Desa Kampung Jeruk,Berkatnews.com — Sore hari dengan angin berembus sejuk di sebuah gazebo sederhana di Desa Kampung Jeruk sebuah tempat peristiwa istimewa terjadi. Misa Ekaristi Katolik dirayakan di kediaman seorang tokoh Kristen Protestan, Rudianto Tjen.
Rabu, 21 Januari 2026, Rudianto Tjen yang kini menjabat sebagai Anggota DPR RI mengundang Bapa Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr Adrianus Sunarko, OFM, bersama para Romo, Suster, Bruder, Diakon dan Frater, dalam perayaan syukur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Sebuah undangan lintas iman yang setiap tahun selalu dinanti, sekaligus menjadi simbol toleransi yang hidup dan nyata.

Suasana perayaan natal dan tahun baru bersama biarawan dan biarawati
Perayaan syukur ini diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin langsung oleh Bapa Uskup.
Tema yang diangkat dalam perayaan ini berbunyi: “Allah hadir di tengah keluarga dan mengutus kita memelihara Rumah Bersama.”
Tema ini terasa hidup sejak awal perayaan, tidak hanya lewat simbol dan doa, tetapi juga melalui refleksi yang disampaikan dalam homili.

Bapa Uskup Adrianus pimpin perayaan syukur natal dan tahun baru
Dalam homili yang disampaikan, Uskup Adrianus mengajak umat melihat krisis bukan semata sebagai kesulitan, melainkan kesempatan rahmat.
Ia mengingatkan kisah Daud yang berani menghadapi Goliat bukan dengan kekuatan senjata, melainkan dengan mengandalkan Tuhan.
“Krisis bisa menjadi sebuah kesempatan,” ungkapnya. Menurut Uskup Adrianus, Yesus memang datang untuk mengampuni dosa dan mengajak manusia bertobat, tetapi dalam banyak peristiwa, Yesus juga menunjukkan bagaimana manusia dipanggil untuk bertumbuh dan peduli, terutama saat berada dalam situasi sulit.
Bapa Uskup juga menambahkan bahwa dalam masa krisis, manusia sering kali sibuk menyelamatkan diri sendiri. Namun, Yesus justru mengajak untuk menoleh kepada mereka yang menderita dan berani membantu sesama. Dari situlah jalan keluar dari krisis bisa ditemukan.
Refleksi tersebut kemudian ditarik pada tema besar pemeliharaan “rumah bersama”.
Uskup Adrianus menekankan bahwa penderitaan bukan hanya dialami manusia, tetapi juga alam. Karena itu, umat diajak tidak menjadi penonton atau sekadar komentator, melainkan pelaku aktif dalam menjaga lingkungan, dimulai dari diri sendiri.
Usai homili dan perayaan Ekaristi, acara dilanjutkan dengan sambutan. Rudianto Tjen berhalangan hadir dan diwakili oleh Bahar Buasan, Anggota DPD RI.
Dalam sambutannya, Bahar menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Rudianto, sekaligus menyampaikan kebanggaan atas tradisi yang terus dijaga di tempat tersebut.
Ia menyebut, tidak banyak tempat di mana seorang Kristen Protestan secara konsisten setiap tahun mengadakan Misa Katolik bagi para rohaniwan dan rohaniwati.
Menurutnya, hal ini menjadi contoh nyata kepedulian dan toleransi antarumat beragama.

Bahar Buasan memberikan sambutan mewakili Rudianto Tjen
“Yang mengadakan ini seorang Kristen yang peduli dengan orang Katolik. Setiap tahun Misa diadakan di tempat ini,” ujarnya.
Ia juga menyinggung gazebo di kediaman Rudianto Tjen yang awalnya dirancang sebagai tempat pertemuan biasa, namun justru menjadi ruang doa dan perayaan iman lintas latar belakang. Sebuah rumah yang benar-benar menjadi “rumah bersama”, ungkap bahar buasan.
Usai Perayaan Ekaroisti, suasana berlanjut dengan ramah tamah dan pembagian doorprize. Tawa lepas dan sukacita para Romo, Suster, Bruder, dan Frater memenuhi halaman rumah. Natal dan Tahun Baru dirayakan dalam kebersamaan yang sederhana, hangat, dan penuh makna. (Vsh)

