Larantuka, Berkatnews.com – Tanah Lamaholot menyimpan kisah dalam setiap kain yang dilipat dengan hati-hati. Selendang tenun, misalnya, bukan sekadar kain biasa. Simbol dari salam, pelukan, dan jembatan kasih yang menghubungkan manusia satu dengan yang lain. Setiap tamu agung yang menginjakkan kaki di tanah Lamaholot disambut dengan selendang; simbol kehangatan dan keterbukaan hati masyarakat. Dalam helai-helai kain yang dipintal dari benang oleh tangan-tangan penuh kasih itu tersimpan pesan sederhana namun mendalam: “Kami menyambutmu dengan cinta dan persaudaraan kami.”
Ketika Uskup dan Romo yang mewakili Uskupnya hadir mengikuti tahbisan Uskup Keuskupan Larantuka, mereka tidak hanya menerima sambutan resmi di bandara, tetapi juga rasa hormat yang lahir dari tradisi dan cinta. Selendang yang melingkar di leher mereka menjadi saksi bisu dari hubungan hangat antara gembala dan umat, antara budaya dan iman.

Pemberian selendang dan Nowing oleh pasutri pada Bapa Uskup Adrianus
Lebih dari itu, nowing—sarung tenun khas laki-laki—membawa makna yang lebih personal dan mendalam. Diletakkan di bahu kanan Uskup oleh pasutri pendamping sebelum vesper agung, nowing adalah ungkapan kasih yang lembut dan penuh doa. Ia bukan sekadar simbol adat; ia adalah suara hati umat yang berkata: “Kami mendukungmu, kami mendoakanmu, kami mencintaimu dalam setiap langkah pelayananmu.” Setiap lipatan kain, setiap motif tenun, adalah doa yang dijalin dengan ketekunan dan kesetiaan.
Selendang dan nowing mengajarkan kita bahwa budaya dan iman bukanlah dua dunia yang terpisah. Mereka hidup berdampingan, saling menguatkan, dan menegaskan bahwa kasih, doa, dan kebersamaan bisa diwujudkan dalam bentuk yang sederhana dalam kain, dalam sentuhan, dalam perhatian yang tulus. Di Tanah Lamaholot, tradisi menjadi bahasa hati, dan setiap helai tenun adalah saksi bisu dari cinta yang mengalir dari umat kepada gembala mereka, dan dari gembala kepada umatnya.
Selendang dan nowing bukan sekadar atribut perayaan; keduanya adalah lambang nyata bahwa di balik setiap kain tersimpan hati yang hangat, iman yang hidup, dan cinta yang tak lekang oleh waktu (martin da silva, pr/vsh)

