
Pastor Tymoteusz Szydlo
BerkatNews.com. Tymoteusz Szydlo (25), Putera Perdana Menteri Polandia ditahbiskan menjadi imam Katolik dan merayakan misa perdana pada hari Minggu (28/5) di gereja di Przecieszyn dimana dia dibaptis sewaktu kecil.
Sebagaimana dilaporkan Catholic Herald (29/5), dalam tradisi Polandia, ada kebiasaan seorang imam yang baru ditahbiskan untuk merayakan misa pertamanya di kota tempat dia dibesarkan. Nanti, pada hari raya Pentakosta, dia akan merayakan Misa dalam forma extraordinaria di paroki Salib Suci di Krakow, yang dilayani para imam-imam FSSP (Priestly Fraternity of Saint Peter).
“Saya tidak bisa berkata apa-apa untuk mengungkapkan rasa terima kasih saya kepada Mu, Tuhanku“, kata Pastor Szyldo, “Oleh karena itu, saya dengan rendah hati meminta Engkau untuk menjaga saya dalam pelayanan kudus-Mu“.
Perdana menteri mengatakan dia dan suaminya, Edward Szydlo, “sangat bahagia dan bangga.”
costmust/BerkatNews.com
Foto credit: FB Paula Luckhurst



Wajar bila Pastor Rusdi juga merasa kehilangan Erwin. Meskipun baru beberapa bulan menjadi pastor pendamping misdinar, Pastor Rusdi yang dikenal dengat dengan anak-anak dan remaja itu sering datang berkunjung ke rumah keluarga Erwin. Mengajak ngobrol dan bercanda, memberikan Komuni Kudus, juga memberikan Sakramen Perminyakan.
Kepergiannya membuatnya tidak jadi bertugas misdinar di Hari Raya Jumat Agung. Di masa sakitnya, ia selalu mendambakan bertugas melayani imam dalam Misa Jumat Agung dan berkesempatan membawa salib paling besar. Teman-temannya menyemangati agar cepat sembuh sehingga kuat mengangkat salib besar yang selubung ungunya dibuka oleh imam sambil menyanyikan: Lihatlah kayu salib…di sini…bergantung Kristus….penyelamat dunia.
Bersama teman misdinar sebayanya, ia dijuluki Sengklek Bersatu. Sebuah julukan yang mencerminkan kedekatan, keakraban, dan soliditas antaranggota misdinar. Bersama kesembilan kawannya ia selalu bertanggung jawab dalam setiap tugas yang diemban. Ia tidak pernah pulang jika tugasnya belum selesai. Setelah benar-benar tuntas, tempat acara juga kembali bersih, barulah ia lega pulang ke rumah. Ke mana-mana, mereka selalu bersama. Dengan beberapa motor mereka berboncengan, saling menjemput dan mengantar, pergi latihan dan pertemuan, tugas misdinar, juga sekadar menghabiskan hari Minggu dengan makan di warung atau bermain di warnet.
“Pentahbisan Pastor Joseph adalah berkat dari Tuhan dan momen sukacita besar dan inspirasi bagi anak muda Mongolia Gereja kita”, ungkap Chamingerel Ruffina, anggota OC untuk komunikasi Pusat Katekese Nasional Mongolia.
Segenap umat Katolik Mongolia telah disiapkan untuk acara tersebut dengan melakukan novena kepada St. Paulus, untuk memperkuat semangat misioner mereka selama Tahun Kerahiman.
Di antara para tamu dalam Misa itu adalah Abbot Dambajav dari Biara Dashi Choi Lin Buddha. Dia memuji upaya Gereja Katolik dan mendorong Pastor Baatar untuk mengambil tanggung jawab membantu orang-orang Mongolia. Dia juga memberi imam baru itu sebuah khadag biru, sebuah syal ceremonial scarf, sebagai tanda persahabatan.