Pentekosta kita, Roh Allah Penuntun

Kitab Suci kita dibuka dengan kalimat: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.”

“Melayang-layang”nya Roh Allah menyimpan berbagai anomali tatabahasa yang mengindikasikan bahwa ungkapan itu mengandung berbagai misteri yang tak terungkapkan. Merakhefet (melayang-layang) adalah bentuk kata intensif, artinya penekanan pada intensitasnya.

Saya mengambil contoh. Dalam situasi normal atau netralnya makan. Jika makan itu menjadi  intensif maka cenderung menjadi melahap. Merusak menjadi memporak-poranda.

“Melayang-layang” dalam bentuk intensif memuat pengertian bergerak perlahan, penuh daya dan menimbulkan efek bagi yang menyaksikannya. “Merinding saya, melihatnya” adalah uangkapan yang bisa membantu memahami makna ini. Yang tidak membantu pemahaman adalah kalau dimengerti melayang-layang seperti terbangnya kupu-kupu atau melayang-layangnya layang-layang karena lebih dominan soal keindahannya.

Bila menelusuri ungkapan “melayang-layang” dalam Kitab Suci versi Syria, maka yang dibuat Roh Allah di permukaan air adalah seperti seekor induk ayam. Ia mengeram dan menyuburkan. Mengeram untuk melahirkan kehidupan baru dan memberi daya agar kehidupan baru itu bisa terjamin kelangsungannya. Hal ini didukung oleh kata “melayang-layang” yang jenisnya feminim.

Roh Allah kemudian muncul lagi dalam kisah Yusuf di Mesir. Firaun menilai bahwa Yusuf adalah orang yang penuh dengan Roh Allah. “Mungkinkah kita mendapat orang seperti ini, seorang yang penuh dengan Roh Allah?” (Kej.41:38)”

Kisah exodusnya Bangsa Israel adalah kisah retret panjang dalam jatuh dan bangun untuk menemukan kembali identitasnya; dari bangsa budak Mesir untuk kembali menjadi Bangsa Pilihan di Tanah Terjanji. Bangsa Israel meninggalkan Mesir, meninggalkan identitas lama dan harus melewati padang gurun dengan segala tantangan konkret di mana antara mati dan hidup begitu dekat.

Justru dalam situasi inilah, kehadiran dan peran Roh Allah akhirnya bisa dilukiskan dengan lebih aktual-konkret. “TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.” (Kel 13:21). Roh Allah tidak sekejappun meninggalkan peranNya sebagai penuntun.

Peran Roh Allah, dalam sejarah ziarah iman manusia kemudian semakin rasakan dan dimengerti dari generasi ke generasi. Roh Allah membangkitkan Hakim-hakim yang memimpin Bangsa Israel setelah para tokoh karismatis seperti Musa, Harun, Yosua meninggal.

Ia mengangkat para nabi untuk terus memperdengarkan suaraNya dan menthabis para Imam untuk menguduskan umatNya. Meskipun berhadapan dengan berbagai kelemahan manusiawi, Ia tetap menuntun para raja untuk menjamin bahwa umatNya tidak keluar dari Komunitas Umat Perjanjian.

Ketika Bangsa Terpilih, Israel, masuk dalam percaturan politik, baik politik dalam maupun luar negeri, Ia harus berhadapan dengan berbagai tantangan mematikan, jatuh dan bangun, menjadi penguasa atau dijajah. Situasi bisa berubah-ubah dari waktu ke waktu, bisa berada paling top, tetapi bisa paling down. Namun, ada yang tak pernah berubah sejak dahulu kala: Allah tetap setia. Apapun yang terjadi di dunia ini, tidak pernah mampu membatalkan janji Allah: menyelamatkan manusia.

Karya Allah dalam menyelamatkan manusia lebih konkret terlihat adalah dalam diri Yesus, Allah yang turun tangan langsung dalam kehidupan dan sejarah manusia. Setelah mempersiapkan diri selama 30 tahun, maka diaplikasikan dalam karyaNya selama 3 tahun. Efek dari karya 3 tahun tak pernah pudar sampai hari ini. Dari abad ke abad, karya Yesus digali, dipahami dan terutama dilanjutkan oleh para pengikutNya. Hal ini hanya mungkin terjadi, bila ada campur tangan ilahi. Campur tangan ilahi itu adalah Roh Kudus Pembimbing.

Para Rasul dan para murid lain, setelah Yesus naik ke surga memang seperti anak ayam kehilangan induknya. Mereka takut akan orang-orang Yahudi, berkumpul sembunyi-sembunyi dan pintu-pintu ditutup.

Dengan perayaan Pentakosta, para murid memperoleh kembali identitasnya, yakni murid-murid Kristus yang bangkit jaya. Tidak ada alasan untuk takut, sembunyi-sembunyi dan menutup pintu. Roh yang satu dan sama memungkinkan mereka untuk keluar dan bersaksi sesuai dengan panggilan sebagai rasul yang artinya dipanggil untuk diutus.

Orang Yahudi merayakan pesta shavu`ot pada hari yang ke 50 sejak paskah. Dalam terminologi Yunani 50 adalah pentekosta. Maka disebut juga hari raya pentekosta. Tetapi, ada perbedaan makna. Bagi orang yahudi, perayaan pentekosta dalam dunia pertanian bermaksud merayakan panenan pertama, buah bungaran yang akan dipersembahkan ke Bait Allah.

Sedangkan secara historis memperingati turunnya hukum Allah di Gunung Sinai. Kita merayakan turunnya Roh Kudus yang kita butuhkan untuk terus mengingatkan kembali siapa diri kita, untuk apa kita ada, hidup dan berkembang. Pentakosta adalah cermin yang di dalamnya kita bisa menilai diri kita.

Pentakosta adalah saringan yang dengannya, di tengah arus zaman ini kita tahu mana yang boleh masuk, mana yang harus tinggal di luar diri kita. Pentekosta adalah charger agar semangat yang sudah low batt dikuatkan kembali. Selamat Hari Raya Pentekosta.

RD Ferdi Meo Bupu, Imam Diocesan dan Pakar Kitab Suci dari Keuskupan Pangkalpinang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *