Sambut Pesta Pelindung dengan Rekoleksi Komunitas, Langkah KBG ini Patut Dicontoh

Mikael Bekti Setyanto Koordinator Pemberdayaan KBG dan Fasilitator Paroki Katedral
Laporan Mikael Bekti Setyanto
Koordinator Pemberdayaan KBG dan Fasilitator Paroki Katedral

Pangkalpinang-BerkatNews.com (8/10/2016 19.30 WIB). Berbeda dengan peliputan BerkatNews.com pada umumnya yang mengikuti norma umum jurnalistik dalam penyajian. Kali ini BerkatNews.com secara khusus menggambarkan berita secara detail dengan tujuan agar komunitas-komunitas dapat juga belajar apabila ingin mengimplementasikan sharing dari proses menghidupi komunio KBG St. Fransiskus Asisi, Pangkalpinang.

KBG St. Fransiskus Asisi Paroki Katedral Pangkalpinang adalah salah satu komunitas hasil pemekaran KBG. Berbagai proses untuk semakin memupuk komunio di dalam KBG terus dikembangkan; hal itu tampak dengan indikator jumlah umat yang berkumpul serta persekutuan yang tampak dalam setiap pertemuan. Antusiasme ini diharapkan bergelora dan ditopang oleh semua anggota subjek pastoral; baik ibu-ibu, bapak-bapak, orang muda ataupun anak dan remaja. Hal itulah yang menjadi harapan saudari Yanti sebagai Ketua KBG St. Fransiskus Asisi: “Kita berkeinginan agar semua anggota terlibat aktif dalam doa dan kegiatan lainnya terutama kehadiran bapak-bapak”, ungkapnya.

Menjelang pesta pelindung komunitas, diadakanlah rekoleksi komunitas. RD. Lucius Poya Hobamatan, Pastor Paroki Katedral, mengungkapkan bahwa rekoleksi ini sebagai bentuk refleksi tentang makna komunio sebagai umat Katolik ,supaya dengan refleksi iman tersebut semua anggota menyadari bahwa berkumpul dalam KBG merupakan ungkapan iman seorang Katolik tanpa memandang jenis kelamin dan usia. Selain untuk semakin memperdalam semangat komunio, rekoleksi ini juga untuk mencairkan kebekuan diantara keluarga, sebab kalau relasi diantara anggota sudah cair dengan sendirinya orang rindu untuk berkumpul sebagai keluarga Allah.

Mengintip Persiapan Tim

Untuk menolong umat KBG dalam menghayati komunio, Tim Pemberdayaan KBG Paroki Katedral menyusun sebuah kerangka acuan dengan metode Cermin Pastoral (pastoral mirror) dan Goal Setting.

Cermin Pastoral:

Kata kunci Umat Fransiskus Asisi yang menghidupi KBG
Indikator Ketika 75% anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak hadir dalam doa dan kegiatan lain
Pertanyaan Bagaimana kegiatan komunitas mampu membuat anak-anak, ibu-ibu dan bapak-bapak hadir

Goal Setting:

Pernyataan strategis Umat Fransiskus Asisi menjadikan KBG sebagai Keluarga Allah
Sasaran (Objektif) ·         Supaya ibu-ibu, bapak-bapak dan anak-anak sungguh hadir secara fisik dalam   setiap pertemuan

·         Supaya KBG Fransiskus sungguh dialami sebagai sebuah keluarga Allah

·         Supaya kebersamaan sebagai sebuah komunitas iman subgguh dialami

 

Indikator 75% komponen subjek pastoral terlibat dalam kehadiran dan kegiatan KBG
Rencana Aksi Rekoleksi KBG dengan tema KBG SEBAGAI KELUARGA ALLAH
Siapa yang melakukan? ·         RD. Poya mempersiapkan materi rekoleksi

·         Tim pemberdayaan KBG sebagai fasilitator rekoleksi

·         Ketua dan pengurus KBG Fransiskus Asisi mendata peserta dan menyiapkan   semua perlengkapan dan kebutuhan yang diperlukan

Kapan? Minggu ,tanggal 02 Oktober 2016 di Lavita.

Pelaksanaan Rekoleksi

Minggu, 2 Oktober 2016, tepat pukul 10.00 WIB, seusai Misa hari Minggu, acara dibuka dengan Sharing Injil sampai langkah ke empat. Ritus pembuka dengan Upacara Pentahtaan Sang Sabda, Doa mengundang Tuhan, Bacaan Injil (Mat 12:46-50), memetik mutiara Sabda dan hening.

Acara dilanjutkan dengan gathering dalam bentuk perkenalan, menyanyi dan permainan. Tujuan dari gathering ini untuk membangun kebersamaan dan keakraban antar keluarga, mencairkan kebekuan satu sama lain, merelaksasi otot-otot dan pikiran–pikiran yang mengganggu agar semua peserta siap masuk pada inti rekoleksi.

Sesi pertama diawali dengan nyanyian pembuka Dalam Yesus Kita Bersaudara. Sebagai CODA, anggota KBG membuat sebuah drama singkat. Drama mengisahkan kehidupan sebuah keluarga. Dikisahkan seorang anak meminta ayahnya untuk menjemputnya sehabis jam sekolah, tetapi karena kesibukan yang luar biasa  si ayah tidak sempat menjemput sehingga dijemput oleh ibu dan sesampai di rumah si anak mengomel karena bapaknya penuh dengan kesibukan. Mendengar  itu akhirnya bapaknya berjanji untuk meluangkan waktu dan melaksanakan perannya sebagai seorang ayah.

Selanjutnya dengan metode buzz group peserta mendalami CODA dengan beberapa pertanyaan penuntun: Menurut anda apa kira-kira judul drama tersebut ?  Pesan apa yang dapat dipetik dari drama ? Seandainya keluarga dalam drama adalah sebuah KBG kira-kira apa yang terjadi dengan KBG ini?

Dengan asyik dan suasana santai semua perserta yang terbagi dalam buzz group berdiskusi dan menuliskan hasil yang nantinya akan diungkapkan dan yang lain mendengar.

Setelah semua jawaban diungkapkan dalam pleno, fasilitator menambahkan sebagai pelengkap refleksi bersama

  • Keluarga dalam drama ada konflik batin karena si bapak tidak memainkan fungsi sebagai ayah bagi anak dan suami yang mendukung isteri
  • Konflik batin berbahaya kalau dipendan apalagi si bapak tidak peka dan tidak tanggap
  • Kesibukan apapun tidak boleh menghilangkan persekutuan kasih dalam keluaga
  • Sebagai wujud nyata dari kasih dan kebersamaan kehadiran fisik  anggota keluarga  dibutuhkan
  • Keluarga kristiani menjadi hidup jika semua anggota keluarga membangun persekutuan dan memainkan fungsi / peran yang khas dalam keluarga
  • KBG sungguh menjadi Keluarga Alaah yang hidup bila semua anggota mengungkapkan persekutuan kasih yang didasarkan iman, yang akan tampak dalam kehadiran fisik dalam doa dan kegiatan membutuhkan keterlibatan setiap anggota KBG
  • Kita menipu diri jika mengatakan hidup tetapi tidak hadir atau hanya orang yang sama yang aktif sedang yang lain pasif

Setelah diselingi dengan beberapa permainan tim, peserta kembali tenang untuk masuk pada sesi kedua.

Sesi kedua adalah belajar bersama pada Kitab Suci dengan bacaan dari 1 Kor 12 ; 12-31 yang bertemakan  tentang  Banyak anggota tetapi satu tubuh. Selesai mendengarkan sabda peserta kembali masuk dalam buzz group untuk mendalami dengan pertanyaan penuntun :

  • Pandang tubuh anda, dikatakan tubuh berarti dari mana sampai ke mana ?
  • Seandainya salah satu anggota tubuh tidak ada atau tidak berfungsi, apa perasaan anda dan apa yang dikatakan orang ?
  • Mengapa Rasul Paulus membandingkan Gereja seperti tubuh manusia ?
  • Kalau KBG Fransiskus Asisi adalah Tubuh Kristus, apakah termasuk KBG yang normal, cacat atau sakit ?

Jawaban tiap group dibacakan dalam pleno dan ditambah penegasan oleh fasilitator untuk memperkaya pendalaman bersama:

  • Bahwa tubuh sebuah jaringan utuh, terkait satu sama lain, terdiri banyak unsur baik yang kelihatan dan tidak, mulai ujung rambut sampai ujung kaki
  • Unsur-unsur atau anggota tubuh memiliki peran dan fungsi khas masing-masing namun untuk menjalankan tidak bisa terpisah satu dengan yang lain. Jika satu bagian tubuh tidak ada atau tidak berfungsi dikatakan cacat.
  • Santo Paulus menggambarkan Gereja sebagai Tubuh Kristus yang satu, utuh dan tak terpisahkan. Kristus sebagai kepala dan kita semua anggota-anggotanya, oleh karena itu kendati berbeda-beda tetapi saling menopang satu dengan lainnya.
  • Kita satu karena oleh penebusan Kristus yang diterima dalam baptisan, dilahirkan dalam keluarga Allah, Allah ( Bapa Yesus) adalah Bapa kita, Bunda Yesus adalah bunda kita.
  • Kita harus terlibat aktif karena menunjukkan kita bukan tamu, bukan orang asing melainkan kita satu keluarga Allah, dengan terlibat aktif mengamalkan karunia Baptis, Krisma dan Ekaristi yang menjadi kita keluarga Allah
  • KBG Fransisikus Asisi adalah Tubuh Kristus sehingga sebagai konsekuensinya semua anggota sungguh mengungkapkan kesatuan nyata dan terlibat aktif menghayati iman dari rahmat Baptisan, Krisma dan Ekaristi

Pada Sesi ketiga peserta diajak untuk melakukan langkah baru atau aksi nyata. Dalam diskusi disimpulkan langkah baru yang akan dilakukan yaitu:

  • Mengutus 2-3 orang setelah Sharing Injil untuk mengajak dan mengupayakan kehadiran anggota yang tidak pernah hadir dalam pertemuan terutama bapak-bapak
  • Mengutus 2-3 orang setelah Sharing Injil untuk mengajak dan mengupayakan keterlibatan anggota yang tidak mau terlibat aktif dalam tugas di KBG
  • Peserta rekoleksi yaitu bapak-bapak mengucapkan janji untuk hadir dan terlibat dalam doa dan kegiatan di KBG

Selanjutnya pada sesi ke empat, membuka bulan Oktober sebagai bulan Rosario, maka umat KBG mendaraskan Rosario dilanjutkan dengan Ibadat Penutup. Dalam pesannya, Pastor Paroki Katedral, RD. Lucius Poya mengungkapkan bahwa sesuatu yang menakjubkan apa yang dilakukan KBG Fransiskus Asisi dalam memaknai hari ulang tahun KBG nya dan menyambut bulan Oktober sebagai bulan untuk meneladani Maria sebagai Bunda Gereja Misioner. KBG Fransiskus Asisi berani melihat kekurangan dalam anggotanya dan berusaha mengembalikan fungsi dan peran anggotanya. Seperti dalam bacaan Injil Minggu tersebut dimana murid Yesus meminta tambahkanlah iman kami, maka KBG Fransiskus Asisi menjawab dengan kegiatan rekoleksi KBG, hari ulang tahun bukan dengan tradisi potong tumpeng, tetapi sebagai orang Kristiani ulang tahun berarti rekoleksi, kembali  pada jati diri orang Katolik, menambah iman karena bertambah umur  berarti semakin dekat dengan kematian duniawi. Harapan Romo Poya agar KBG-KBG lain nantinya dalam menyambut hari ulang tahun pesta pelindung bisa diawali dengan rekoleksi. Sebagai penutup semoga KBG Fransiskus Asisi  menjadikan KBGnya sebagai Keluarga Allah. ***

Foto Dok

img20161004192634

img20161004193127

rek4

rek5

rekoleksi_n


Editor : [costmust/BerkatNews.com]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *