Batam , Berkatnews.com – Tanggung jawab bersama terhadap lingkungan hidup dibedah dari sudut iman, pengalaman lapangan, dan kebijakan publik dalam Dialog Kerukunan Intern Umat Beragama Katolik Kevikepan Kepulauan Riau, Kamis (8/1/2026). Dialog ini digelar usai Perayaan Ekaristi Pembukaan Tahun Pastoral Keuskupan Pangkalpinang dan mengangkat tema “Bertanggung Jawab Bersama dalam Melaksanakan Misi untuk Memelihara Rumah Bersama.”
Kegiatan dialog dibuka dengan pemukulan gong oleh Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Mgr. Adrianus Sunarko, OFM, sebagai tanda dimulainya rangkaian refleksi dan diskusi. Dialog ini menghadirkan tiga narasumber, yakni Mgr. Adrianus Sunarko, OFM Uskup Keuskupan Pangkalpinang, Ricky Ismail Soerapoetra, SE dari Anambas Foundation, serta Bapak IP, Kepala Bidang PLH Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam. Diskusi dipandu oleh RP. Philips Junianto, SS.CC.
Dalam pemaparan narasumber pertama, Uskup Adrianus lebih dahulu meletakkan dasar religius mengapa Gereja terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Ia menjelaskan bahwa perhatian terhadap alam tidak bisa dilepaskan dari iman Kristiani.

Uskup Adrianus sampaikan materi berkaitan dengan Laodato Si
“Saya ingin memberi sedikit input tentang latar belakang atau motivasi religius, kenapa kita terlibat dalam upaya-upaya melestarikan lingkungan hidup,” ungkap Uskup Adrianus.
Ia merujuk pada ensiklik Laudato Si’ Paus Fransiskus yang memotret kondisi konkret dunia saat ini, mulai dari kerusakan lingkungan, polusi, perubahan iklim, krisis air, hingga hilangnya keanekaragaman hayati dan penurunan kualitas hidup manusia.
“Orang sebenarnya sudah tahu masalahnya, tetapi Paus merasa tanggapan untuk mengatasi itu masih lemah,” ujarnya.
Uskup Adrianus juga menyinggung adanya perbedaan pandangan, termasuk di kalangan umat Katolik sendiri, tentang apakah isu lingkungan merupakan urusan iman atau tidak. Dari sudut iman Kristiani, ia menilai persoalan ini berkaitan dengan cara pandang manusia terhadap ciptaan.
“Ada gejala antroposentrisme, cara berpikir yang terlalu berpusat pada manusia. Harmoni antara pencipta, manusia, dan ciptaan menjadi rusak,” katanya.
Menurutnya, dosa tidak hanya berdampak pada relasi manusia dengan Allah, tetapi juga terhadap alam semesta. Karena itu, perintah untuk “menaklukkan bumi” perlu dimaknai sebagai tanggung jawab untuk mengusahakan sekaligus memelihara.
“Boleh mengambil untuk bertahan hidup, tetapi juga punya kewajiban untuk menjaga keberlangsungannya. Yang punya bumi ini bukan uskup, bukan paus, tetapi Tuhan sendiri,” tegasnya.
Berbeda dengan pendekatan teologis yang disampaikan Uskup Adrianus, Ricky Ismail Soerapoetra membawa peserta melihat relasi manusia dan alam secara holistik berdasarkan pengalaman lapangan. Ia menekankan bahwa kebutuhan manusia sehari-hari sepenuhnya bergantung pada bumi.

Ricky Ismail Soerapoetra , Anambas Foundation
“Rumah kita, planet bumi ini, itu bukan manusia saja. Garam, gula, kopi, semuanya datang dari planet ini, dari lahan dan air,” jelas Ricky.
Ia memperkenalkan tiga pilar kerja Anambas Foundation yang selama tujuh tahun bergerak di wilayah kepulauan.
“Kami punya tiga pilar utama: above, below, and beyond. Dari angkasa sampai ke terumbu karang yang paling dalam. Dan itu is beyond our limit,” katanya.
Ricky menegaskan bahwa upaya pemeliharaan alam harus menyentuh wilayah pulau-pulau terluar dan masyarakat terpencil yang hidup paling dekat dengan alam.
Sementara itu, Bapak IP menyoroti persoalan lingkungan dari sudut tanggung jawab antar generasi dan pengelolaan sumber daya. Ia menegaskan bahwa lingkungan bukan sekadar warisan, melainkan hak generasi mendatang.

Bapak IP, Kepala Bidang PLH Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam
“Lingkungan ini bukan kita wariskan untuk anak cucu kita, tapi itu hak mereka. Hak anak kita, hak cucu kita, hak cicit kita,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar manusia tidak boros dalam menggunakan sumber daya alam.
“Sumber daya yang kita miliki jangan boros kita gunakan. Kalau kita berpikir seperti itu, harusnya kita bisa memberikan yang terbaik buat anak cucu kita nanti,” tambahnya.
Sebagai penutup, kegiatan dialog diakhiri dengan penyerahan cinderamata dan tanaman yang akan ditanam di paroki masing-masing sebagai bentuk nyata pemeliharaan alam.
Dialog ini memperlihatkan tiga penekanan berbeda namun saling melengkapi : Uskup Adrianus menegaskan dasar iman dan teologi penciptaan, Ricky Ismail menghadirkan pendekatan holistik berbasis pengalaman lapangan, sementara Bapak IP menekankan tanggung jawab kebijakan dan etika penggunaan sumber daya bagi generasi mendatang. Ketiganya sepakat bahwa pemeliharaan rumah bersama menuntut kesadaran iman, tindakan nyata, dan tanggung jawab yang berkelanjutan. (vsh).

