Vatican (Jumat, 20 Februari 2026) – Berkatnews.com Dalam pesannya untuk bulan Ramadan, Dikasteri untuk Dialog Antaragama menyoroti bertepatannya Ramadan dan Masa Prapaskah tahun ini, serta mengungkapkan harapan agar kedua masa suci tersebut “menjadi katalis bagi dunia yang diperbarui, di mana senjata perang digantikan oleh keberanian akan perdamaian.”
“Melalui masa bersama Ramadan dan Prapaskah ini, semoga pertobatan batin kita menjadi katalis bagi dunia yang diperbarui, di mana senjata perang digantikan oleh keberanian akan perdamaian.”
Demikianlah kata-kata dalam pesan Dikasteri untuk Dialog Antaragama untuk Ramadan dan Idulfitri, yang ditandatangani oleh Prefek, Kardinal George Jacob Koovakad, dan Sekretaris, Monsinyur Indunil J.K. Kodithuwakku.
“Damai — inilah harapan tulus saya,” demikian bunyi pesan tersebut, “bagi masing-masing dari Anda, bagi keluarga Anda, dan bagi bangsa-bangsa tempat Anda hidup.”
Damai, tulis Kardinal Koovakad, lahir dari “pelucutan senjata hati, pikiran, dan kehidupan,” serta merupakan anugerah dari Allah yang dipelihara melalui dialog, keadilan, dan kasih yang mengampuni.
Tidak menyerah pada keputusasaan
Sambil mengungkapkan solidaritas dan rasa hormat Takhta Suci kepada umat Muslim, pesan tersebut menyoroti “pertemuan kalender yang bersifat penyelenggaraan ilahi,” mengingat saat ini umat Kristiani sedang menjalani Masa Prapaskah.
Di dunia masa kini yang dipenuhi oleh “informasi, narasi, dan sudut pandang yang saling bersaing,” pesan itu menyatakan bahwa kita dapat tergoda untuk menyerah pada keputusasaan atau kekerasan.
Namun, kata Kardinal Koovakad, orang-orang beriman harus memilih jalan yang lain. Umat Kristiani dan Muslim “dipanggil untuk membayangkan dan membuka jalan-jalan baru agar kehidupan dapat diperbarui.” Hal ini terwujud melalui doa, “puasa yang menjernihkan penglihatan batin kita, dan tindakan kasih yang nyata.”
Berani mengupayakan perdamaian
Kardinal Koovakad juga menyampaikan kedekatan Gereja kepada saudara-saudari Muslim, “terutama mereka yang berjuang atau menderita dalam tubuh maupun jiwa karena kerinduan akan keadilan, kesetaraan, martabat, dan kebebasan.”
Umat Muslim dan Kristiani “dipersatukan bukan hanya oleh pengalaman bersama akan ujian, tetapi juga oleh tugas suci untuk memulihkan perdamaian di dunia kita yang terluka.”
Pesan tersebut ditutup dengan harapan agar Masa Prapaskah dan Ramadan “menjadi katalis bagi dunia yang diperbarui, di mana senjata perang digantikan oleh keberanian akan perdamaian.” (martin da silva, pr).

