NATAL OIKUMENE KOTA BATAM

     Ribuan umat Kristiani yang terdiri dari seluruh denominasi gereja dan lembaga gereja se Kota Batam merayakan Natal Bersama dalam nuansa Oikumene. Perayaan Natal yang mengusung tema: HARI INI TELAH LAHIR BAGIMU JURUSELAMAT, YAITU KRISTUS, TUHAN DI KOTA DAUD (Luk 2:11) ini berlangsung meriah.

     Turut mengambil bagian dalam perayaan Natal ini adalah umat Kristiani se-Kota Batam. Perayaan Natal tersebut dimulai sejak pukul 17.00 WIB, dan berlangsung di Sport Hall Tumenggung Abdul Jamal, Selasa (27/12/2016).

     Pada Perayaan Natal Oikumene 2016 ini, Gereja Katolik didaulatkan oleh panitia untuk membawakan renungan Natal, yang dibawakan oleh RD.Laurensius Dihe Sanga.,S.Ag., M.Hum, salah seorang Imam Diosesan Pangkalpinang, yang saat ini bertugas sebagai rekan imam di Paroki Maria Bunda Pembantu Abadi-Sagulung Kota Batam.

     Berikut kontributor BerkatNesw.com melampirkan renungan Natal secara lengkap yang dibawakan oleh RD.Lorens Sanga dalam homilinya saat itu.

HARI INI TELAH LAHIR BAGIMU JURUSELAMAT,
YAITU KRISTUS, TUHAN DI KOTA DAUD. JANGAN TAKUT
(Luk 2:11)

     Peristiwa Dies Natalis Jesu Christi (Natal) merupakan sebuah momentum favorable. Favorabilitas ini menjadikan Natal sebagai sebuah cultur mondial. Nyatanya Natal menjadi sebuah moment yang sungguh dipersiapkan, dirancang, dan disongsong penuh suka cita. Di sinilah rasa kegembiraan meluap dan kebahagiaan melampaui segala yang lain. Bahkan Nabi Yesaya dengan sarkatis mengatakan batu-batu pun turut bergembira merayakan sukacita Natal (Yes 9:1-6)

      Kegembiraan Natal menstimulir umat Kristiani untuk menyingkapkan segala duka-lara, cemas-gelisah, susah-sengsara, naif primordial sempit, pertengkaran dan permusuhan. Sebab iman akan misteri Allah dalam peristiwa inkarnasi dijadikan sebagai tonggak kelahiran keselamatan bagi umat manusia. Inilah pokok paradigma iman akan peristiwa Natal. Dia adalah Putera Allah menjelma dalam rupa daging manusia (Yoh 1:1-8). Oleh karena itu, Allah tampak sepertinya ‘gila’. Ia memilih mengubah tempat tinggalnya dari semerbak surgawi, untuk mengalami kebusukan dan kepengaban dunia. Allah memilih mengubah situasi hidupnya dari kebahagiaan kekal untuk merasakan kegetiran dan penderitaan fana. Sungguh Allah hadir sebagai penetral suasana, pepulih dosa manusia, penegak kebenaran dan keadilan. Hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan di kota Daud.

     Misteri Natal memiliki dasar pemahaman teologis yang sungguh intens, sehingga dikategorikan ke dalam gradasi salvatis (tingkat penyelamatan). Akhirnya Natal yang selalu berbicara tentang sacramentum nativitas Christi (misteri kelahiran Kristus), hendak menunjukkan nilai yang menyelamatkan dari peristiwa kelahiran tersebut. Konsekwensinya adalah setiap orang diajak untuk menghayati Natal tidak sekedar sebagai fakta the last time, melainkan Natal harus terus-menerus menjadi novum dan berdaya guna bagi realitas kehidupan social hic et nunc. Ia datang penuh pesona cinta mentransformasi duniawi menjadi surgawi, manusiawi menjadi ilahi. Ia transenden sekaligus immanen. Ia tremendum sekaligus fascinosum. Dari sanalah Allah memilih gaya blusukan untuk mengubah situasi hidupnya dari kebahagiaan kekal untuk merasakan kegetiran dan penderitaan fana. Sungguh Allah hadir sebagai penetral suasana, pepulih dosa manusia, penegak kebenaran dan keadilan, bertindak secara jujur dan benar.

     Damai, ketaatan, kesatuan dan keselamatan adalah perwujudan misi Allah yang membingkai dalam sentuhan-sentuhan dari harmoni yang manis dalam pribadi seseorang. Di sini manusia dimungkinkan kembali untuk mengalami kegembiraan, kedamaian, dan keselamatan karena Allah sendiri sudah membuka kembali keran rahmat surgawi. Allah sudah menyediakan akses langsung ke kerahimanNya, dan manusia yang sudah menampung aliran rahmat dari keran surgawi itu, manusia yang sudah mem-browser situs kerahiman Allah, menjadi global dalam kebaikan, mampu menjadi manusia penegak kebenaran dan kejujuran, manusia pembawa keselamatan bagi sesama.

     Kita semua berbahagia dan selamat di sekitar Yesus, karena hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, Yakni Kristus Tuhan di kota Daud, di kota Batam, di kota setiap Gereja, di kota keluarga, di kota hatimu. Diberbagai tempat ini, Yesus lahir dan Ia pasti menemukan situasi yang berbeda-beda. Dalam situasi penuh ketakutan dan kecemasan, bangkitlah dan jangan takut, sebagaimana Ia meneguhkan hati para gembala, bahwa “Jangan takut, sesungguhnya hari ini telah lahir bagimu Sang Juru Selamat”.

     Kelahiran Yesus Kristus merintis suatu amanah profetis bagi-Nya dan kita sebagai pengikut-Nya pun harus melanjutkan amanah profetis tersebut. Kelahiran Kristus adalah merupakan suatu peristiwa inkarnasi, di mana Allah hadir-masuk ke dalam relung diri manusia dan siap melebur menjadi manusia. Tujuannya apa? Supaya manusia yang bergelimang dalam lumpur dosa dibersihkan dan disucikan demi keselamatan diri dan banyak orang. Dan setelah mengalami jamahan kasih keselamatan dari Allah, setiap manusia harus mampu mengadakan KENOSIS (pengosongan) diri, supaya Allah sungguh-sungguh merasuki dirimu dan menuntun engkau di jalan yang lurus dan benar.

     Anda tidak sendirian, karena Dia adalah Emanuel: Allah beserta kita. Dia hadir dalam momet inkarnasi menuju momentum kenosis. Dari Betlehem, Dia setia datang mengunjungi Anda dan keluarga, lingkungan kerja Anda. Jangan takut karena hari ini telah lahir Juru Selamat bagimu.

     Itu sebabnya dalam peristiwa Natal, rahmat Allah justru dinyatakan kepada orang yang berkenan kepadaNya yaitu para gembala di padang Efrata. Para gembala mendengar nyanyian para malaikat memuji Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya” (Luk. 2:11). Kidung Gloria in excelsis Deo et in Terra Pax Hominibus adalah ungkapan sukacita di tengah batin dilanda kekalutan dan kesunyian serta ketakutan.

     Allah hadir melalui Yesus untuk menyelamatkan manusia. Allah mau men-transformasi-kan (merubah bentuk) hidup manusia dari ‘kekalutan’ menuju ‘keselamatan’, dari egoistis menuju comuniostis. Yesus sewajarnya disebut “Immanuel”: Allah beserta kita. Dalam diri Yesus, Allah menyatakan diri. Atau dengan rumusan Rasul Paulus: “Allah mendamaikan-menyelamatkan dunia dengan diri-Nya dalam Kristus (2 Kor 5:19). Allah menyelamatkan manusia dengan diri-Nya, dan karya keselamatan itu terlaksana dalam Kristus, sang Cinta.

     Demi keagungan cinta itu, Allah memilih untuk mengalami penderitaan; Ia memilih untuk mengalami bagaimana ditolak, Ia memilih bagaimana merasakan kemiskinan. Demi keagungan cinta-Nya itu, Allah memilih berkenosis, mengosongkan diri agar manusia terisi oleh daya Ilahi-Nya. Demi keagungan cinta-Nya itu, Allah rela menjadikan palungan ternak dan kandang sebagai pintu masuk kehadiran-Nya, karena manusia milik kepunyaan-Nya tidak mau mengenal dan menerima Dia. Itulah sebabnya, saat manusia menolak kehadiran-Nya, Ia justru mengambil wajah manusia sendiri; sebuah wajah yang rusak yang harus Ia perbaiki.

     Oleh karena momentum inkarnasi adalah Allah berubah supaya manusia berubah, maka Natal memberi pesan bahwa kelahiraan Tuhan bukan untuk Allah, agar manusia kembali menjadi ciptaan baru, untuk menghadirkan wajah-Nya selama berziarah di dunia sebagai kaum musafir. Dan inilah pesan terpenting untuk setiap insan di nusantara ini, bahwa pengalaman ditolak bukanlah sebuah pengalaman yang baru dalam sejarah kristiani. Pengalaman dibenci dan dicaci bukanlah sebuah pengalaman yang baru tumbuh kemarin. Pengalaman diusir bukanlah pengalaman pahit yang dirasakan hari ini di nusantara ini. Sebab pengalaman pahit ini adalah sebuah sejarah kelam kedatangan Tuhan, yang akan terusir dalam derap ziarah. Namun tidak usah takut, sebab hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yang akan berada di pihakmu karena Dia sendiri pernah mengalaminya.
Oleh karena itu sebagai pengikut Kristus, hendaknya seperti Kristus, di mana pengalaman ditolak harus merupakan moment untuk menerima mereka yang menolak; pengalaman dibenci harus merupakan moment untuk merajut cinta; pengalaman diusir harus merupakan moment kesaksian bahwa semua agama, yang dibangun oleh Allah hanya untuk satu tujuan supaya yang disurga terjadi di dunia.

     Semuanya telah dibangun oleh sang cinta yang terlahir di Betlehem-kota Daud. Hanya dalam kuasa cinta yang terlahir di padang efrata, anda dan saya diutus untuk meretasnya di bumi nusantara supaya dari Sabang sampai Merauke menjadi padang hijau nan menawan, tempat serigala dan domba bisa makan rumput bersama, tempat serigala dan kambing bisa bermain bersama, kata nabi Yesaya.
Keteladanan Yesus yang secara konsisten melawan ketidakadilan, penindasan, dan kemunafikan melalui cinta kasih ini amat relevan, baik bagi umat Kristen maupun orang-orang yang tidak beriman pada Yesus. Yesus Kristus pada masa hidupnya tidak terobsesi mencari pengikut sebanyak-banyaknya, tetapi yang utama adalah menghendaki manusia bertobat dan kembali ke jalan cinta kasih.

     Mencintai Tuhan dengan segenap hati, dengan segenap akal budi, dengan segenap jiwa dan kekuatan, serta mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri adalah hukum paling universal dan nilai paling hakiki dalam kehidupan yang menjadi inti ajaran Kristiani. Kelahiran Tuhan Yesus di bumi memberikan suatu pengharapan baru bagi manusia yang hidup dalam perbudakan dan dijajah oleh dosa dan kematian (Matius 4:16 — “Bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat terang yang besar bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit terang”). Oleh karena itu jangan takut. Ketakutan telah membunuh lebih banyak manusia dibanding dengan yang lainnya. Tetapi Yesus datang memberi pengharapan. Harapan untuk hidup di masa depan, serta harapan untuk berhasil (Yesaya 60:1 — “Bangkitlah menjadi teranglah, sebab terangmu sudah datang dan kemuliaan Tuhan terbit atasmu”). Umat Tuhan bangkitlah! Biarlah terangmu memancar atasmu dan kemuliaan Tuhan bersinar lewat hidupmu, karena terang itu sudah lahir di bumi, di hati, di Gereja, di setiap orang yang membuka hati untuk-Nya.

     Dengan kelahiran Yesus ke dunia sebagai wujud kasih dari Allah, maka manusia pun lahir kembali dan dipulihkan martabatnya. Allah menjadi begitu dekat dengan manusia; Allah yang duluh transenden (jauh) menjadi imanen (dekat) dalam diri Yesus, dan ketakutan yang dahulu dialami oleh Adam dan Hawa sekarang digantikan dengan kegembiraan karena Emmanuel: Allah sudah beserta kita lagi.

