Tahbisan Pastor di Irak: Sukacita di Tengah Kesedihan Pengungsi

BerkatNews.com. Republik Irak adalah sebuah negara di Timur Tengah atau Asia Barat Daya, yang meliputi sebagian terbesar daerah Mesopotamia serta ujung barat laut dari Pegunungan Zagros dan bagian timur dari Gurun Suriah. Setiap kali media memberitakan Irak, umumnya adalah tentang pemboman, perang dan aksi kekerasan lainnya. Penduduknya sebagian besar mengungsi, menyingkir dari desingan peluru dan aksi brutal lainnya terkait ISIS.

Di tengah kepedihan dan derita di kamp pengungsian, tiga orang pastor baru di tahbiskan. Tiga imam baru itu ditahbiskan di kamp pengungsi Erbil,  Jumat 5 Agustus 2016.

Sebagaimana diberitakan Catholic News Agency (8/8/2016), Pastor Roni Salim Momika, salah satu dari tiga imam baru itu mengatakan bahwa momen tahbisan tersebut telah mengubah kepedihan umat Kristen yang tengah mengungsi menjadi sukacita. Ia berharap peritiwa iman tersebut dapat menjadi kekuatan bagi mereka untuk tinggal di tanah air mereka.

“Perasaan saya senang dan bahagia..” Ungkap pastor Momika, seraya menambahkan bahwa “ada sesuatu dari dalam” yang membuatnya begitu bersukacita. Ia ditahbiskan menjadi imam Gereja Syriac-Katolik bersama teman-temannya, diakon Emad dan Petros di sebuah Gereja darurat wilayah kamp pengungsi Erbil’s Aishty 2, sebuah kamp yang menampung 5.500 pengungsi.

Pentahbisan itu, katanya, “akan memberikan harapan kepada (orang-orang)” di kamp, sebagian besar umat Katolik dari Qaraqosh, yang selama dua tahun telah dipaksa untuk hidup sebagai pengungsi.

Pastor Momika, yang berasal dari Qaraqosh, mengenang bagaimana 6 Agustus menandai peringatan tepat dua tahun sejak ISIS menyerang kampung halamannya, mengusir penduduk yang tidak memenuhi tuntutan mereka untuk meninggalkan Iman Katolik,  atau membayar pajak  yang besar, atau menghadapi kematian.

Namun, sementara peringatan 2 tahun tersebut bisa berfungsi sebagai pengingat dari realitas suram dan ketidakpastian bagi orang Kristen di Irak, melihat tiga pemuda yang ditahbiskan menjadi imam, justeru membuat “waktu kegembiraan, waktu penuh harapan, dan waktu yang baik, ” kata pastor Momika.

“Sebelum ini semua adalah hari yang buruk karena kami menjadi pengungsi dan ISIS masuk ke Qaraqosh, tapi sekarang hari ini menjadi hari yang baik karena itu pentahbisan kami dan kami memberikan harapan kepada orang-orang kami,” termasuk harapan “untuk tinggal di sini,” katanya.

Pastor Momika, Emad, Petros dan satu seminaris lain bernama Paul semua terpaksa mengungsi dari Qaraqosh ketika ISIS menyerang pada tahun 2014.

Sebelum dipaksa untuk meninggalkan kampung halamannya, pastor Momika dan adiknya adalah korban cedera dalam pemboman bus tahun 2010, yang mengangkut mahasiswa terutama mahasiswa Kristen dari Plains Niniwe ke Universitas Mosul, di mana mereka kuliah.

Sejak seminari Qaraqosh ditutup menyusul serangan tahun 2014, kemudian para seminaris dikirim untuk menyelesaikan studi mereka di Seminari Al-Sharfa di Harissa, Lebanon. Setelah menyelesaikan studi mereka di Lebanon, mereka kembali ke Irak untuk tahbisan diakonat mereka, yang berlangsung 19 Maret yang lalu.

Diakon Paul juga ditahbiskan menjadi imam bulan Juli yang lalu dan melayani umat di Bahdad, sementara Pastor Momika dan yang lainnya ditahbiskan di Erbil oleh Uskup Agung Yohanno Petros Moshe, Uskup Agung Mosul, Kirkuk dan Kurdistan.

Pastor Momika, dan keluarganya melarikan diri ke Erbil setelah meninggalkan Qaraqosh, mengatakan bahwa gereja darurat hanya memiliki kapasitas sekitar 800 orang, namun sekitar 1.500 umat hadir untuk pentahbisannya.

Beberapa anggota keluarganya bisa datang untuk pentahbisan, termasuk ayahnya, adik dan banyak orang lain yang melakukan perjalanan dari Baghdad, Aqrah dan kota-kota lain untuk bersama dalam misa tersebut.

Sampai sekarang pastor Momika telah berkarya mendampingi kaum muda dan memimpin kelompok-kelompok perempuan di dalam kamp pengungsi Erbil ini. Imam itu mengatakan bahwa untuk saat ini ia akan tetap berada di Erbil dan terus melayani dalam kapasitas itu, tapi itu terserah Uskup Agung Moshe yang akan memutuskan “apakah saya akan tinggal di sini atau tidak” dalam jangka panjang.

Sebagai seorang imam yang baru ditahbiskan, dikelilingi oleh ancaman penganiayaan dan kekerasan, pastor Momika mengatakan bahwa ia ingin “berdiri dengan pengungsi” meskipun “bahaya mengancam hidup.”

Dia mengatakan dia ingin memberikan orang-orang Kristen “kekuatan, harapan, dan keberanian untuk melanjutkan hidup mereka dan tinggal dengan orang-orang miskin” dan mereka yang menderita, bahwa baginya, esensi dari peran dan panggilannya adalah “untuk memberikan Kristus untuk orang-orang.”

Selamat berkarya Pastor Momika !!!

(* foto featured: CNA)


de mariam numquam satis [costmust]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *