tujuh (7) Rute Jalan Salib untuk seluruh imam, perserta dan pembina. Setelah menimba pengalaman iman dalam pengorbanan Kristus dalam Jalan Salib-Nya, acara itu memuncak pada Perjamuan Ekaristi. Walau awalnya Galang ditutup awan hitam tebal dan gemuruh petir, namun iman seluruh peserta benar-benar menunjukkan pesonanya. Seluruh Imam, para petugas liturgi, dan seluruh remaja begitu kompak dan yakin tidak akan meninggalkan lokasi jika ditengah misa terjadi hujan. Ekaristi pun dimulai dengan prosesi meriah Ikon St. Yohanes Maria Vianney, Vandel-vandel Remaja Paroki, Bendera Lima Benua, Bendera Vatikan dan Indonesia. Romo Poya yang memimpin Ekaristi Penutupan Jambore dalam kata pembukaannya mengatakan “Tuhan Yesus dan Bunda Maria begitu mencintai kalian, sehingga tidak terjadi hujan….” memang Ekaristi berlangsung dengan meriah sampai selesai tanpa hujan, justru panas terik tiba-tiba merubah suasana.

Setelah persembahan utama Roti dan Anggur, para remaja juga mempersembahan kreatifitas mereka melalui simbol-simbol Alat Peraga Edukatif (APE) perjuangan parokinya masing-masing.

Perayaan Ekaristi selesai, seluruh peserta kembali diberangkatkan menuju lokasi awal di Rempang. Peristiwa Puncak Jambore sungguh-sungguh menjadi pengalaman iman bagi remaja.

Panitia telah menset alur acara, setelah acara puncak, kina tibalah untuk melepaskan ketegangan otot-otot. Yah…malam itu adalam Malam Pentas Seni. Seluruh remaja begitu menikmati suguhan kreatifitas remaja dari paroki-paroki, tidak ketinggalan para Pastor pun unjuk kebolehan. Ada Drama Musikal dari Paroki St. Petrus, meyodorkan kisah kehidupan seseorang sampai ia terpanggil dan menerima jubah kebiaraan, ada juga Teater oleh Remaja Misioner St. Yoseph, St. Damian dan St. Carolus,…ehhh ada juga ngelenong ala Betawi yang dibawakan dengan fasih oleh Remaja Misioner Paroki Kerahiman Ilahi….wah….seru deh…..tunggu dulu…tak ketinggalan Remaja Misioner MBPA nya dengan joget masal dibawah komando Romo Stanis….seru oe…….

Sorak sorai semakin bergemuruh ketika para imam naik pentas; dibawah komando Romo Poya para imam berjoget diiringi lagu favorit “Labamba”; panggung berguncang, hampir roboh, rupanya para pembina tak ingin ketinggalan, mereka menyerbu pentas dan memainkan goyangan terbaiknya bersama para pastor…..Romo Marko pun harus mengalah, ia memegangi peralatan musik yang nyaris tumbang…hihihii….

Pentas seni ditutup dengan Penyalaan Api Unggun, dan renungan yang dibawakan oleh Romo Ngadiono.

Selepas Api Unggun, adalah acara bebas, para remaja semakin akrab dengan teman-teman barunya, mereka saling bercerita, tertawa bersama…. tak lama kemudian peserta pun rame-rame turun ke Tenda Utama, mereka melewatkan malam terakhir dengan berjoget ria, ber-sajojo dan ber poco-poco ria bersama para imam.

Paginya, 1 Juli adalah hari terakhir, hari itu Ekaristi dipimpin Romo Anton Mite dari Tanjung Balai. Sebelum berkat penutup Panitia mengucapkan terimakasih kepada para Pastor yang dengan penuh semangat bersama remaja selama Jambore berlangsung, tak lupa panitia memohon maaf atas kekurangan-kekurangan dalam akomodasi, konsumsi dan keseluruhan pelayanan.

Remaja serasa tak rela pergi meninggalkan lokasi Jambore, namun mereka harus pulang, karena mereka harus terus menyalakan semangat itu di paroki mereka masing-masing. Rem Aja ??? No..!! Remaja..??? Yes..!!

DEMAM JAMBORE

Berhari-hari bahkan sampai berita ini diturunkan, remaja seakan terserang deman Jambore, setiap mereka bertemu topik utama yang mereka bicarakan adalah seputar Jambore, demikian juga media-media yang selama ini mereka gunakan baik Handphone, maupun media internet seprti Facebook dipenuhi dengan comment-comment seputar hari-hari mereka bersama rekan-rekannya dalam satu iman dari berbagai daerah tersebut.

Post Tahun Imam

Setelah remaja teranimasi dengan berbagai rangkaian kegiatan Tahun Imam, tibalah saatnya melihat betapa luar biasanya remaja kita, yang selama ini tenggelam. Moment Jambore telah membuka mata siapa saja yang selama ini memandang sebelah mata tentang Remaja Katolik. Pendampingan pastoral remaja dengan berbagai wadahnya semestinya sudah mulai dibuat dalam rencana tindak lanjut Jambore di paroki masing-masing.


Beberapa Dokumentasi foto:

34149_140739239274796_2889771_n 34149_140739242608129_5841125_n 36338_140735812608472_8172767_n 37238_140747122607341_82283_n 61114_159315770750476_1548832_n 61893_164110013604385_8285667_n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.