Vatican, Berkatnews.com – Paus Leo XIV menjawab empat pertanyaan dari para imam Keuskupan Roma dan memberikan tanggapan luas tentang bimbingan rohani, arahan untuk pelayanan dan karya pastoral, internet, dan banyak lagi.
Oleh Salvatore Cernuzio (Vatican News, 20 Februari 2026)
Dialog antara Paus Leo XIV dan para klerus Keuskupan Roma pada hari Kamis berlangsung terbuka dan penuh ketulusan.
Setelah menyampaikan ceramahnya, Paus mengadakan sesi tanya jawab dengan para imam, yang isinya dirilis keesokan harinya, Jumat, 20 Februari.
Ada empat pertanyaan dan jawaban, namun topik yang dibahas sangat beragam, mulai dari bimbingan rohani, arahan konkret bagi pelayanan dan karya pastoral, hingga rekomendasi khusus seperti tidak menyiapkan homili dengan kecerdasan buatan.
Menjadi teladan bagi kaum muda
Dialog yang berlangsung secara tertutup itu diperkenalkan oleh Kardinal Baldo Reina, Vikaris Jenderal Roma, yang menghadirkan empat imam—mewakili empat kelompok usia—untuk mengajukan pertanyaan.
Di antara mereka ada seorang imam muda yang ditahbiskan oleh Paus Leo pada bulan Mei lalu. Ia bertanya bagaimana para imam muda dapat mendukung rekan-rekan mereka di dunia masa kini.
Paus pertama-tama mendorong mereka untuk “membuka mata” terhadap keluarga asal kaum muda, yang sering mengalami “krisis yang sangat serius”, dengan orang tua yang tidak hadir atau orang tua yang “bercerai, menikah lagi.”
Banyak kaum muda juga “mengalami penelantaran,” lanjut Paus, sehingga para imam harus “mengenal realitas mereka.” “Dekatilah mereka dalam arti ini, dampingilah mereka, tetapi jangan menjadi sekadar salah satu dari kaum muda itu,” katanya, seraya menambahkan bahwa “kesaksian imam” sangat penting karena menawarkan “model kehidupan.”
Isolasi dan kehidupan yang suram
Paus juga meminta para imam agar tidak puas hanya dengan kaum muda yang masih datang ke paroki: “Kita harus mengorganisasi, berpikir, mencari inisiatif yang dapat menjadi bentuk penjangkauan.”
“Kita sendiri harus pergi, kita harus mengundang kaum muda lain, keluar ke jalan bersama mereka; mungkin menawarkan cara-cara yang berbeda,” seperti kegiatan olahraga, seni, dan budaya.
Menurut Paus Leo, mengenal sesama adalah unsur kunci, dan pengenalan itu lahir dari “pengalaman manusiawi persahabatan” dengan kaum muda yang “hidup dalam keterasingan, dalam kesepian yang luar biasa.”
Ia menyoroti bagaimana kesepian ini meningkat terutama setelah pandemi, juga karena penggunaan ponsel pintar. “Mereka hidup dalam semacam jarak dari orang lain, dalam dinginnya relasi, tanpa mengenal kekayaan dan nilai relasi manusiawi yang sejati,” jelas Paus.
Karena itu, kita harus memahami bagaimana menawarkan kepada kaum muda “jenis pengalaman persahabatan yang lain, kebersamaan, dan perlahan-lahan persekutuan,” dan dari pengalaman itu “mengajak mereka juga mengenal Yesus.”
Paus Leo XIV menegaskan bahwa hal ini membutuhkan “waktu” dan “pengorbanan,” mengingat banyak kaum muda masa kini terjebak dalam “kehidupan yang suram” penuh narkoba, kriminalitas, dan kekerasan.
Mengenal komunitas yang dilayani
Kedekatan dan pengenalan juga menjadi dua jalan yang ditunjukkan Paus bagi karya pastoral, menjawab pertanyaan seorang pastor paroki tentang bagaimana menjadi efektif dalam budaya pascamodern tanpa kembali pada pendekatan “usang.”
Paus mengatakan langkah pertama adalah “benar-benar mengenal komunitas tempat saya dipanggil untuk melayani.”
Ia membagikan pengalaman pribadinya, karena pernah tinggal di Roma dalam beberapa periode hidupnya. Ia menekankan bahwa setiap kali kembali ke “Kota Abadi”, “jalan-jalannya sama, lubang-lubangnya sama, tetapi kehidupan sudah sangat berubah.”
Mengenang kunjungannya ke sebuah paroki di wilayah selatan Ostia pada Minggu, 15 Februari, ia menegaskan bahwa “untuk berbicara dengan orang-orang ini, kita harus mulai dengan mengenal realitas mereka sedalam mungkin.”
Tidak pada homili yang disiapkan dengan Kecerdasan Buatan
Paus kemudian mengajak para imam untuk masuk ke dalam kehidupan nyata dan bersikap waspada terhadap kecerdasan buatan dan penggunaan internet. Ia memperingatkan terhadap “godaan menyiapkan homili dengan Kecerdasan Buatan.”
“Seperti semua otot dalam tubuh, jika tidak digunakan, jika tidak digerakkan, ia mati. Otak perlu digunakan, maka kecerdasan kita juga harus dilatih agar tidak kehilangan kemampuan itu,” katanya.
Selain itu, “memberikan homili yang sejati berarti membagikan iman,” dan AI “tidak akan pernah bisa membagikan iman,” tegasnya.
“Jika kita dapat menawarkan pelayanan yang berinkulturasi dengan tempat dan paroki di mana kita bekerja, orang ingin melihat imanmu, pengalamanmu telah mengenal dan mengasihi Yesus Kristus.”
Tipu daya internet
Dalam hal ini, “hidup doa” sangat mendasar—bukan sekadar “rutinitas mendaraskan brevir secepat mungkin,” melainkan “waktu yang dihabiskan bersama Tuhan,” jelas Paus.
Dengan hidup yang sungguh berakar dalam Tuhan, seseorang dapat menawarkan sesuatu yang berbeda. Ia menambahkan bahwa sering kali ada “ilusi di internet, di TikTok,” seakan-akan dengan menampilkan diri dan memperoleh ‘likes’ serta ‘followers’, kita sedang memberi sesuatu.
“Itu bukan dirimu: jika kita tidak menyampaikan pesan Yesus Kristus, mungkin kita keliru, dan kita harus merenungkan dengan sangat hati-hati dan rendah hati tentang siapa diri kita dan apa yang kita lakukan,” tegas Paus Leo XIV.
“Invidia clericalis”
Nasihat lain yang diberikan Paus adalah agar para imam hidup dalam persaudaraan dan persahabatan, membangun relasi antarpersonal di antara mereka. Namun ia memperingatkan tentang salah satu “pandemi” klerus di tingkat universal, yaitu “invidia clericalis”—iri hati klerikal.
Ia menjelaskan, ini terjadi ketika “seorang imam melihat imam lain dipanggil menjadi pastor di paroki yang lebih besar, lebih indah, atau dipanggil menjadi vikaris,” lalu relasi retak dan muncul gosip, alih-alih membangun “jembatan persahabatan.”
“Kita semua manusia; ada perasaan, emosi, banyak hal, tetapi sebagai imam—dan saya harap sudah sejak seminari—kita dapat menawarkan model kehidupan di mana para imam sungguh menjadi sahabat, saudara, bukan musuh atau saling tak peduli,” kata Paus Leo.
Contoh persaudaraan imamat
Dalam hal ini, ia mengenang contoh indah persaudaraan imamat di Chicago, kota asalnya, di mana sekelompok imam memutuskan untuk bertemu sebulan sekali sejak masih di seminari. Beberapa terus melakukannya hingga usia lebih dari 90 tahun—berkumpul, berdoa, dan belajar bersama.
Belajar dan terus menimba pengetahuan adalah hal lain yang ditekankan Paus: “Belajar dalam hidup kita harus permanen, berkelanjutan. Ketika saya mendengar seseorang berkata—ini benar, seorang imam pernah berkata—‘Saya tidak membuka buku sejak meninggalkan seminari.’ Astaga, saya berpikir, betapa menyedihkan!”
Paus mengajak para imam untuk proaktif: jangan takut mengetuk pintu sesama, mengambil inisiatif, berkata kepada rekan-rekan: mengapa tidak bertemu untuk belajar bersama, berefleksi bersama, berdoa, lalu makan siang bersama?
Pada saat yang sama, penting untuk memiliki relasi persaudaraan yang lebih mendalam dengan beberapa orang tertentu. Artinya, “menciptakan situasi untuk mematahkan kecenderungan yang membawa kita pada kesendirian dan keterasingan satu sama lain.”
Masa tua
Berbagi sukacita, kesulitan, dan pengalaman membantu mengatasi krisis dan mempersiapkan diri menerima saat ketika “masa tua, penyakit, dan kesepian” datang.
“Jika seseorang menjalani hidup sebagai sebuah peziarahan yang membawa kita maju, bahkan dengan beban usia dan juga penyakit serta kesulitan, ia akan memiliki kemampuan, dengan rahmat Tuhan, untuk menerima salib dan penderitaan yang datang,” kata Paus.
Dalam konteks ini, ia juga menyinggung isu eutanasia yang dibahas di banyak negara dan sudah legal di beberapa tempat, seperti Kanada. “Jika kita sendiri begitu negatif terhadap hidup kita, dan kadang dengan penderitaan yang lebih ringan dari banyak orang lain, bagaimana kita bisa berkata kepada mereka: ‘Tidak, kamu tidak boleh mengakhiri hidupmu, kamu harus menerimanya’?” tanyanya.
Memberi kesaksian tentang nilai hidup
“Kita harus menjadi yang pertama memberi kesaksian bahwa hidup memiliki nilai yang sangat besar,” tambahnya, menekankan pentingnya syukur, kerendahan hati, dan kedekatan.
Ia mendorong para imam untuk mengunjungi orang lanjut usia dan orang sakit, serta kembali membiasakan diri membawa Komuni dan Sakramen Pengurapan Orang Sakit kepada umat yang sakit.
“Sekarang, dengan imam lebih sedikit dan umat lanjut usia lebih banyak, sering dikatakan: ‘Kita kirim saja awam.’ Itu pelayanan yang indah… Tetapi bukan berarti imam bisa tinggal di rumah membuka internet sementara yang lain berkunjung,” katanya.
Terakhir, Paus menyapa para imam lanjut usia sendiri: “Sekalipun mereka sakit di tempat tidur, jika mereka telah menjalani hidup dalam pelayanan dan pengorbanan, mereka tahu bahwa doa mereka adalah pelayanan besar, anugerah besar. Hidup mereka masih memiliki makna yang besar.” (martin da silva, pr)