     Sebagai warga Negara 100%, sekaligus warga Kristiani 100%, kita harus membangun perdamaian dalam perspektif biblis, yakni sebagai sebuah anugerah terbaik sang Mesias, yang dibawa oleh Yesus Kristus. Suatu rekonsiliasi dan perdamaian dengan Allah. Damai adalah sebuah nilai manusiawi yang harus direalisasikan ke segala lini kehidupan dengan mendasarkannya pada misteri Kristus sendiri. Gereja sebagai umat Kristiani-tubuh mistik Kristus, harus menjadikan damai sebagai proyek raksasa dengan menegakkan universalitas iurisdiksi: Liberte, Egalite, Fraternite dan patutlah kita bercrmin pada hukum: in principium:unitas, in dubius:libertas dan in omnitas: caritas.

     Inilah dambaan umat manusia dari semua generasi dan sepanjang zaman. Namun historitas hidup umat manusia selalu ditandai dengan kenyataan perang, zona konflik dan bencana yang tak berkesudahan. Maka tepatlah kata Thomas Hobes, Filsuf dari Inggris: “manusia adalah serigala bagi sesama”. Karena manusia tidak lagi melihat manusia sebagai saudaranya, melainkan menjadi musuh yang senantiasa siap menerkam mangsanya bagaikan serigala. Perang-konflik membawa kerusakan umat manusia yang tak gampang diperbaiki, menoreh luka yang tak mudah disembuhkan, disintegrasi yang lama untuk dipadukan kembali.

     Mengapa damai sejahtera menjadi suatu cita-cita yang sulit, sementara manusia menyukai perang, yang adalah racun pembunuh kemanusiaan? Jawabannya adalah karena manusia sendiri tidak mempunyai keharmonisan dalam dirinya-sendiri. Semua ketidakselarasan ini adalah symptom dari keretakan yang paling tragis, yakni terputusnya hubungan manusia dengan Allah. Allah itu adalah bagaikan pusat sebuah roda, dan bila pusat itu hancur atau rusak, maka semua jeruji roda akan berantakkan. Dengan demikian damai di bumi hanya mungkin tercapai bila setiap manusia kembali bersatu dengan Tuhan.

     Oleh karena itu, sebagaimaa pesan Natal bersama Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) tahun 2016, bahwa hendaknya setiap merayakan Natal hati kita dipenuhi rasa syukur dan sukacita. Allah berkenan turun ke dunia, masuk ke dalam hiruk-pikuk kehidupan kita. Allah bertindak memperbaiki situasi hidup umat-Nya. Berita sukacita itulah yang diserukan oleh Malaikat: “Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud” (Luk 2:11). Belarasa Allah itu mendorong kita untuk melakukan hal yang sama sebagaimana Dia lakukan. Inilah semangat atau spiritualitas inkarnasi. Keikutsertaan kita pada belarasa Allah itu dapat kita wujudkan melalui upaya untuk menyikapi masalah-masalah kebangsaan yang sudah menahun.

      Marilah kita jadikan tantangan-tantangan yang sedang kita alami di NKRI yang kita cintai ini kesempatan untuk mengambil prakarsa dan peran secara lebih nyata dalam menyikapi berbagai persoalan hidup bersama ini. Kita ciptakan hidup bersama yang damai dengan terus melakukan dialog. Kita lawan korupsi dan pungli dengan ikut aktif mengawasi pelaksanaan dan pemanfaatan anggaran pembangunan. Kita atasi problem kemiskinan, salah satunya dengan meningkatkan semangat berbagi. Kita lawan narkoba dengan ikut mengupayakan masyarakat yang bebas dari narkoba, khususnya dengan menjaga keluarga kita terhadap bahaya barang terlarang dan mematikan itu.
Kita sampaikan berkat sukacita kelahiran Yesus Kristus ini kepada sesama kita dan seluruh ciptaan. Kita mewujudkan karya kebaikan Allah itu melalui perhatian dan kepedulian kita terhadap berbagai keprihatinan yang ada dengan aktif mengupayakan pembangunan yang berkelanjutan dan yang ramah lingkungan. Dalam situasi yang sarat dengan kejahatan dosa, sebagai umat beriman, berkat kelahiran Kristus, kita diajak untuk melahirkan situasi baru yang penuh dengan kasih, keadilan dan kebenaran sejati.

     Dengan demikian, perayaan kelahiran Yesus Kristus ini dapat menjadi titik tolak dan dasar bagi setiap usaha kita untuk lebih memuliakan Allah dalam langkah dan perbuatan kita. Jangan takut, karena hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat, yaitu Kristus Tuhan di Kota Daud. Selamat Hari Natal 2016 dan Selamat Menyongsong Tahun Baru 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *