Home GEREJA Ada yang Berbeda, Perayaan Imlek di  Gereja Santo Paulus Dirayakan Dengan Berbagai Busana Etnis

Ada yang Berbeda, Perayaan Imlek di  Gereja Santo Paulus Dirayakan Dengan Berbagai Busana Etnis

by Veronika Suci Handayani

Pangkalpinang, Berkatnews.com — Nuansa merah serta doa syukur menyatu dalam Perayaan Ekaristi Syukur Tahun Baru Imlek yang digelar di Gereja Katolik Paroki Santo Paulus Kampung Jeruk, Senin (16/2/2026).

Dari pintu masuk hingga altar, warna merah mewarnai dekorasi Gereja selaras dengan busana umat dan petugas liturgi yang turut mengenakan warna serupa, menghadirkan suasana Imlek yang hidup dan hangat.

Perayaan Ekaristi Tahun Baru Imlek

Misa Syukur ini dipimpin Pastor Paroki Santo Paulus, RD. Stanislaus Bani, didampingi Diakon Perado. Dalam perayaan tersebut, umat diajak memasuki Tahun Baru Imlek dengan hati yang penuh syukur sekaligus kesiapan iman untuk melangkah ke depan.

Dalam homilinya, Romo Stanislaus mengajak umat memaknai Tahun Baru sebagai waktu memohon berkat dan perlindungan Tuhan, sekaligus kesempatan memperbarui semangat hidup. Ia menekankan pentingnya keberanian, kerja atas diri sendiri, kebijaksanaan dalam mengambil langkah, serta sikap optimis dalam menghadapi tantangan.

Pesan homili itu mengajak umat untuk tidak hanya memohon berkat bagi diri sendiri, tetapi juga menjadi saluran berkat bagi sesama. Dengan iman yang teguh, umat diajak untuk berani bersaksi di tengah masyarakat, menjaga kesaksian hidup, serta tetap melangkah bersama Tuhan di tengah dinamika kehidupan yang tidak selalu mudah.

“Kita berikan semangat optimisme, dan tentu saja dengan iman yang teguh, kita dapat menghadapi masalah-masalah. Dan kita harus harus terbaik ketika kita menghadapi tantangan-tantangan,” pesan homili dari Romo Stanis.

Tampak berbagai busana etnis dikenakan umat dalam Perayaan Ekaristi

Dalam perayaan ekaristi ini ada yang tampak berbeda,  yaitu busana yang dipakai oleh beberapa umat, ada kostum bernuansa Tionghoa, sejumlah umat juga mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah seperti Jawa, Flores, Batak, dan etnis lainnya. Busana yang digunakan oleh umat ini akan diperlombakan dan diniliai untuk masuk ke 8 kategori kostum terbaik.

Ketua Panitia Perayaan Tahun Baru Imlek, Yohan, menyampaikan bahwa keberagaman tersebut merupakan wujud nyata persatuan umat.

“Karena di sini kita satu gereja, satu tubuh, tubuh Kristus sendiri. Walaupun berbeda-beda kultur, kita mau bersatu menjadi satu tubuh Kristus untuk memuliakan nama Tuhan,” ujarnya saat ditemui wawancara oleh tim Berkatnews.com.

Ia juga menyampaikan harapan agar paroki semakin menjadi rumah bersama yang hidup, di mana umat semakin bertumbuh dalam iman dan semakin mengenal Yesus sebagai Tuhan dan Raja.

Pembagian jeruk dan angpao

Menjelang akhir perayaan, setelah berkat penutup, Romo Stanislaus memberkati angpao dan jeruk yang kemudian dibagikan kepada umat sebagai simbol doa, rezeki, dan harapan baik di tahun yang baru.

Kemeriahan pesta Tahun Baru Imlek di depan Gereja

Setelah Misa, kemeriahan berlanjut dengan pertunjukan barongsai yang disambut antusias umat. Atraksi tersebut menjadi simbol sukacita dan harapan akan keberkahan di tahun yang baru.

Lalu dilanjutkan dengan pembagian apresiasi bagi 8 pemenang kostum terbaik yang diberikan oleh Romo Stanis, dan perayaan malam tahun baru Imlek ditutup dengan kemeriahan kembang api yang menghiasi langit dan menandai awal Tahun Baru Imlek dengan penuh sukacita. (Vsh)

Related Articles

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

phone hack apply job vacancy nonton film streaming teknosehat blog kesehatan, kecantikan, dan teknologi