Maria dalam Karya Keselamatan Allah

Pengantar.

Soteriology (ajaran keselamatan) St. Montfort tidak terlepas dari kisah kejatuhan manusia ke dalam dosa dan belas kasih Allah untuk menyelamatkan makhluk yang diciptakan-NYA dengan “sungguh amat baik” (Kej 1:31). Montfort menjelaskan sejarah keselamatan Allah dalam bukunya Cinta dari Kebijaksanaan Abadi.

  1. Manusia tidak pernah puas.

Setelah menciptakan langit dan bumi dan segala isinya, Allah menciptakan manusia. Allah memberikan segala yang telah dicptakannya kepada manusia untuk dikuasai: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kej. 1:28). Manusia hidup dalam kebebasan dan kelimpahan tanpa harus mengusahakan apa, mereka telanjang tetapi tidak merasa malu, karena mereka hidup bagaikan dalam rahim ibu. Ketika dalam rahim ibu, manusia itu telanjang, tetapi tidak merasa malu, manusia tidak perlu mengusahakan apa, karena segala yang diperlukannya secara langsung dan berlimpah dialirkan dari kehidupan sang ibu. Itulah suasana Firdaus, suasana Taman Eden, Allah memberikan segala yang diperlukan manusia tanpa harus bekerja.

Suatu kelemahan yang paling mendasar dalam hidup setiap manusia adalah tidak pernah puas. Manusia ingin mendapatkan lebih dan lebih banyak lagi. Manusia tidak puas dengan apa yang sudah ada, sehingga melupakan kepentingan orang lain bahkan melupakan larangan Tuhan. Pelaku korupsi terbesar adalah orang-orang kaya dan pejabat tinggi. Orang yang dinilai serakah adalah orang-orang kaya yang sudah memiliki segala-galanya secara berkelebihan dan berkelimpahan, tetapi tidak pernah berhenti untuk berekspansi, bahkan lahan untuk orang kecil pun diserobot. Demikian juga dengan Adam dan hawa, manusia yang hidup di Taman Firdaus. Kemewahan dan keistimewaan hidup di Taman Eden rupanya tidak membuat manusia itu puas. Manusia ingin mendapatkan segalanya, dan menjadi segala-galanya, termasuk ingin menjadi sama seperti Allah.

Allah telah memberikan segala-galanya kepada manusia di Taman Eden, tetapi hanya satu yang tidak boleh, yaitu memetik buah dari pohon kehidupan. Namun manusia tetap tergoda untuk melawannya. Terlebih lagi setelah mendapat tipuan dari setan “bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat” (Kej 3:5). Keinginan untuk menjadi dan mendapatkan segala-galanya itu mengakibatkan manusia kehilangan segala-galanya. Manusia diusir dari Taman Eden dan dibuang ke “taman edan”. Penderitaan manusia itu pun diperparah karena taman baru yang dimasukinya itu merupakan tanah yang terkutuk. “terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu” (Kej 3: 17-19).

  1. Keprihatinan Allah terhadap Nasib Manusia.

Sejak diusir dari Taman Eden, kehidupan manusia diwarnai dengan perjuangan, penderitaan, perselisihan, dan perpecahan. Dengan kata lain, manusia hidup dalam kekuasaan dosa dan setan karena hubungannya dengan Allah sudah rusak (putus). Dalam kerahiman-NYA, Allah tidak tega membiarkan manusia hidup menderita. Montfort menulis:

“Kebijaksanaan Abadi merasa sangat iba oleh kemalangan Adam dan seluruh keturunannya. Dengan kesedihan yang besar Dia melihat bagaimana  wadah-Nya yang mulia terpecah belah, bagaimana gambar yang serupa dengan-Nya terkoyak, bagaimana karya-Nya yang ulung hancur lebur, dan wakil-Nya di dunia digulingkan” (CKA no. 41).

Allah berkeinginan untuk menyelamatkan bangsa manusia, namun bagaimana caranya? Allah melihat bahwa tidak ada sesuatu pun dalam semesta alam yang dapat menebus dosa manusia, tak ada kekuatan yang mampu melawan kekuatan setan (bdk. CKA no. 45). Namun Allah, dalam kerahimannya, rindu meyelamatkan manusia yang celaka itu, karena dia mencintainya dengan begitu mesra. Maka Dia menemukan suatu sarana yang ampuh. Allah Tritunggal mengadakan pertemuan dan memutuskan untuk mengutus Pribadi Kedua ke dunia. Dia akan menjadi manusia untuk memulihkan kondisi manusia yang sudah malang itu. Dan ketika waktunya telah tiba bagi penyelamatan umat manusia, dia membangun bagi-Nya suatu kediaman yang pantas di dalam rahim Santa Anna (bdk. CKA 105).

