
Laporan Kontributor Mikael Bekti Setyanto
Koordinator Pemberdayaan KBG dan Fasilitator Paroki Katedral
Pangkalpinang-BerkatNews.com. Tahun ini, Keuskupan Pangkalpinang adalah tuan rumah pelaksana Pekan Misi Nasional. Dalam rangkaian kegiatan Pekan Misi ini, OMK Babel membuka dengan kegiatan Seminar Animasi Misi dan Bakti Sosial. Kegiatan bertempat di Rumah retret Puri Sadana , Jalan Koba Pangkalpinang, hari Sabtu 7 Oktober 2017. Seminar dihadiri 70 Orang Muda Katolik utusan dari 7 paroki di Kevikepan Selatan (Babel). Sebagai pemateri seminar dari Tim Kelompok Bakti Kasih Kemanusiaan ( KBKK ) yang berpusat di Jakarta.
Sesi Pertama, bertema “Siapa saya”, dibawakan oleh Sdr. Sinta. Sesi ini berhubungan dengan pengenalan diri, sebagai anak anak Allah, dicintai , dipilih Allah dan mempunyai tugas untuk berbagi kepada sesama. Selanjutnya pada sesi kedua, Dr. Irene Setiadi berbicara tentang “Bibliko Mandat”, yaitu menggugah dan mengajak untuk mencintai ,membaca, mengendapkan dan melaksanakan Kitab Suci dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan pada malam harinya sesi ketiga yaitu mendalami Ktab Suci dengan Sharing Injil.
Pembina KBKK , dr. Lukas Jusuf mengungkapkan tindak lanjut setelah seminar animasi misi ini dapat diterapkan di paroki atau di komunitas masing-masing dalam bentuk sekolah minggu, sharing Injil dan berbagi untuk sesama. Tujuan seminar ini pertama bahwa setiap pulang dari gereja kita diutus untuk mewartakan kabar sukacita, kedua bahwa semua orang yang dibabtis adalah anak-anak misioner. Jika memerlukan bantuan dan menemui kendala dalam pelaksaan perutusan ini dr. Lukas siap membantu dan menyarankan tiap paroki ada pembina OMK serta metode pendekantan disesuaikan dengan budaya lokal.
RD. Yosefus Anting Patimura, Ketua komisi KKM keuskupan Pangkalpinang mengungkapkan bahwa animasi misi orang muda katolik ini bertujuan memberikan semangat dan daya kreatif untuk orang muda serta semangat tetap bermisi mewartakan kabar suka cita Injil kepada semua orang terlebih kusus kepada teman-teman kaum muda sendiri.
Foto Dok.





Selain beberapa pokok pikiran tadi, Bapak Fidelis yang sudah berpengalaman dalam dunia pendidikan, beliau pun membuka pikiran para fasilitator dengan mengungkapkan bahwa keluarga juga adalah ‘rahim sosial’ (bdk. Luk. 1: 39-58). Kunjungan Maria kepada Elisabet, ternyata tidak hanya mendapat respons oleh kedua orangtua, tetapi juga oleh kedua anak mereka yang masih dalam kandungan. Keduanya saling respons atas perjumpaan kedua orangtua mereka, sangat diyakini bahwa Maria dan Elisabet sudah membangun komunikasi sosial melalui rahim mereka. Dari pengalaman Maria dan Elisabet, kita menemukan bahwa ‘rahim’ adalah sekolah komunikasi yang pertama. Anak didalam kandungan mengalami pengalaman secara personal, dan ini merupakan wujud asali dan simbol dari semua bentuk komunikasi. Pengalaman komunikasi secara personal yang dialami didalam keluarga merupakan komunikasi dasar yang membentuk dasar kepribadian seseorang dan akan menjadi “karakter imannya” seumur hidupnya. Karena itu, membangun komunikasi adalah juga tugas fasilitator. Fasilitator melanjutkan komunikasi didalam KBG sebagai hasil dari komunikasi didalam keluarga.
Lebih lanjut, mantan pastor rekan di Paroki Tembesi ini, kembali menegaskan bahwa fasilitator sangat memerlukan pendampingan dari PIPA Paroki tentang pertama, Spiritualitas atau kehidupan rohani yang meliputi bagaimana fasilitator hidup dalam imannya akan Kristus?, bagaimana fasilitator tetap berkomitmen pada tugas dan imannya?, bagaimana fasilitator mengembangkan doa-doa pribadinya?, bagaimana fasilitator memurnikan motivasi untuk melayani dan memimpin?, bagaimana fasilitator mendewasakan iman dan mampu beralih dari religiusitas alami kepada Kristus?, dan bagaimana memadukan kebudayaan dan iman kristiani? Kedua, tentang psikologis atau perilaku, nilai dan kesadaran. Bagaimana fasilitator memiliki kesadaran akan tanggungjawab sosial?, bagaimana fasilitator membangun relasi dalam persekutuan dengan anggota KBG dan sesama fasilitator dan para imam?, bagaimana fasilitator memiliki kemampuan bekerja dalam tim?, bagaimana fasilitator membangun kemitraan dengan pemimpinan yang lain dengan anggota umat?, bagaimana fasilitator menyadarkan dirinya akan pelayanan bukan unjuk kekuatan?. Ketiga, Ketrampilan. Bagaimana fasilitator dilatih untuk mempermudah proses dialog didalam sebuah pertemuan rutin?, bagaimana fasilitator membangun sebuah persekutuan yang lebih besar?, bagaimana fasilitator membangunkan potensi dirinya untuk mengajak dan mempengaruhi anggota KBG?, bagaimana melatih fasilitator untuk mampu memimpin berbagai pertemuan didalam KBG?, bagaimana fasilitator mengatasi konflik baik internal KBG maupun lintas KBG?, dan bagaimana fasilitator trampil dalam komunikasi dengan anggota KBG atau dengan orang lain?. Keempat, Scientific atau pengetahuan, informasi dan wawasan. Bagaimana fasilitator dibina supaya dapat mengetahui tentang Kitab Suci, ajaran Gereja, dan tradisi-tradisi Gereja kita?, dan bagaimana fasilitator berkembang didalam pengetahuan umum seperti ilmu sosial, ekonomi, budaya, informatika, dan ilmu-ilmu lainnya?