Para Pengajar Agama Katolik di Batam diajak untuk Melayani dengan Setia

Oleh L V Evy Puspitosari
Oleh L V Evy Puspitosari

Bengkong-BerkatNews.com. Karena besarnya tanggung jawab seorang pendidik agama, para pengajar yang ambil bagian dalam tugas pelayanan ini, harus mau membuka diri untuk terus belajar dan mengambangkan diri, dalam mengembangkan kemampuan dan bisa memanfaatkan tekhnologi dalam proses pembelajarannya.

Koordinator Sie Pendidikan Agama Katolik PIPA Paroki St Damian, Ibu Esna Munte S.Th dan Bp Matheus Suwarsito S.Th, sering membuat kegiatan bersama yang melibatkan guru-guru yang mengajar di tingkat SD,SMP dan SLTA, dan terkadang bekerjasama dengan Departemen Agama Kota Batam, dalam berbagai kegiatan.

img-20160913-wa0010Para pengajar agama Katolik se-Paroki St Damian, berkumpul sebulan sekali, yang dilaksanakan pada hari Sabtu, minggu kedua setiap bulannya di kompleks Sekolah Katolik Yos Sudarso. Dalam pertemuan-pertemuan itu, para pengajar membahas kesulitan dan kendala yang dihadapi oleh pengajar, penyusunan kisi-kisi, pembuatan RPP, pembuatan soal bersama, baik untuk soal mid semester, ataupun soal untuk semesteran, atau mengadakan rekoleksi bersama.

Seperti yang dilaksanakan hari Minggu, 11 September 2016, Paroki St Damian melalui Sie Pendidikan mengadakan rekoleksi bersama di Ruko Susteran Gembala Baik, Bengkong, dengan pembicara RP Richardus Matius Bili SS.CC dan mengambil tema : “MELAYANI DENGAN SETIA”

img-20160913-wa0009Rekoleksi ini dihadiri oleh 16 orang dari total 22 orang yang terlibat dalam bidang Pendidikan Agama Katolik ini. Dimulai pada pukul 11:00 wib dengan doa pembukaan, dan pembacaan Injil Lukas 15:1-10 oleh RP Richard SS.CC, dan dilanjutkan dengan sesi yang pertama. Pada Sesi ini, para peserta rekoleksi diajak untuk lebih mengenali diri sendiri, melihat potensi-potensi yang ada pada setiap pribadi, dan diajak untuk terus menerus mengembangkan diri untuk tugas pelayannya.

RP. Richard mengajak para peserta mensharingkan pengalaman mereka, mengapa mereka terpanggil untuk terlibat dalam pelayanan ini, dan menggali hal-hal positif apa yang diperoleh peserta selama menjadi pengajar agama Katolik di gereja. Dari beberapa peserta tergali, bahwa pelayanan mereka berawal dari keprihatinan mereka kepada anak-anak dalam nilai agama Katolik di rapot. Berawal dari beberapa anak pada tahun 1998, dan terus berkembang sampai sekarang yang berjumlah sekitar 750 anak yang terbagi di 3 tempat pembelajaran, yaitu 100 anak di kapela St Michael Batu Merah, 200 di Stasi St Yosef Kabil dan 450 di Paroki St Damian Bengkong, dari semua tingkatan, baik SD, SMP maupun SLTA. Dan berbagai pengalaman yang mereka alami itulah yang membuat mereka tetap setia mengajar.

Dari sesi ini, RP Richard SS.CC juga mengajak peserta untuk merefleksikan diri dengan bacaan Injil hari itu, yaitu perumpamaan tentang satu anak domba yang hilang, dan sang gembala mencarinya sampai menemukannya, dan bersukacita karena domba yang hilang sudah didapatinya kembali. Pastor Richard ingin menyadarkan kepada peserta, bahwa dari setiap kelas, pasti ada “domba yang hilang”, yang membutuhkan perhatian lebih dari gurunya. Anak-anak memang memerlukan bimbingan, karena jika tidak dibimbing, imajinasi mereka bisa berkembang dan membuat mereka berjalan dengan pikiran mereka sendiri.

Para peserta juga diajak untuk terus meneladani spiritualitas “persembahan janda miskin”, tentu disini bukan berbicara tentang persembahan material, tetapi lebih pada waktu, tenaga dan pikiran. Memang banyak orang yang berpendidikan, tapi belum mempunyai hati untuk ikut terlibat, atau ada orang yang ingin terlibat tapi tidak memiliki kesempatan. Pastor Richard yakin, dari semua pengajar, bukanlah orang yang memiliki waktu luang yang cukup untuk melayani, tetapi justru orang-orang yang sudah disibukkan oleh berbagai macam tanggung jawab, baik di keluarga, di gereja maupun di lingkungan sekitar, tetapi mereka masih mau mengajar anak-anak. Jadi, meskipun dalam kondisi yang sulit sekalipun, para pengajar tetap harus selalu bersyukur karena Tuhan mengasihi mereka, sehingga mereka bisa mengasihi anak-anak didik yang sudah dipercayakan pada mereka.

Setelah makan siang bersama, Pastor Richard melanjutkan sesi kedua, yang mengajak peserta merenungkan Injil Matius 5:25-26 dan mengatakan bahwa setiap peserta dituntut terus berjalan bersama dalam damai. Pastor Richard memberi banyak contoh kisah nyata yang menginspirasi, yang menjadi pengalaman orang lain. Rekoleksi ini ditutup pada pukul 15:00 wib dengan doa penutup, dan foto bersama. ***

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *