Tantangan Orang Muda Katolik di Era Digital “Berita Hoax selalu berlawanan dengan Berita Gembira Injil”

Oleh: Cosmas Eko Suharyanto

Fasilitator Asian Integral Pastoral Approach (AsIPA) Paroki MBPA

Dosen Teknik Informatika Universitas Putera Batam

Diberikan kepada para peserta Pendadaran Pencak Silat Katolik,

 Tunggal Hati Seminari & Tunggal Hati Maria (THS/THM), Pulau Galang, 24 Juni 2017

Pendahuluan

Negara tercinta kita Indonesia, saat ini sedang “perang” melawan konten hoax yang terus mengarah pada ancaman perpecahan bangsa. Serangan berita hoax sengaja diproduksi baik untuk suatu propaganda tertentu, memecah belah ataupun dengan motif mencari keuntungan finansial. Banyak yang telah menjadi korban; terjadi gejolak di tengah masyarakat, ada rasa curiga, takut, cemas sampai rasa benci. Negara kita yang amat besar ini, yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku, bahasa, dan budaya, beragam agama, yang seharusnya menjadi kekuatan bangsa ini, saat ini harus berjuang keras kembali pada jati dirinya, berdiri atas empat pilar; PBNU (Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI, dan UUD 1945).

Berbagai upaya telah dilakukan, dari pemerintah melalui undang-undang ITE (UU no.11 tahun 2008) yang direvisi tahun 2016 (Presiden Republik Indonesia, 2008, 2016), Surat Edaran Kapolri mengenai Penanganan Ujaran Kebencian SE/06/X/2015 (Kapolri, 2015), dan baru-baru ini seruan juga datang dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait hukum dan pedoman bermuamalah melalui media sosial. Fatwa MUI No.24 Tahun 2017 ini mengatur banyak hal, mulai dari cara membuat postingan media sosial sampai cara memverifikasi (MUI, 2017).

Gereja Katolik Indonesia pun berperan aktif dalam upaya memerangi hoax. Dalam rangka hari Komunikasi Sedunia ke 51 tahun 2017, melalui Pekan Komunikasi Sosial Nasional (PKSN 2017), yang diselenggarakan di Purwokerto, Mgr. Vincentius Sensi Potokota (Uskup Agung Ende), menyerukan sikap iman gereja yang jelas, disampaikan dalam bentuk arahan untuk berperilaku berkomunikasi yg benar dan bermartabat. “Setiap modus berkomunikasi kita hendaknya bernada kabar baik, termasuk dalam postingan kita,” kata uskup Vincentius (Mirifica.net, 2017b).  Berbagai diskusi, seminar tentang melawan hoax juga bergelora di berbagai keuskupan di Indonesia.

Komunikasi, Media dan Berita Hoax

Pada dasarnya, komunikasi adalah sebuah proses penyampaian pesan dari A ke B. Konsekwensinya ada konsern pada media, channel, penyampai pesan, penerima pesan, feedback dll (John Fiske, 1990). Dari etimologisnya, komunikasi berasal dari bahasa latin commūnicāre yang berarti “berbagi” (to share).

Proses komunikasi biasanya diawali dengan sebuah motivasi (motivation) atau alasan (reason), lalu langkah selanjutnya adalah penyusunan pesan (message composition), dilanjutkan dengan pengkodean pesan (message encoding); misalnya dalam bentuk data digital, teks tertulis, ucapan, gambar dll, lalu penyampaian pesan melalui media tertentu, dilanjutkan dengan penerimaan pesan (reception), dan diakhiri dengan interpretasi pesan (Shannon, 1948). Media menjadi elemen penting dalam proses komunikasi.

Media adalah suatu sarana yang dapat digunakan untuk menyampaikan informasi (Littlejohn, Foss, Houston, & Perry, 2008). Media berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “Medium” yang secara harfiah berarti “perantara” yaitu perantara sumber pesan (a source) dengan penerima pesan (a receiver).

