Mencapai Kebahagiaan Tertinggi: Selamat Jalan Adik Erwin

Kebahagiaan tertinggi dalam kehidupan adalah kepastian bahwa Anda dicintai apa adanya, atau lebih tepatnya dicintai walaupun Anda seperti diri Anda adanya (Victor Hugo)

BerkatNews.com-Bengkong. Salah satu quote (di atas) terkenal penyair, dramawan, novelis, esais, seniman visual, negarawan, sekaligus aktivis hak asasi manusia Perancis itu kiranya tepat untuk menggambarkan seorang pribadi Apa Adanya, remaja yang tengah tumbuh, Marcelinus Erwin Ardhyanto. Misdinar ini tak ubahnya remaja lain seusianya meskipun ia cenderung pendiam dan berpenampilan cool.

erwin1
Marcelinus Erwin Ardhyanto

Erwin,  nama panggilan remaja hitam manis dan jangkung itu, adalah putra kedua keluarga Bapak Antonius Rohadi Kurnianto dan Ibu Lusiana Rustiah. Anak kedua dari tiga bersaudara (kakak dan adiknya perempuan) itu aktif dalam pelayanan di Gereja Santo Damian, Bengkong, Batam, sebagai misdinar. Aktivitas di altar sebagai pelayan imam ditekuninya sejak SD. Dari misa Sabtu/Minggu biasa hingga perayaan-perayaan besar seperti Pekan Suci dan Natal, dia sering terlibat.

Menjadi salah satu dari 160-an misdinar Santo Damian dan hampir selalu ikut di setiap pertemuan dan kegiatannya menjadikannya sering berada di Gereja. Baginya, Gereja telah menjadi rumah kedua. Tak jarang dari pagi hingga malam di hari Minggu, ia bersama teman-temannya ada di gereja. Maka mudah saja jika ada yang mencarinya. Memutari gereja, pasti Erwin ditemukan.

“Saat-saat tidak ada kegiatan pun mereka ngumpul di gereja. Kadang nongkrong di dekat sekretariat, kadang di ruang Legio Mariae, kadang main futsal di depan Gua Maria, atau sekadar ngobrol di dekat pos satpam,”kata Savitri Noviena, salah satu pendamping misdinar.

Banyak yang bisa mereka mainkan di gereja. Unik dan kreatif justru karena sarana bermainnya terbatas. Bermain futsal di jalanan samping gereja dengan pembatas gawang dari sandal, memasukkan teman di tong sampah kosong dan kering lalu diseret mengelilingi gereja, atau berkumpul dan bernyanyi ‘ngamen’ cari tambahan dana agar program kerja mereka dapat terlaksana. Syukurlah keriuhan mereka dimaklumi para pastor. Semoga justru senang karena tanda bahwa mereka betah di gereja. Kalau gereja sudah menjadi rumah bagi mereka tentu setidaknya berarti mereka senang berada di sana. Jika mereka telah senang berada dan berkegiatan di gereja maka hidup menggereja mudah dihidupi.

Hari-hari Erwin menjadi lebih berat daripada teman-temannya ketika Desember 2016 Erwin didiagnosis menderita kanker hati. Berawal dari mual dan muntah, sulit makan dan lemas saat pulang kampung bersama keluarga di Semarang, berat badannya mulai menyusut. Berita tentang penyakitnya menjadikan keluarga sangat terpukul. Mereka mengusahakan bermacam-macam cara agar penyakit itu enyah dari tubuh Erwin. Setiba di Batam, keluarga memutuskan pengobatan dilanjutkan di Batam dan Malaka.

Bukan mudah membuat Erwin minum obat yang diterimanya dari Malaka.

“Jika suasana hatinya kurang nyaman atau   ada yang memburu-burunya, pasti obat sulit ditelan. Butiran-butiran besar itu tidak boleh digerus, kata dokter. Harus utuh ditelan sehingga pecah di dalam tubuh. Jika makan pagi terlambat selesainya, obat yang harus dimakan sesudah sarapan pun menjadi tidak tepat lagi waktu mengonsumsinya. Semua jadwal menjadi berubah,” kata ayahnya.

Karena kondisinya, Erwin tidak lagi sekolah. Orangtuanya berharap Erwin bisa lebih konsentrasi berobat dan memulihkan diri. Sejak tidak lagi sekolah, teman-temannya banyak yang datang mengunjunginya. Siswa kelas X IPS 2 SMUK Yos Sudarso, Batam itu ceria ketika teman-temannya datang mengunjunginya. Teman-teman misdinar pun terus-menerus datang menyemangatinya agar semangat dalam proses pengobatan.

