Liputan Lengkap Rekoleksi Perdana Fasilitator Paroki SFA, Kabil-Batam

Kabil – Berkatnews.com.  Fasilitator paroki St. Fransiskus Assisi – Batam mengadakan kegiatan On Going Formation untuk semua Fasilitator AsIPA angkatan 1, 2 dan 3, bersama pengurus KBG dalam bentuk rekoleksi dengan tema “Fasilitator yang Berkomunio, Bermisi dan Semakin Berpusat pada Kristus”. Rekoleksi yang diadakan di Palm Spring Golf & Resort Nongsa ini diikuti oleh 156 peserta dari 34 KBG di bawah naungan paroki termuda di Batam ini.

1. “Tidak Ada Sesuatu Yang Kebetulan”, Sharing Pengalaman Iman Fasilitator dalam Rekoleksi

Pada pukul 09:00 WIB Sharing Injil 7 Langkah mengawali rangkian kegiatan sepanjang hari itu. SI7L dipandu oleh Ibu Maria Miarsih, seorang Fasilitator AsIPA angkatan 3 dari KBG S. Patrisius. Bu Mia memberi kesempatan pada beberapa orang untuk membagikan pengalaman imannya. Ibu Nurliana br. Sinaga, salah satu Fasiltator AsIPA angkatan 1 adalah salah satu peserta yang membagikan pengalaman imannya. Berawal dari keinginannya menyekolahkan puteranya di seminari. Setiap kali Bu Lia, demikian panggilan dari Ibu 2 putera dan 1 puteri ini menawarkan kepada puteranya untuk menimba ilmu di seminari, selalu ditolak oleh puteranya.

Situasi menjadi haru biru, ketika putera kedua Bu Lia, Karolus A. Wawin, pulang dari kegiatan Minggu Panggilan yang dilaksanakan oleh Sie Kerasulan Remaja paroki St. Fransiskus Assisi, pada hari Minggu, 12 Mei 2019. Dengan penuh keyakinan, remaja yang baru lulus dari Sekolah Menengah Pertama ini menyampaikan niatnya untuk melanjutkan studi di Seminari Menegah Mario Jhon Boen, kepada Ibundanya, setelah mendengarkan sharing pengalaman Theodorus Alvaro Da Lopez, putra berdarah NTT, yang lahir dari pasangan Bapak Fransiskus Xaverius dan Ibu Hendrika Sri Lestari, umat dari KBG S. Yanuarius, Paroki S. Fransiskus Assisi yang telah lebih dahulu menimba ilmu di SMMJB, dan akan melanjutkan mendalami panggilannya di tarekat SVD.

Meski sebenarnya tes seleksi untuk seminari sudah ditutup, tapi Tuhan berkehendak lain. Bu Lia dibantu oleh Pastor Yodi, akhirnya Karolus bisa mengikuti tes seleksi susulan, dan hasilnya sungguh tidak terduga. Remaja tersebut diterima di SMMJB, Pangkalpinang. Suka cita tak terhingga terpancar dari keluarga ini. Begitu juga dengan kedua pastor yang menggembalakan umat di paroki ini. RD. Yohanes De Orney atau Pastor Yance, mengatakan pada bu Lia, “Tidak ada sesuatu yang kebetulan. Yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”

Pada akhir sharingnya, Bu Lia memohon doa dari para Imam dan seluruh peserta rekoleksi supaya puteranya bisa mendalami agama katolik dengan tekun dan setia, dan doa itu menjadi salah satu Aksi Nyata Injili yang akan dilakukan seluruh peserta rekoleksi, untuk utusan pertama yang belajar di SMMJB dari paroki S. Fransiskus Assisi tersebut.

RD. Wilfridus Patrisius Nong Yodi, Pastor Paroki Santo Fransiskus Assisi
RD. Wilfridus Patrisius Nong Yodi, Pastor Paroki Santo Fransiskus Assisi

2. Fasilitator Yang Menjiwai 3 Bintang Menjadi Motor Penggerak Di Kbg Dan Paroki S. Fransiskus Assisi – Batam

Pada sesi pertama, RD. Wilfridus Patrisius Nong Yodi, Pastor Paroki Santo Fransiskus Assisi yang menjadi Pemateri Tunggal selama rekoleksi berlangsung, mengingatkan kembali 3 bintang ciri khas keuskupan Pangkalpinang. Sesi ini diawali dengan diskusi kelompok untuk menggali pemahaman peserta tentang fasilitator, mengapa ada fasilitator, kendala yang dihadapi fasilitator di KBG, ciri fasilitator yang baik serta saran untuk fasilitator di KBG.

Dari hasil penggalian yang disampaikan oleh tiap kelompok terungkap bahwa banyak hal positif yang terjadi karena adanya fasilitator di KBG. Hidup tidaknya KBG tergantung pada fasilitator di KBG tersebut. Kegiatan-kegiatan KBG dan kegiatan pastoral di paroki berjalan dengan baik karena fasilitator sadar untuk ambil bagian di dalamnya. Lima tugas perutusan Gereja bisa terlaksana dengan baik karena peran fasilitator menjadi motor penggerak KBG dan paroki.

Fasilitator juga memliki kendala dalam tugas perutusannya. Pastor Yodi menawarkan beberapa solusi dalam menghadapi kendala tersebut dengan kembali pada keberpusatan fasilitator pada Yesus, selalu membangun komunio dengan orang-orang disekitarnya dan menjadikan komunio Allah Tritunggal sebagai teladannya, serta menyadari misinya sebagai penerus misi penyelamatan Yesus di dunia.

Dan diakhir sesi pertama ini, Pastor Yodi kembali mengingatkan tentang Visi, Misi dan Spiritualitas keuskupan Pangkalpinang. Dan spiritualitas Kemuridan dan Hamba Allah kembali digarisbawahi oleh Pastor Yodi untuk para Fasilitator dan pengurus KBG yang hadir pada hari itu, dengan harapan, karakter fasilitator yang sabar, rendah hati, bersedia untuk mendengar, tidak mendominasi, tidak baperan dan terus menerus belajar, akan terbentuk.

IMG_9872_compressed

3. Berkobar-Kobar Dan Aksi Segenggam Beras Adalah Branding Paroki S. Fransiskus Assisi – Batam

Sebelum memasuki sesi kedua, sekretaris DPP St. Fransiskus Assisi, yaitu Bapak Cornelis Sijabat mengawali dengan sebuah kode. Branding. Mungkin di paroki-paroki lain memiliki ciri khas masing-masing. Seperti di Asia, ada AsIPA. Di keuskupan Pangkalpinang ada PIPA sebagai turunannya. Dan di paroki St. Fransiskus Assisi ada jawaban salam “Berkobar-kobar” ketika ditanya “Apa kabar ?”, dan satu hal lagi yang mengarahkan pikiran tertuju ke paroki S. Fransiskus Assisi yaitu “Aksi Segenggam Beras”.

Semangat berkobar-kobar inilah yang ingin terus menerus dipelihara. Tema yang diambil dari Injil Lukas 24 : 13-35, 36-49, 50-53, tidak tanpa sebab. Perjumpaan dua murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus, dengan Yesus, menjadi insiprasi dalam penentuan tema yang dirumuskan oleh sie materi panitia. Kepanitiaan kegiatan ini diketuai oleh Bapak Soni Liston Sitanggang, yang merupakan fasilitator AsIPA angkatan 3.

Pada sesi kedua ini, Pastor Yodi mengajak seluruh peserta untuk becermin pada dua murid Yesus tersebut. Pengalaman di jalan ke Emaus adalah model perjalanan yeng dibuat Yesus untuk para fasilitator. Yesus membuka mata dan mengarahkan para fasilitator pada kehendak Allah. Yesus tidak ingin para fasilitaotor tinggal dan larut dalam kesedihan, kekecewaan, keputusasaan dan tenggelam dalam kecemasan. Yesus ada, berjalan, bercakap-cakap, tinggal dan makan bersama fasilitator.

“Menjadi fasilitator adalah sebuah proses. Proses yang tidak mudah, jatuh bangun, susah senang dan penuh tantangan, baik dari diri sendiri atau dari luar diri sendiri. Fasilitator ada karena dibentuk, bukan diciptakan. Fasilitator harus menyadari bahwa mereka secara pribadi dipanggil dan dipilih oleh Tuhan. Dipanggil untuk bersatu dengan Allah, berkomunio dengan sesama dan bermisi mewartakan Kabar Gembira dan menghadirkan kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. ”, tambah Pastor Yodi. Di akhir sesi kedua ini, Pastor Yodi mendoakan seluruh peserta rekoleksi agar dapat menjadi fasilitator yang baik, yang selalu berpusat pada Kristus, membangun komunio dan bermisi di tengah-tengah dunia.

Seluruh rangkaian rekoleksi yang penuh keceriaan dengan pelbagai permainan yang dipandu oleh Bu Justin, Bu Rini dan Pak Dipo ini ditutup dengan perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh Pastor Yodi dan berfoto bersama. *(Kontributor Berkatnews LVEP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.