Larantuka, Berkatnews.com – Pada rangkaian perayaan tahbisan Mgr. Yohanes Hans Monteiro sebagai Uskup Keuskupan Larantuka yang dilaksanakan sejak tanggal 09 – 12 Febuari 2026 , kehadiran Pasutri sebagai pendamping uskup yang disebut orang Tua Nagi menjadi bagian penting dari kekayaan tradisi Lamaholot dan semangat pelayanan umat Keuskupan Larantuka. Salah satu pasutri yang dipercaya menjalankan tugas tersebut adalah Bapak Pius Gabriel Sala Lebao dan Ibu Maria Gabriela Fernandez, yang akrab disapa Pius dan Lelly. Mereka dipercayakan panitia tahbisan mendampingi Uskup Adrianus Sunarko, OFM-Uskup Keuskupan Pangkalpinang.
Bapak Pius merupakan seorang guru yang saat ini menjabat sebagai Kepala Sekolah (PNS), sedangkan Ibu Lelly sebelumnya berkarya sebagai karyawan Sekpas Keuskupan Larantuka dan kini telah memasuki masa pensiun. Keduanya terlibat langsung sebagai pendamping Uskup Adrianus dalam momentum bersejarah tersebut.
Makna dan Tanggung Jawab sebagai Orang Tua Nagi
Dalam keterangannya, Bapak Pius menjelaskan bahwa tugas orang Tua Nagi bukan sekadar tugas seremonial.
“Kami mendampingi Bapa Uskup sejak beliau tiba di Nagi (Larantuka), selama berada di sini, hingga menghantar beliau kembali. Kami juga siap mengantar beliau ke tempat-tempat yang dikehendaki. Pendampingan ini dilaksanakan dengan tulus dan penuh tanggung jawab,”ungkapnya
Peran ini awalnya dipercayakan kepada keluarga uskup tertabis. Namun karena kebutuhan yang lebih luas, beberapa pasutri lain turut dihimbau untuk mengambil bagian secara sukarela. Salah satu syarat yang ditetapkan panitia adalah kesiapan dan kerelaan hati untuk melayani, termasuk menyediakan kendaraan yang layak guna mendukung mobilitas Uskup selama berada di Nagi.
Pengalungan Selendang dan Nowing
Dalam tradisi Lamaholot, setiap tamu agung yang mengunjungi suatu wilayah akan disambut dengan pengalungan selendang sebagai tanda penghormatan. Pada perayaan tahbisan, selendang di bandara disiapkan oleh panitia, sedangkan nowing (sarung tenun khusus untuk laki-laki) disiapkan secara pribadi oleh pasutri pendamping.
Mereka menegaskan bahwa nowing memiliki makna yang mendalam.
“Pemberian nowing adalah lambang cinta kasih dan dukungan kami kepada Bapa Uskup dalam panggilan imamat dan tugas pengembalannya. Itu bukan sekadar simbol adat, tetapi ungkapan hati umat kepada gembalanya,”jelas mereka.
Sarung yang dikenakan para Uskup dalam perayaan tersebut juga disiapkan secara mandiri oleh para pasutri pendamping sebagai wujud partisipasi dan persembahan kasih.

Bapa Uskup bersama pasutri yang menemani uskup selama di Larantuka
Pelayanan dalam Kerendahan Hati
Dalam pelaksanaan tugas, tentu tidak semua berjalan tanpa tantangan. Pernah terjadi kendala teknis saat penjemputan dari bandara karena sopir mengalami kegugupan sehingga kendaraan sempat mengalami gangguan. Menyikapi situasi tersebut, pasutri pendamping bersepakat untuk secara langsung mengambil tanggung jawab mengantar dan mendampingi para Uskup selama rangkaian kegiatan berlangsung.
Dengan rendah hati, Bapak dan Ibu Pius mengakui bahwa pelayanan mereka tentu memiliki kekurangan. Namun semuanya dilakukan dengan niat tulus demi kelancaran perayaan dan demi penghormatan kepada para gembala Gereja.
“Semua yang kami lakukan semata-mata karena cinta dan kerelaan melayani,” ungkap mereka.
Melayani sebagai Ungkapan Iman yang Hidup
Pengalaman menjadi orang Tua Nagi menghadirkan refleksi mendalam bagi Bapak dan Ibu Pius. Bagi mereka, pelayanan ini bukan hanya soal adat dan tanggung jawab sosial, tetapi terutama panggilan iman.
Pelayanan yang dijalankan dengan tulus mengingatkan bahwa Gereja dibangun bukan hanya oleh para gembala, tetapi juga oleh umat yang dengan rendah hati mengambil bagian dalam tugas-tugas kecil maupun besar. Dalam kesederhanaan mendampingi, mengantar, dan memastikan kenyamanan, tersirat makna kehadiran yang penuh kasih, sebuah bentuk pelayanan nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Tradisi selendang dan nowing bukan sekadar simbol budaya, melainkan tanda konkret bahwa iman dan budaya dapat berjalan seiring, saling memperkaya dan memperdalam makna kebersamaan.
Dalam terang iman, pelayanan yang dilakukan dengan kerelaan hati menjadi persembahan yang berkenan kepada Tuhan. Seperti Sabda yang mengajarkan bahwa “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu” (Mat 20:26), pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kebesaran sejati terletak pada kesediaan untuk melayani (martin da silva, pr/vsh)