Dengan demikian, menurut Montfort, kehamilan St Anna merupakan rencana Allah. Allah dengan sengaja membentuk Maria dalam rahim St. Anna tanpa cacat cela. Uraian St. Montfort kiranya mengatasi kebingunan seputar penjelasan tentang Dogma Maria Dikandung Tanpa Noda (8 Desember 1854). Penjelasan-penjelasan tentang Immaculate Conception (dikandung tanpa noda) sering dikacaukan dengan Virginal Conception (mengadung sebagai perawan). Virginal Conception mengacu kepada ajaran kitab suci yang mengatakan bahwa Maria mengandung Yesus walaupun dia dalam keadaan tetap perawan. Dan Gereja Katolik (Konsili Lateran th 649) mengajarkan bahwa Maria itu tetap seorang perawan ante partum, in partu, dan post partum (sebelum, ketika, dan setelah melahirkan Yesus). Sedangkan Immaculate Conception mengacu kepada kehamilan St. Anna. Menurut teologi traditional, akibat dosa Adam dan Hawa setiap manusia sudah terjangkit dosa asal sejak dalam kandungan ibunya. Tetapi Maria sama sekali tidak ketularan dosa asal itu sejak dalam kandungan ibunya, karena Allah sendirilah yang secara khusus membentuk Maria dalam rahim Santa Anna. Saya sering membaca tulisan atau mendengar kotbah-kotbah seputar Hari Raya yang mencampur-adukkan Immaculate Conceptiondan Virginal Conception.

Pemilihan Bunda Maria merupakan keputusan Dewan Ilahi (hasil rapat Allah Tritunggal). Dalam buku Bakti Sejati, Montfort menjelaskan bahwa bertahun-tahun sebelum peristiwa inkarnasi, para kudus dan para nabi telah berdoa dan berkeluh kesah mohon kedatangan sang juru selamat, namun segala usaha mereka sia-sia sampai akhirnya Allah memilih Bunda Maria.

“Allah Putera menjadi manusia demi keselamatan kita hanya dalam dan melalui Maria. Para bapa bangsa telah memohon harta ini, para nabi dan para kudus Perjanjian Lama telah berdoa 4000 tahun lamanya untuk mendapatkannya. Tetapi hanya Maria yang memperolehnya dan mendapat kemurahan di mata Allah berkat kekuatan doanya dan keutamannya yang luhur” (BS no. 16).

Tawaran Allah diterima Maria. Keputusan diambil dan ditetapkan bahwa Kbijaksanaan Abadi atau Putera Allah akan menjadi manusia pada saat yang tepat dan dalam keadaan tertentu (CKA 46). Atau menurut St. Paulus, “Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat” (Gal 4:4).

  1. Maria Bunda Kristus dan Bunda Gereja.

Jawaban Maria kepada malaikat Gabriel: “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataann-Mu,” (Luk 1:38), menjadi awal dari kehadiran Allah yang menjelma menjadi manusia. Maria telah menyatakan “ya” dalam peristiwa anunsiasi dan tetap mengatakan “ya” untuk bersama dengan Puteranya menjalankan karya penyelamatan dunia. Menurut Montfort, kalau Yesus adalah kepala dan umat Kristiani adalah anggota-anggota-Nya, maka Maria tidak hanya melahirkan kepala tetapi juga anggota-anggotanya. Dengan kata lain, setiap orang kristiani, melalui pembaptisannya dilahirkan kembali melalui rahim Maria yang tak bercela. Oleh sebab itu, penyerahan Yohanes kepada Maria dan sebaliknya di Golgota, merupakan lambang penyerahan seluruh Gereja kepada keibuan Maria.

Dalam hal “kelahiran” Gereja, Montfort mempunyai pandangan yang agak berbeda atau, kalau boleh dikatakan, lebih mendalam tentang kelahiran Gereja. Kalau kita perhatikan dengan baik, bacaan Injil dalam peringatan Maria Bunda Gereja selalu diambil dari Yoh 19 26-27, ketika Yesus mengatakan “Inilah anakmu”, dan ‘Inilah ibumu”. Gereja menafsirkan bahwa penyerahan Yohanes kepada Maria melambangkan penyerahan seluruh Gereja. Yohanes mewakili seluruh Gereja untuk mengambil Maria sebagai ibunya. Sehingga peristiwa di kali salib merupakan hari kelahiran Gereja. Namun Montfort mempunyai pandangan yang lebih jauh. Montfort sependapat dengan pandangan umum bahwa Kristus merupakan kepala Gereja. Tetapi hari kelahiran Gereja, bagi Montfort,  sudah terjadi saat inkarnasi, yaitu saat Putera Allah diserahkan kepada Maria untuk dikandung, dilahirkan, dan dipelihara. Karena menurut Montfort, Maria tidak mungkin hanya melahirkan kepala tanpa anggota.

Dengan melihat peran penting Bunda Maria dalam karya keselamatan dan perannya sebagai Bunda yang dipercayakan Allah untuk mengayomi umat pilihan-Nya (anggota Gereja), maka pantaslah kalau kita menjadi anak yang berbakti kepada Bunda Maria. Dalam buku BAKTI SEJATI Kepada Santa Perawan Maria dan buku Rahasia Maria, St. Louis-Marie de Montfort menjelaskan pentingnya berbakti kepada Bunda Maria dan bentuk kebaktian yang benar.

(Sumber: bahan Retret Legio Maria Kuria Batam, by : RP. Kasimirus Jumat, SMM)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *