KBG: Laboratorium Pengharapan Bagi Keluarga dan Gereja di Masa Depan

BerkatNews.com-Bangka. Komisi Pengembangan Komunitas Basis Gerejawi (KP-KBG) Kevikepan Bangka Belitung, baru-baru ini menyelenggarakan pertemuan (15-17/7) konsolidasi kerja seksi KBG dari paroki-paroki se-Babel. Peserta yang hadir sekitar 40 orang dari 6 paroki, kecuali Paroki Katedral absen mengutus pesertanya. Pertemuan ini diselenggarakan di Hotel Menumbing Pangkalpinang atas kerjasama komisi KBG dengan Bimas Katolik Propinsi Kepulauan Bangka Belitung. Para peserta yang hadir dalam pertemuan itu pun merupakan para fasilitator aktif di KBG masing-masing.

Kegiatan ini lebih bersifat rekoleksi, yang memberikan semangat bagi para fasilitator paroki, ungkap RD. Stanis Bani, vikep Bangka Belitung sebelum kegiatan ini dilaksanakan dalam pertemuan internal Komisi KBG kevikepan Babel. Karena bersifat rekoleksi, komisi dan bimas Katolik bersepakat untuk menghadirkan narasumber dari luar Bangka Belitung, Bapak Fidelis Waruwu, M. Sc. Ed di Education Training and Consulting Jakarta. Dalam sessi pertama pertemuan, sambil mengutip dokumen Konsili Vatikan II, khususnya dalam Gaudium et Spes artikel 53, Bapak Fidelis mengatakan kepada para fasilitator yang hadir bahwa keluarga adalah sel dasar Komunitas Basis Gerejawi. Sebagai sel dasar, keluarga adalah sekolah kemanusiaan yang menjadi tempat pertama seseorang belajar hidup bersama dengan orang lain dan menerima nilai-nilai luhur dan warisan iman. Keluarga, tempat anggota keluarga belajar hidup bersama, maka relasi-komunikasi didalam keluarga menjadi unsur yang sangat pokok. Relasi yang baik, yang menghidupkan, dan yang membangun, diungkapkan secara nyata didalam komunikasi etis dan bertanggungjawab. Dalam relasi-komunikasi yang bersifat membangun, nilai-nilai luhur diungkapkan serta warisan iman dihidupkan, maka keluarga menjadi penentu masa depan Gereja Katolik. Karena itu, keluarga-keluarga saat ini, perlu sekali didampingi dan diberdayakan untuk aktif dalam hidup menggereja dan dalam masyarakat. Karena menjadi sel pertama untuk menentukan suatu masa depan masyarakat secara umum, maka anggota-anggota keluarga perlu sekali diberdayakan untuk menggali potensi-pontensi bawaan didalam diri anggota keluarga, khususnya potensi bawaan anak-anak; yang meliputi: berpikir (cognitive), merasa (affective), dan berperilaku (psychomotoric).

Selanjutnya dalam sessi berikutnya, beliau mengutip kembali hasil SAGKI 2015 khusus pada poin ke-2 yang mengungkapkan bawa keluarga adalah tempat pertama dimana doa diajarkan, iman ditumbuhkan  dan keutamaan-ketutamaan ditanamkan. Atas pernyataan ini, beliau meminta kepada fasilitator untuk memperhatikan pemberdayaan secara serius proses perkembangan kepercayaan dasar khususnya pada anak-anak yang berusia: 0-3 tahun. Keluarga membangunkan kebiasaan berdoa dalam keluarga, KBG, dan paroki secara rutin. Dari kebiasaan yang potif ini diharapkan anak-anak mempunyai potensi untuk beriman. Kebiasaan-kebiasaan positip yang perlu selalu dibangun dalam keluarga antara lain: doa bersama dalam keluarga (sebelum/setelah makan, tidur, doa pribadi dan doa pribadi, memimpin doa), belajar bekerjasama dalam keluarga, belajar jujur, sopan santun, keatif, belajar mengontrol emosi (kesabaran), membiasakan membaca Kitab Suci, anak dibiasakan memberi (kolekte), orangtua memberi teladan (di depan anak melakukan yang baik), kebiasaan memaafkan (mengalah), kebiasaan peduli pada kebersihan, kebiasaan merencanakan ekonomi, dll.

20160716_164051Selain beberapa pokok pikiran tadi, Bapak Fidelis yang sudah berpengalaman dalam dunia pendidikan, beliau pun membuka pikiran para fasilitator dengan mengungkapkan bahwa keluarga juga adalah ‘rahim sosial’ (bdk. Luk. 1: 39-58). Kunjungan Maria kepada Elisabet, ternyata tidak hanya mendapat respons oleh kedua orangtua, tetapi juga oleh kedua anak mereka yang masih dalam kandungan. Keduanya saling respons atas perjumpaan kedua orangtua mereka, sangat diyakini bahwa Maria dan Elisabet sudah membangun komunikasi sosial melalui rahim mereka. Dari pengalaman Maria dan Elisabet, kita menemukan bahwa ‘rahim’ adalah sekolah komunikasi yang pertama. Anak didalam kandungan mengalami pengalaman secara personal, dan ini merupakan wujud asali dan simbol dari semua bentuk komunikasi. Pengalaman komunikasi secara personal yang dialami didalam keluarga merupakan komunikasi dasar yang membentuk dasar kepribadian seseorang dan akan menjadi “karakter imannya” seumur hidupnya. Karena itu, membangun komunikasi adalah juga tugas fasilitator. Fasilitator melanjutkan komunikasi didalam KBG sebagai hasil dari komunikasi didalam keluarga.

Sedangkan Vikep Babel sekaligus pastor kepala Paroki Koba, RD. Stanis Bani dalam sessinya, menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah fasilitator pertama dan utama bagi kita. Karena itu, fasilitator perlu belajar banyak dari fasilitator pertama dan utama ini. Fasilitator KBG ialah orang yang sangat menentukan keberhasilan sebuah pertemuan rutin seperti pendalaman iman, sharing Injil, ibadat, dan lain-lain di dalam KBG.

IMG_0302Lebih lanjut, mantan pastor rekan di Paroki Tembesi ini, kembali menegaskan bahwa fasilitator sangat memerlukan pendampingan dari PIPA Paroki tentang pertama, Spiritualitas atau kehidupan rohani yang meliputi bagaimana fasilitator hidup dalam imannya akan Kristus?, bagaimana fasilitator tetap berkomitmen pada tugas dan imannya?, bagaimana fasilitator mengembangkan doa-doa pribadinya?, bagaimana fasilitator memurnikan motivasi untuk melayani dan memimpin?, bagaimana fasilitator mendewasakan iman dan mampu beralih dari religiusitas alami kepada Kristus?, dan bagaimana memadukan kebudayaan dan iman kristiani? Kedua, tentang psikologis atau perilaku, nilai dan kesadaran. Bagaimana fasilitator memiliki kesadaran akan tanggungjawab sosial?, bagaimana fasilitator membangun relasi dalam persekutuan dengan anggota KBG dan sesama fasilitator dan para imam?, bagaimana fasilitator memiliki kemampuan bekerja dalam tim?, bagaimana fasilitator membangun kemitraan dengan pemimpinan yang lain dengan anggota umat?, bagaimana fasilitator menyadarkan dirinya akan pelayanan bukan unjuk kekuatan?. Ketiga, Ketrampilan. Bagaimana fasilitator dilatih untuk mempermudah proses dialog didalam sebuah pertemuan rutin?, bagaimana fasilitator membangun sebuah persekutuan yang lebih besar?, bagaimana fasilitator membangunkan potensi dirinya untuk mengajak dan mempengaruhi anggota KBG?, bagaimana melatih fasilitator untuk mampu memimpin berbagai pertemuan didalam KBG?, bagaimana fasilitator mengatasi konflik baik internal KBG maupun lintas KBG?, dan bagaimana fasilitator trampil dalam komunikasi dengan anggota KBG atau dengan orang lain?. Keempat, Scientific atau pengetahuan, informasi dan wawasan. Bagaimana fasilitator dibina supaya dapat mengetahui tentang Kitab Suci, ajaran Gereja, dan tradisi-tradisi Gereja kita?, dan bagaimana fasilitator berkembang didalam pengetahuan umum seperti ilmu sosial, ekonomi, budaya, informatika, dan ilmu-ilmu lainnya?

Sessi terakhir dari pertemuan, staff Kevikepan Babel juga Komisi KBG, Ibu Shito Kadari mengajak peserta untuk mengadakan evaluasi dan sharing tentang ciri KBG dan pengembangan KBG seperti yang diharapkan Sinode II Keuskupan Pangkalpinang. Dari hasil sharing peserta dan masukan Bapak Fidelis Waruwu dan RD. Stanis Bani, vikep Babel, kita boleh mengambil simpul sementara bahwa Komunitas Basis Gerejawi (KBG) ialah wadah baru yang sedang membentuk ‘struktur hidup baru’ dalam Gereja dan masyarakat. Mengapa? Karena keluarga-keluarga yang merupakan sel terkecil dalam KBG sedang dalam proses perkembangan iman, membangun sebuah masyarakat dasar yang saling berbagi satu sama lain, bagaikan sebutir ragi yang merombak dari dalam. Jika KBG terus menerus melaksanakan aksi nyatanya setelah melaksanakan sharing injil atau pendalaman iman, bagaikan ‘kandang domba’ KBG akan menjadi ‘rumah kedua’ bagi setiap keluarga yang sedang mengalami ‘letih lesu’ dan ‘berbeban berat’ dan ‘rumah’ bagi ‘para peziarah’ yang sedang dalam perjalanan hidupnya. *** (Alfons Liwun)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *