OMK Paroki MBPA; Mengembalikan Spritualitas Kaum Muda

 

Opini Yohanes Tuba Matarau (OMK MBPA)
Opini oleh:  Yohanes Tuba Matarau (OMK MBPA)

Saat ini Orang Muda Katolik (OMK) paroki Maria Bunda Pembantu Abadi (MBPA) menghadapi problema yang cukup serius. Dimana spiritualitasnya dirampas oleh sikap ketidak perdulian. Yakni ketidak perdulian terhadap identitasnya sebagai anggota Gereja Partisipatif.

Dalam situasi yang sungguh memprihatikan ini. Secara tidak langsung OMK yang dicanangkan sebagai subjek sekaligus masa depan gereja kehilangan arah kehidupan mengereja dalam arti yang sebenarnya. Inilah dampak dari spiritualitas yang lenyap.

Dengan kata lain jika kehidupan kaum muda dituntun dengan semangat spiritualitas, tentu akan semakin menyadari kaum muda terhadap tugas-tugas perutusan dan tanggung jawab sebagai anggota gereja yang berpartisipatif.

Namun pada realitas yang sebenarnya. OMK Paroki MBPA kurang mengalami semangat sepritulitas. Sehingga kehadiran yang dikatakan begitu penting bagi gereja, sungguh terlihat belum begitu maksimal dalam kehidupan mengereja.

Semisal yang terjadi saat ini. OMK hanya muncul diatas permukan atau hanya terlihat di paroki saja. sedangkan di Komunitas Basis Gereja (KBG) kurang melibatkan diri secara utuh. Padahal KBG adalah akar dan dasar dari paroki itu sendiri.

Kurangnya pendidikan iman (Katolistas), mengakibatkan pemahaman orang muda terhadap semangat spiritualitas dalam kehidupan Gereja Partisipatif dan pengetahuan iman terlihat hambar. Tentu ini menjadi hambatan utama untuk membangun jati dirinya sebagai anggota gereja baik di KBG maupun di paroki.

Minimnya dukungan dari berbagai kalangan. Mengakibatkan semangat spiritnya berangsur tengelam tanpa ada pihak-pihak yang perduli untuk memberikan dorongan dan semangat. Dan yang terahkir OMK kurang solid dalam berkomunio atau bersatu dan berjalan bersama-sama (OMK masih terdiri dari kotak-kotak).

Inilah yang menyebabkan 5 tugas pokok kehidupan mengereja; kerygma, koinonia, liturgia, diakonia, dan martyria menjadi hambar dan kurang berasa dalam diri kaum muda, sehingga semakin sulit pula untuk mengeluarkan kaum muda pada permasalahan yang sebenarnya.

Menjadi pertanyaan refleksi, mengapa semangat spritualitas menjadi bagian yang terpenting untuk kaum muda? Sebab semangat spritualitas adalah  kekuatan Roh Kristus yang mendorong kaum muda untuk mengenal dan bertumbuh didalam hubungan keseharian dengan Kristus dan dengan sesamanya.

Dengan semakin didorang oleh kekuatan Roh Kudus (Semangat spritualitas). Maka kaum muda akan menyadari betul spritualitas kemuridan; cara hidup menurut Trinitas. Yang mengajari bagaimana kesatuan Bapa, Putra, dan Roh Kudus tetap utuh. Tidak ada kotak-kotak atau berkumpul sesuai selera, dan mau memberi diri secara totalitas; seperti sang Putra memberikan nyawa untuk menebus dosa dunia sebagai bentuk ketaatan-Nya terhadap kehendak Bapa.

Maka dengan didorong semangat spritualitas OMK sudah saatnya menyadari tugas perutusaannya sebagai hamba Allah. Yang telah ditunjukan Yesus lewat pembasuhan kaki para murid perdana dan penyerahan diri di kayu salib. Artinya kaum muda harus siap melayani; memberi dorongan kepada teman-teman yang vacum agar terlibat aktif (baik di KBG maupun di Paroki), melayani sesama kaum mudah dengan sepenuh hati, dan yang paling terpenting adalah senantiasa berpusat pada kristus, berkomunio, dan bermisi.***


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *