Vatican, Berkatnews.com – Direktur Editorial Vatican News merefleksikan homili Paus Leo XIV pada Misa Rabu Abu dan tanggung jawab pribadi serta kolektif kita di dunia “yang sedang menyala.”
“Betapa jarangnya kita menemukan orang dewasa yang bertobat—individu, perusahaan, dan lembaga yang mengakui telah berbuat salah!”
Dengan kata-kata ini, Pope Leo XIV, dalam homilinya pada Misa Rabu Abu di Basilika St. Sabina, mengungkapkan kenyataan khas zaman kita: kita hidup di dunia di mana orang, perusahaan, dan lembaga di setiap tingkatan jarang sekali mengakui kesalahan mereka.
Kita bergumul untuk mengakui bahwa kita keliru. Kita merasa sulit untuk meminta maaf. Kita enggan mengakui bukan hanya satu kesalahan, tetapi kesalahan-kesalahan kita.
Awal Masa Prapaskah memberi kesempatan istimewa bagi umat Kristiani untuk menyadari diri sebagai orang berdosa yang membutuhkan belas kasih. Menarik bahwa Penerus St. Petrus menekankan dimensi komunal dari perjalanan ini. “Gereja ada sebagai komunitas para saksi yang mengakui dosa-dosa mereka,” katanya.
Daripada terus-menerus mencari musuh di luar dan memandang dunia seolah-olah kita selalu berada di pihak yang benar, kita dipanggil pada jalan yang berlawanan dengan arus budaya: keberanian untuk memikul tanggung jawab, baik secara pribadi maupun bersama.
Dosa memang bersifat pribadi, seperti yang ditekankan Paus. Namun, sambil menggemakan ensiklik Sollicitudo rei socialis dari Paus Yohanes Paulus II, ia mengingatkan bahwa dosa juga mengambil bentuk dalam konteks nyata maupun virtual kehidupan. Dosa tertanam dalam sikap yang kita ambil terhadap sesama, saling memengaruhi satu sama lain, dan kerap mengeras menjadi “struktur-struktur dosa” dalam bidang ekonomi, budaya, politik, bahkan keagamaan.
Di antara struktur-struktur tersebut, kita dapat melihat unsur-unsur sistem ekonomi dan keuangan masa kini yang menghasilkan ketimpangan dan ketidakadilan yang mencolok—yang oleh Paus Fransiskus dalam anjuran apostolik Evangelii Gaudium disebut sebagai “ekonomi yang membunuh.” Termasuk pula kepentingan ekonomi besar yang mendorong perdagangan senjata global, yang terus hidup karena konflik berkepanjangan.
Abu yang diletakkan di atas kepala setiap orang—dan juga atas seluruh komunitas—mengajak kita, kata Paus Leo XIV, untuk merasakan “beban dunia yang sedang menyala, kota-kota yang hancur oleh perang.”
Abu itu bukan hanya lambang kerapuhan pribadi, tetapi juga kehancuran yang lebih luas: runtuhnya hukum internasional dan keadilan antarbangsa; kerusakan ekosistem; hilangnya harmoni di antara bangsa-bangsa; meredupnya pemikiran kritis dan kebijaksanaan lokal kuno; serta memudarnya rasa akan yang sakral yang berdiam dalam setiap ciptaan.
Dalam menjalani perjalanan Prapaskah bersama, kita semakin menyadari bahwa dosa pribadi tidak pernah berhenti pada diri sendiri. Ia diperbesar dan mengkristal menjadi struktur yang melukai masyarakat dan bangsa-bangsa.
Menerima abu menjadi bukan hanya pemeriksaan batin pribadi, tetapi juga permenungan bersama. Sebagai komunitas, sebagai bangsa, sebagai Eropa, sebagai lembaga-lembaga internasional, kita perlu bertanya: Apakah kita sungguh telah melakukan segala yang mungkin untuk mengakhiri perang di Ukraina, yang dimulai dengan invasi besar-besaran Rusia pada tahun 2022? Sudahkah semua jalan perundingan ditempuh, ataukah kita pasrah pada perlombaan senjata yang kian dipercepat?
Bagaimana serangan tidak manusiawi yang dilakukan Hamas terhadap warga Israel berujung pada kehancuran hampir total Gaza, dengan puluhan ribu korban jiwa? Mengapa begitu sedikit yang berhasil dilakukan untuk menghentikan pertumpahan darah itu?
Bagaimana kita dapat menerima penindasan keras terhadap kebebasan berekspresi di negara-negara di mana protes damai dibungkam dengan korban ribuan jiwa? Bagaimana kita dapat menoleransi tragedi yang terus berlangsung di Laut Tengah, di mana para migran terus tenggelam—korban dari ketidakpedulian sama besarnya dengan keadaan?
“Kita mengakui dosa-dosa kita agar kita dapat bertobat,” tutup Paus. “Ini sendiri sudah menjadi tanda dan kesaksian Kebangkitan. Artinya, kita tidak akan tinggal di antara abu, tetapi akan bangkit dan membangun kembali.”
Dengan demikian, Prapaskah bukanlah musim keputusasaan. Ia adalah musim kebenaran. Hanya dengan mengakui kegagalan pribadi dan kolektif kita, kita dapat mulai membangun kembali—bangkit dari abu dunia yang terbakar menuju janji pembaruan (martin da silva, pr)

