Belinyu, BerkatNews.com — Umat Paroki Belinyu mengikuti Perayaan Ekaristi Pesta Pembaptisan Tuhan dengan penuh khidmat pada Minggu, 11 Januari 2026. Perayaan yang dirayakan serentak bersama Gereja Katolik di seluruh dunia ini dipimpin oleh Pastor Paroki Belinyu, RD. Wendilinus Pantaleon, bersama Pastor Rekan, RD. Marsen Damanik.
Perayaan Ekaristi berlangsung meriah dan penuh sukacita. Suasana semakin hidup ketika puluhan anak Sekolah Minggu menghantarkan umat dalam doa melalui lantunan lagu-lagu rohani yang indah, membantu umat memasuki misteri perjamuan kudus dengan hati yang terbuka dan penuh syukur. Namun, di balik kemeriahan perayaan, umat diajak untuk menyelami makna mendalam Pesta Pembaptisan Tuhan melalui homili yang kuat dan reflektif.
Dalam homilinya, RD. Wendilinus Pantaleon, yang akrab disapa Pastor Wens dan dikenal sebagai pribadi yang murah senyum, menegaskan kembali makna serta tujuan pembaptisan dalam Gereja Katolik. Ia menjelaskan bahwa pembaptisan bukan sekadar sebuah ritus atau tradisi, melainkan sebuah peristiwa iman yang mengubah hidup seseorang secara mendasar.

Pastor Wens memaparkan tiga tujuan utama pembaptisan Katolik. Pertama, pembaptisan menjadikan seseorang lahir baru sebagai anak Allah, memasuki hidup yang baru dalam rahmat. Kedua, pembaptisan mempersatukan seseorang dengan Kristus dan Tubuh-Nya, yakni Gereja, sehingga ia tidak lagi hidup sendiri, melainkan sebagai bagian dari umat Allah. Ketiga, melalui pembaptisan, seseorang menerima Roh Kudus dan diutus untuk bersaksi, menghadirkan nilai-nilai Kerajaan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Secara khusus, Pastor Wens menambahkan penjelasan mengenai baptis dewasa. Ia menegaskan bahwa dalam baptis dewasa terdapat tujuan tambahan yang sangat penting, yakni menghapus dosa asal sekaligus dosa-dosa pribadi yang telah dilakukan, sehingga calon baptis dewasa tidak perlu lagi menerima Sakramen Tobat sebelum pembaptisan. Pembaptisan menjadi titik awal hidup baru yang sungguh bersih dan diperbarui dalam Kristus.

Di akhir khotbahnya, Pastor Wens menyampaikan pesan yang tajam dan menggugah, terutama bagi mereka yang belum dibaptis. Ia mengingatkan agar jangan menunda pembaptisan dengan alasan ingin menunggu dewasa atau bahkan menunggu saat ajal mendekat. Menurutnya, pembaptisan bukanlah “tiket akhir” menjelang kematian, melainkan awal dari perutusan. Setelah dibaptis, setiap orang dipanggil untuk bersaksi kepada dunia melalui iman, sikap hidup, dan perbuatan kasih. Menunda pembaptisan berarti menunda, bahkan berpotensi menghilangkan, tugas kesaksian itu sendiri.

“Gereja dan dunia membutuhkan kesaksian orang-orang yang telah dibaptis, yang hidupnya mencerminkan Kristus,” tegas Pastor Wens, menutup homilinya dengan ajakan agar umat semakin menyadari tanggung jawab iman yang lahir dari Sakramen Baptis.
Perayaan Ekaristi Pesta Pembaptisan Tuhan di Paroki Belinyu pun ditutup dengan rasa syukur dan refleksi mendalam. Melalui homili yang berfokus pada makna pembaptisan, umat diajak untuk kembali menghidupi rahmat baptisan mereka dan setia menjadi saksi Kristus di tengah kehidupan sehari-hari.
Kontributor : KOMSOS Paroki Belinyu