Berbeda dengan konteks media dalam terminologi informatika; yang berarti medium (kabel, gelombang radio, dll), media dalam konteks komunikasi umum adalah media atau sarana untuk menyampaikan pesan/ informasi. Misalnya media massa sebagai jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, hetergogen, dan anonim melalui media cetak ataupun elektronik sehingga pesan yang sama dapat diterima secara serentak.

Fokus media dalam diskusi ini adalah media elektronik-internet, khususnya media sosial. Saat ini, lebih dari 3,4 miliar penduduk dunia aktif menggunakan internet, dan setengahnya berada di Asia. Indonesia menempati urutan ke-empat di kawasan Asia setelah Cina, India dan Jepang. Survey APJII (Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia) 2016, dari 132,7 juta pengguna internet di Indonesia, 98 persen diantaranya diakses dari telepon seluler. Apa yang dilakukan ketika mengakses internet? 97,4 persen mengaku mengakses media sosial. Tidak heran, Indonesia menempati rangking ke-4 pengguna Facebook terbesar di dunia dan urutan ke-5 pengguna twitter (Cosmas Eko Suharyanto, 2017b).

Media sosial dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan positif, misalnya media komunikasi dua arah, kampanye dan edukasi kemasyarakatan, memperluas jaringan pertemanan baru, jaringan bisnis dan lain sebagainya. Namun, melalui media sosial juga banyak hal negatif membayangi penggunanya, baik secara sengaja maupun tidak, misalnya menggunakan media sosial untuk mengancam, menghina seseorang, pornografi, sarana kejahatan dan penipuan, penyebaran kebencian, penyebaran konten hoax dan lain sebagainya.

Salah satu fitur media sosial yang paling dahsyat adalah fitur untuk membagikan suatu konten atau sering disebut fitur share/ retweet/ forward/ broadcast, yang hanya butuh satu kali klik dan suatu informasi akan tersebar. Tak jarang juga fitur ini adalah triger utama sebagai toa untuk menyebarkan berita yang belum terkonfirmasi atau yang biasa disebut berita hoax.

Cambridge Dictionary mengartikan hoax sebagai sebuah rencana untuk menipu seseorang (http://dictionary.cambridge.org, 2017). Sedangkan dalam pandangan umum orang Indonesia, hoax adalah sebuah informasi yang seolah-olah benar tapi sebenarnya bohong.

Belajar dari Kitab Suci dan Dokumen Gereja

  1. Kisah Malaikat Gabriel dan Maria dalam Lukas 1:28-38. Dalam kisah ini atau lebih dikenal dengan Kabar Sukacita, Malaikat Agung Gabriel melakukan komunikasi dengan seorang manusia Maria. Malaikat Gabriel menyampaikan pesan Allah kepada Maria: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus”. Sebagai kamanusiaannya, Maria mengkonfirmasi pesan itu, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” Kembali Malaikat Gabriel meyakinkan “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau…”. Akhirnya Maria menerima pesan itu dengan berkata “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu”. Dari kisah ini dapat dilihat adanya kedekatan antara sumber pesan (Allah), perantara pesan/media (Gabriel) dan penerima pesan (Maria). Tidak ada sedikitpun kebencian dalam kisah ini, tidak ada ketakutan, tetapi suka cita. Bahkan sukacita itu berlanjut dalam sukacita kunjungan Maria kepada Elisabeth saudarinya.
  2. Belajar pada Yesus, sang komunikator terulung (Putra, 2010). Injil secara gamblang mencatat hal ini, “Dan setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli taurat mereka (Matius 7:28-29). Mengapa audience takjub mendengar pengajaran Yesus? Kutipan di atas menjelaskan bahwa Yesus mengajar “sebagai orang yang berkuasa”. Pemahaman kita semakin jelas ketika dinyatakan bahwa Yesus mengajar tidak seperti ahli-ahli taurat. Ahli taurat memang dikenal hafal Kitab Suci tetapi miskin dalam pelaksanaannya. Yesus tidak demikian. Apa yang diajarkan, itu yang dilaksanakan. Singkat kata, dalam berkomunikasi Yesus JUJUR, berkata apa adanya. Kejujuran dalam berkomunikasilah yang membuat audience peracaya dan takjub.
  3. Dekrit Inter Mirifica dalam Konsili Vatikan II (1962-1965). Dekrit yang diterbitkan pada 4 Desember 1963 ini terdiri dari 24 artikel yang terbagi dalam 1 pendahuluan, 2 bab, dan 1 penutup. Dekrit ini membatasi diri pada upaya-upaya komunikasi sosial. Di antara penemuan-penemuan itu yang paling menonjol ialah upaya-upaya, yang pada hakikatnya mampu mencapai dan menggerakkan bukan hanya orang perorangan, melainkan juga massa, bahkan seluruh umat manusia; misalnya: media cetak, sinema, radio, televisi dan sebagainya, yang karena itu memang tepatlah disebut media komunikasi sosial. (Art. 1).
    • Kewajiban Gereja ialah memanfaatkan media komunikasi sosial untuk menyampaikan warta keselamatan dan mengajarkan bagaimana manusia dapat memakai media itu dengan tepat. Kaum awam dipanggil untuk menjiwai media komunikasi itu dengan semangat manusiawi dan kristiani (Art. 3).
    • Para pemakai media juga harus semakin kritis dan mampu menilai media yang mereka pakai atau konsumsi. Mereka harus menghindari apa saja yang bisa menimbulkan kerugian rohani. Mereka harus berupaya membina hati nurani dengan cara yang cocok (Art. 9).
    • Orang muda punya kewajiban untuk mengendalikan diri pada saat mengkonsumsi media. Sedangkan orangtua berkewajiban untuk menjaga anak-anak agar tidak teracuni oleh media yang tidak mendidik (Art. 10).