Perayaan Ekaristi diadakan di Kapela Santo Damian dengan intensi khusus demi kesembuhan Erwin. Rencana semula hanya pendamping misdinar ternyata berita terlanjur meluas. Orangtua dan teman-teman misdinarnya turut serta mendoakan kesembuhan Erwin. Dalam kepedihan dan keprihatinan mendalam, mereka memohon belas kasih Allah bagi kesembuhan Erwin.

“Dia selalu rindu untuk menerima komuni. Di hari Minggu dia memaksa kami mengajaknya ke gereja agar dia bisa menerima Tubuh Kristus dalam rupa Hosti Suci,” kata Pak Kurnianto, ayahnya.

Hari Jumat, 24 Februari dia dibawa ke RS Elisabeth. Rumah sakit itu yang dipilihnya karena di sana ia bisa mendapat layanan rohani yang selalu dirindukannya. Siang itu Erwin dirawat inap. Badannya menguning. Wajahnya pucat. Tubuhnya makin layu. Sekantong darah ditransfusikan ke tubuhnya. Tangan kurusnya ditusuk jarum transfusi.

Banyak kenalan dan teman yang datang menjenguk. Selalu ada orang yang menemani dan menghibur dia. Mereka datang menyemangati dan mendoakan.

“Win……tanya. Apakah Erwin mengeluh pada Tuhan karena Erwin sakit seperti ini?”tanya seorang ibu dari KBG Santa Yutta, wilayah Santa Maria.

Dia menggeleng.

“Sungguh?” tanyanya mengulang.

“Iya, Bu,”jawabnya lemah sambil berusaha tersenyum.

“Kenapa?” tanya ibu itu lebih lanjut.

“Kan saya sudah sering terima yang baik-baik dari Yesus. Masa saya tidak mau menerima rasa sakit?”jawabnya tenang.

Erwin merasa sejak kecil dia sangat sering bahagia, menerima banyak hadiah, tertawa-tawa bersama teman dan keluarga. Dia merasa Tuhan sangat baik padanya. Hal-hal baik yang pernah diterimanya dari Tuhan lewat keluarga, guru, dan teman sungguh membuatnya bahagia. Kebahagiaan itu tidak tergerus saat dia menderita sakit berat ini. Ia ikhlas. Bahkan ia mampu bersyukur karena boleh merasakan sedikit penderitaan Tuhan Yesus di kayu salib.

“Semoga dosa saya terampuni, ya Bu, lewat sakit ini,”lanjutnya sambil duduk karena pegal berlama-lama baring.

Erwin tidak pernah mengeluhkan sakitnya. Ia meyakini, inilah salah satu jalan silih. Dia tidak pernah mengaduh dan mengerang. Ia hanya mengeluh pegal punggung dan bahunya sesekali. Maka tiap kali, ada pijitan-pijitan yang menenangkannya dari orang-orang yang berkasih padanya. Itu pun tidak lama karena Erwin mengatakan cukup dan terima kasih.

Teman-teman misdinarnya, kakak-kakak pendamping, juga Ibu Theresia Dana Hutami, pembimbing misdinar Santo Damian selalu berada di samping Erwin. Mereka bergantian menjenguk di ruangannya di lantai 3 itu dan yang lain tetap berjaga di teras. Sampai jauh malam, selalu ada yang datang mendoakan dan meneguhkan Erwin dan keluarganya.

Tengah malam, ia merasa badannya panas dan sesak untuk bernapas. Sabtu dini hari, 25 Februari 2017 pukul 02.30 Erwin diantar para malaikat pulang ke rumah Bapa dalam damai. Ia pergi tepat saat ayahnya menyelesaikan Novena Tiga Salam Maria yang ketiga dan kantong darah yang ditransfusikan pada Erwin, habis. Berita mengejutkan itu benar-benar memecah kesunyian pagi. Tangisan pilu dan sedih dari teman dan keluarga mengiringi tubuh yang makin lama menjadi dingin dan kaku itu. Seolah mereka tak rela ditinggalkan oleh teman, anak, keponakan, dan sahabat yang mereka kasihi. Rasanya belum cukup waktu untuk bersama-sama dengan Erwin. Hati ini patah dan lunglai. Kadang, sebersit rasa menggugat Tuhan atas panggilannya yang begitu segera. Sungguh, rasa yang teramat manusiawi bagi yang selama ini dekat dan berada di sekitar kehidupan Erwin.

“Ada sedikit rasa sesal dalam hati. Saya tidak jadi menengoknya di rumah sakit pada hari Jumat malam. Saya merasa sudah cukup banyak orang yang datang mengunjunginya sehingga saya khawatir Erwin justru kurang waktu untuk istirahat. Ternyata, itulah malam terakhir Erwin,”kata RP Sergius Rusdi Santosa, SS.CC, pastor pendamping Misdinar Santo Damian.

16999151_1437941116238704_1080706107372128219_nWajar bila Pastor Rusdi juga merasa kehilangan Erwin. Meskipun baru beberapa bulan menjadi pastor pendamping misdinar, Pastor Rusdi yang dikenal dengat dengan anak-anak dan remaja itu sering datang berkunjung ke rumah keluarga Erwin. Mengajak ngobrol dan bercanda, memberikan Komuni Kudus, juga memberikan Sakramen Perminyakan.

Misa Requiem dilaksanakan di rumah duka di Aku Tahu I blok G nomor 9 SungaiPanas pada hari Sabtu, 25 Februari 2017. Sebanyak 250-an umat hadir dalam Perayaan Ekaristi itu. Dalam rumah, teras, dan jalanan penuh orang. Kendaraan yang diparkir memenuhi jalanan hingga di SMPN 10. Demikian juga saat pelepasan jenazah pada hari Minggu, 26 Februari 2017 di Gereja Santo Damian, Bengkong. Gereja penuh orang, juga di balkon. Hingga di pemakaman Sei Temiang, ratusan orang masih menyertai. Teman-teman misdinarnya berangkulan dan bernyanyi ‘Semua karena Cinta’ di seputar gundukan baru itu. Sungguh, bukti nyata kecintaan kerabat dan teman pada Erwin.

16997788_1479681718733086_5193810258901009659_nKepergiannya membuatnya tidak jadi bertugas misdinar di Hari Raya Jumat Agung. Di masa sakitnya, ia selalu mendambakan bertugas melayani imam dalam Misa Jumat Agung dan berkesempatan membawa salib paling besar. Teman-temannya menyemangati agar cepat sembuh sehingga kuat mengangkat salib besar yang selubung ungunya dibuka oleh imam sambil menyanyikan: Lihatlah kayu salib…di sini…bergantung Kristus….penyelamat dunia.

“Padahal kami sudah bikin skenario. Kalau Erwin pulih dan bisa membawa salib paling besar dalam Misa Jumat Agung, kami sudah menyiapkan stuntman (pemeran pengganti) agar Erwin tidak terlalu capek. Ternyata Tuhan lebih dulu memanggilnya pulang,”ungkap Ibu Dana dengan sedih.

Remaja yang hari-harinya disibukkan oleh banyak kegiatan: sekolah, ekstrakurikuler, futsal, paskibra, Tae Kwon Do, Marching Band (ia dipercaya memainkan bass drum) , anggota Dewan Ambalan Pramuka, dan tentu saja misdinar itu, menjadikannya memiliki banyak teman. Pada umumnya mereka mengatakan Erwin agak pemalu tapi ramah. Namun, sesekali keluar juga isengnya.

“Suatu kali Erwin bersama kedua teman di kelasnya, Fredo dan Rivaldi, bermain-main di jam istirahat. Mereka bertiga bermain pedang-pedangan dengan sapu dan pengki kelas. Entah mereka apakan hingga ada gagang sapu yang patah. Ada anak yang melapor pada saya. Saya datangi kelasnya. Saya tanya, siapa yang memainkan sapu sampai patah begini? Fredo dan Rivaldi angkat tangan sedang Erwin senyum dan melirik keduanya. Kamu juga ya Win? Erwin mengangguk. Kalian ini seperti anak SMP saja. Memangnya tidak ada permainan lain?” cerita Miss Elisabeth, wali kelasnya di X IPS 2.

“Saat ia memilih bergabung dalam tim paskibra sekolah, saya bertanya padanya. Win, apa kamu tidak kecapekan? Badanmu makin kurus pula ntar,” canda Miss Elisabeth.

Kenangannya pada Erwin cukup membekas hatinya. Menurutnya, Erwin ramah. Dia selalu lebih dahulu menyapa ketika berjumpa. Prestasi belajarnya juga sedang, tidak menonjol tetapi bisa mengikuti pelajaran. Hanya di rapor semester gasal lalu satu mata pelajaran tidak tuntas, yaitu pelajaran yang diampu Bu Dwiki: Bahasa Indonesia. Rerata kelas 76 tetapi Erwin hanya mendapat 68. Maka rapor yang diterimanya baru rapor putih. Nanti sesudah remedial dan tuntas barulah dicetakkan untuknya rapor warna kuning. Tetapi belum sempat memperbaiki, Erwin terlanjur sakit.

Erwin adalah anak yang mengerti dan mau memahami keadaan keluarga. Setiap akan berobat, ia bertanya pada bapaknya,”Tapi mahal nggak, Pak, biayanya?” Erwin tidak ingin membebani keluarganya. Berkait dengan makan, misalnya, jika di meja makan tertinggal satu lauk saja, ia pasti ingat bapaknya. Maka seekor lele goreng itu cuma ia ambil bagian ekornya saja sedangkan bagian yang lebih besar disisihkannya untuk bapak.

erwin2Bersama teman misdinar sebayanya, ia dijuluki Sengklek Bersatu. Sebuah julukan yang mencerminkan kedekatan, keakraban, dan soliditas antaranggota misdinar. Bersama kesembilan kawannya ia selalu bertanggung jawab dalam setiap tugas yang diemban. Ia tidak pernah pulang jika tugasnya belum selesai. Setelah benar-benar tuntas, tempat acara juga kembali bersih, barulah ia lega pulang ke rumah. Ke mana-mana, mereka selalu bersama. Dengan beberapa motor mereka berboncengan, saling menjemput dan mengantar, pergi  latihan dan pertemuan, tugas misdinar, juga sekadar menghabiskan hari Minggu dengan makan di warung atau bermain di warnet.

Kakak-kakak misdinar yang lebih senior mengenangnya sebagai remaja yang bisa menengahi permasalahan. Misalnya saat penerimaan Sakramen Krisma tahun lalu. Direncanakan para misdinar yang akan menerima Sakramen Krisma bertugas dalam pelayanan. Mereka telah bersiap dan senang. Ternyata, informasi yang datang belakangan mengatakan bahwa misdinar yang menerima Sakramen Krisma tidak boleh bertugas. Alasannya agar mereka lebih fokus dalam ritus penerimaan Sakramen Krisma. Hal ini menjadikan mereka agak gaduh. Mereka telah kehilangan tempat duduk di bangku umat karena semula direncanakan bertugas misdinar. Sementara teman-temannya mengeluh dan mengomel, dengan tenang, Erwin menjelaskan duduk perkaranya kepada ibu pendamping. Ketenangannya dalam menghadapi masalah berbuah keputusan yang baik. Mereka duduk sebagai calon penerima Sakramen Krisma dan tetap mendapat tempat duduk di bangku umat.

Erwin menikmati hari-harinya selama hidup. Ia lebih sering merasakan kegembiraan dan sukacita. Ia berada di tengah keluarga yang baik, di antara teman-teman yang baik, di sekitar orang-orang dan lingkungan yang baik. Ia bahagia dalam hidupnya. Kebahagiaan itu menjadi tinggi dan tertinggi di dunianya karena ia dicintai dan mencintai apa adanya. Tidak ada kepalsuan. Tidak ada kepura-puraan.

Kebahagiaan tertinggi telah dicapai berkat kesederhanaan dan kepolosan. Menikmati hidup dan kehidupan seperti apa adanya, penuh syukur atas berkat Tuhan yang setiap hari dirasakan, dan selalu setia dalam iman dan pelayanan kepada Tuhan adalah garam dan terang yang sesungguhnya. Orang lain mendapatkan kebahagiaan yang sama besar ketika bersua dengan pribadi yang demikian.

Kesahajaan hidup, keramahan, kepedulian, semangat melayani, ketekunan, dan kesetiaan memanggul salib kehidupan yang ditunjukkan remaja kelahiran Batam, 4 Juni 2001 itu semoga menjadi teladan bagi remaja-remaja lain yang juga disibukkan dengan berbagai kegiatan sekolah dan gereja, belajar, berdoa, dan bermain.***


BerkatNews.com menghaturkan terimakasih kepada Kakak Lidwina Ika yang telah menarasikan kesaksian hidup adik kita Erwin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *