Pangkalpinang, Berkatnews.com — Upaya menghadirkan ruang kaderisasi bagi mahasiswa-mahadiswi Katolik di Bangka Belitung mulai digerakkan. Komisi Kerawam Keuskupan Pangkalpinang mengadakan kegiatan Masa Orientasi Calon Cabang PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia) Kota Pangkalpinang, yang berlangsung selama tiga hari, 30 Januari–1 Februari 2026, di Wisma Aksi 1. Kegiatan ini diikuti mahasiswa Katolik dari berbagai kampus di Bangka Belitung.
Tujuan dari kegiatan Masa Orientasi ini adalah membentuk wadah untuk belajar yaitu PMKRI di Bangka, tentunya nilai -nilai yang mau di bawa adalah 3 benang merah adalah 3 nilai yang dipegang oleh PMKRI di seluruh Indonesia yaitu Kristianitas, intelektualitas, Fraternitas. Nilai 3 benang merah ini merupakan mahasiswa katolik dalam wadah PMKRI ini yang akan jadi garda dan bhayangkara gereja.
Masa orientasi ini menjadi langkah awal menuju lahirnya PMKRI di wilayah Kevikepan Bangka Belitung, sebuah organisasi mahasiswa Katolik yang selama ini belum hadir secara struktural di daerah tersebut. Dengan mengusung tema “Membentuk Kader Pro Ecclesia et Patria yang Kritis, Militan, dan Berintegritas,” kegiatan ini diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran berorganisasi sekaligus kepekaan sosial di kalangan mahasiswa.
Ketua Komisi Kerawam Keuskupan Pangkalpinang, RP Yohanes Agus Riyanto, MSF, turut hadir dan terlibat langsung dalam rangkaian kegiatan. Selama ini, Kevikepan Bangka Belitung memang belum memiliki PMKRI, padahal jumlah mahasiswa Katolik di berbagai kampus di sekitar Pangkalpinang tergolong banyak. Kondisi inilah yang mendorong Komisi Kerawam mengambil inisiatif untuk memulai proses kaderisasi.

PMKRI Cabang Palembang
Karena belum adanya PMKRI di wilayah ini, kegiatan masa orientasi calon cabang tersebut mendapat pendampingan dari PMKRI Cabang Palembang sebagai bagian dari Regio Sumatera yang membawahi wilayah Pangkalpinang.
Pada Sabtu, (31/01/2026) Romo Agus menjadi salah satu pemateri dengan membawakan topik Ajaran Sosial Gereja dalam kehidupan sosial dan politik. Dalam sesi tersebut, ia menyampaikan pentingnya ajaran sosial Gereja, terutama bagi mahasiswa yang kelak terlibat dalam organisasi kemasyarakatan.
“Ajaran sosial gereja ini begitu penting untuk kita, khususnya bagi mereka yang terlibat dalam ormas-ormas, dalam upaya untuk memperhatikan kehidupan bermasyarakat. Jadi materi orientasi salah satunya adalah mengenai ajaran sosial gereja,” ujarnya.

Romo Agus berikan materi Ajaran Sosial Gereja
Ia menjelaskan bahwa Gereja memiliki tradisi panjang dalam memperjuangkan martabat manusia melalui berbagai ensiklik para Paus. Salah satu yang paling dikenal adalah Rerum Novarum dari Paus Leo XIII.
“Rerum Novarum adalah yang sangat terkenal dari Paus Leo ke-13, menyampaikan pandangannya bagaimana gereja memang hendaknya memiliki kepedulian terhadap para pekerjaan, para buruh, di mana mereka bekerja itu hendaknya ya bekerja sesuai dengan martabat manusia itu sendiri,” jelasnya.
Menurutnya, perhatian terhadap hak-hak buruh dan pekerja merupakan bagian penting dari ajaran sosial Gereja agar manusia tidak diperbudak oleh sistem kerja yang mengabaikan martabat kemanusiaan.

Hadir sebagai peserta Mahasiswa Katolik se-Bangka-Belitung
“Jangan sampai mereka lalu diperbudak oleh kerja dan kerja tanpa memperhatikan martabat manusia itu sendiri. Maka soal hak-hak, soal hak buruh, hak pekerja, itu mestinya mendapatkan perhatian yang khusus,” lanjut Romo Agus.
Dalam konteks masa orientasi calon PMKRI ini, Romo Agus menyebut dirinya hanya memberikan pengantar dari sekian banyak ensiklik yang membahas ajaran sosial Gereja.
“Tujuannya adalah supaya para mahasiswa ini memiliki keprihatinan, memiliki kepedulian sosial. Bagaimana ke depan mereka ini sebagai orang Katolik, ya memang sungguh harus terpanggil untuk memperhatikan kehidupan masyarakat kita,” katanya.
Usai menyampaikan materi, Romo Agus kembali menegaskan nilai-nilai yang ingin ditanamkan melalui kegiatan ini.
“Nilai-nilai dari kegiatan ini yang diupayakan adalah soal kepedulian, tanggung jawab, dan juga jangan hanya sebagai mahasiswa yang diam ketika ada masalah-masalah sosial, tetapi mereka harus bersuara,” tuturnya saat ditemui wawancara oleh tim Berkatnews.
Ia juga menekankan bahwa mahasiswa perlu menyuarakan nilai-nilai luhur kekristenan dan kekatolikan, tidak hanya di ruang akademik, tetapi juga dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain belajar di kampus, menurutnya, mahasiswa perlu belajar berorganisasi, membangun kepemimpinan, dan bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk dengan pemeluk agama lain.
“Maka soal dialog, soal komunikasi sosial, mestinya juga dimiliki, tertanam dalam hati para mahasiswa mulai dari sekarang,” tutupnya. (vsh)