Belajar dari terang Kitab Suci dan Dokumen Bapa Gereja, maka kita akan mampu membedakan adanya hubungan yang berlawanan antar keduanya:

Proses Komunikasi Berita Hoax Berita Gembira Injil
Sumber pesan ? tidak jelas Allah Tritunggal
Motivasi/  alasan Membuat kekacauan, memecah belah Keselamatan umat manusia
Media Orang, media cetak/ elektronik Malaikat, Orang, media cetak/ elektronik
Penerima Menyasar kelompok tertentu Untuk semua mahluk
Reaksi/interpretasi Ketakutan, kebencian Sukacita, kasih, kegembiraan

Hidup di Era Digital, Bagaimana Sikap Kita?

Era digital atau era informasi adalah suatu istilah yang menggambarkan bahwa sebagian besar informasi berbentuk digital oleh adanya kemajuan teknologi informasi. Hadirnya teknologi digital membuat ruang publik semakin lebar, apalagi didukung dengan kekuatan media sosial dengan seabrek fiturnya. Interkoneksi manusia dalam dunia maya menambah pola baru komunikasi dalam transfer informasi. Sumber informasi berkembang dinamis, bukan hanya eksklusif milik institusi media, setiap orang memiliki kesempatan yang sama, baik sebagai sumber maupun penyebar informasi (Cosmas Eko Suharyanto, 2017a).

Mendeteksi konten hoax bisa dimulai dari sumber berita apakah dari media yang jelas dan kredibel atau bukan. Media yang jelas artinya media yang sudah dikenal, selama ini dikenal menyebarkan informasi yang benar, bisa ditelusuri keberadaannya, tidak fiktif. Sedangkan media yang kredibel bisa dinilai dari keseimbangan dalam pemberitaan, kejujuran dalam pemberitaan dan konten pemberitaan yang aktual.

Bijak dan cerdaslah dalam bermedia sosial, melakukan cek-recek-recek dan recek lagi sebelum menyebarkan suatu informasi. Lebih dari itu, marilah tetap menggunakan etika dan moral dalam bermedia sosial.

Mengutip pesan salah seorang pakar IT Indonesia, Prof. Richardus Eko Indrajit, bahwa kita tidak boleh menyalahkan teknologi, “Kalau orang itu baik maka kebaikan yang disebarkan saat mereka bermain di media sosial. Kalau orang itu jahat, maka kejahatannya bisa makin canggih dan tersebar.”

Jangan Takut Aku Bersertamu, Komunikasikan Harapan dan Iman”, pesan Paus Fransiskus, Hari Komunikasi Sedunia, 2017.

—————————————————————————————————————————————-

References

Cosmas Eko Suharyanto. (2017a). Etika Share Foto yang Memuat Unsur Sadisme | Sijori Today. Retrieved June 24, 2017, from https://sijoritoday.com/2017/04/17/etika-share-foto-yang-memuat-unsur-sadisme/

Cosmas Eko Suharyanto. (2017b). Turn Back Hoax: Jadilah Pengguna Medsos Cerdas dan Kenali Ciri-Ciri Berita Hoax – Tribun Batam. Retrieved June 24, 2017, from http://batam.tribunnews.com/2016/12/21/turn-back-hoax-jadilah-pengguna-medsos-cerdas-dan-kenali-ciri-ciri-berita-hoax

http://dictionary.cambridge.org. (2017). hoax Meaning in the Cambridge English Dictionary. Retrieved June 24, 2017, from http://dictionary.cambridge.org/dictionary/english/hoax

John Fiske. (1990). INTRODUCTION TO COMMUNICATION STUDIES (2nd ed.). New York: Routledge. Retrieved from http://s3.amazonaws.com/academia.edu.documents/40548872/s3_fiske_communicationmeaningand-signs.pdf?AWSAccessKeyId=AKIAIWOWYYGZ2Y53UL3A&Expires=1498238819&Signature=V3hdZ7L1SEXcLJKtIaE6Q2v4bjk%3D&response-content-disposition=inline%3B filename%3DS3_fiske

Kapolri. Surat Edaran Tentang Penangangan Ujaran Kebencian (Hate Speech), Pub. L. No. SE/6/2015 (2015). Retrieved from https://www.kontras.org/data/SURAT EDARAN KAPOLRI MENGENAI PENANGANAN UJARAN KEBENCIAN.pdf

Littlejohn, S. W., Foss, K. A., Houston, L., & Perry, J. (2008). Theories of Human Communication, Ninth Edition (9th ed.). Belmont, USA: Thomson Wadsworth. Retrieved from http://www.thomsonrights.com.

Mirifica.net. (2017a). Lawan Hoaks dengan Hati Nurani. Retrieved June 24, 2017, from http://www.mirifica.net/2017/05/27/lawan-hoaks-dengan-hati-nurani/

Mirifica.net. (2017b). Misa Penutupan PKSN KWI, Uskup Vincentius Sensi Potokota: Modus Komunikasi Hendaknya Bernada Kabar Baik. Retrieved June 23, 2017, from http://www.mirifica.net/2017/05/28/misa-penutupan-pksn-kwi-uskup-vincentius-senis-potokota-modus-komunikasi-hendaknya-bernada-kabar-baik/

MUI. FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor 24 Tahun 2017 Tentang HUKUM DAN PEDOMAN BERMUAMALAH MELALUI MEDIA SOSIAL, Pub. L. No. Nomor 24/2017 (2017). Retrieved from https://web.kominfo.go.id/sites/default/files/users/3997/fatwa-nomor-24-2017-ttg-hukm-dan-pedoman-bermuamalah-melalui-medsos-final-ses.pdf

Presiden Republik Indonesia. UU ITE No.11 Tahun 2008, Pub. L. No. 11 Tahun 2008 (2008). Retrieved from http://www.anri.go.id/assets/download/97UU-Nomor-11-Tahun-2008-Tentang-Informasi-dan-Transaksi-Elektronik.pdf

Presiden Republik Indonesia. PERUBAHAN ATAS UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2008 TENTANG INFORMASI DAN TRANSAKSI ELEKTRONIK, Pub. L. No. 19 tahun 2016 (2016). Retrieved from http://badanpendapatan.riau.go.id/home/hukum/8495315769-doc-20170202-wa0015.pdf

Putra, R. M. S. (2010). Memulai dan Mengelola Media Gereja dalam Terang Inter Mirifica. Jakarta: Obor.

Shannon, C. E. (1948). A Mathematical Theory of Communication. The Bell System Technical Journal, 27, 379–423. Retrieved from http://math.harvard.edu/~ctm/home/text/others/shannon/entropy/entropy.pdf

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *