INSTRUKSI AD RESURGENDUM CUM CHRISTO (BANGKIT BERSAMA KRISTUS)

Diterjemahkan dan diambil dari : https://luxveritatis7.wordpress.com. Teks Asli dalam Bahasa Inggris terdapat di bagian paling akhir artikel ini.

KONGREGASI AJARAN IMAN
Instruksi Ad resurgendum cum Christo (Bangkit Bersama Kristus)
Mengenai pemakaman jenazah dan penyimpanan abu dalam hal kremasi

1.Untuk bangkit bersama Kristus, kita harus mati bersama Kristus: Kita harus “beralih dari tubuh ini untuk menetap pada Tuhan” (2 Kor 5:8). Melalui instruksi Piam et Constantem tertanggal 5 Juli 1962, maka Holy Office menetapkan agar “semua langkah yang perlu harus dilakukan untuk memelihara praktik pengebumian jenazah umat beriman dengan penuh hormat”, sekalipun menambahkan bahwa kremasi “per se tidak berlawanan dengan agama Kristen” dan bahwa sakramen-sakramen dan ritus pemakaman (funeral rites) tidak lagi ditiadakan bagi mereka yang meminta untuk dikremasi, dengan syarat bahwa pilihan ini tidak dilakukan karena “penyangkalan dogma Kristen, kebencian terhadap masyarakat rahasis, atau kebencian terhadap agama Katolik dan Gereja” [1]. Selanjutnya perubahan dalam disiplin gerejawi ini dimasukkan ke dalam Kitab Hukum Kanonik (1983) dan dalamCode of Canons of Oriental Churches (1990).

Selama rentang waktu tersebut, praktik kremasi telah mengalami peningkatan di banyak negara, tetapi pada saat yang bersamaan, gagasan-gagasan baru yang bertentangan dengan iman Gereja juga telah tersebar luas. Setelah melakukan konsultasi dengan Kongregasi Ibadah Ilahi dan Disiplin Sakramen-Sakramen, the Pontifical Council for Legislative Texts, konferensi-konferensi para uskup dan Sinode Uskup Gereja-Gereja Oriental, maka Kongregasi Ajaran Iman merasa layak untuk menerbitkan instruksi baru, dengan maksud menggarisbawahi alasan-alasan doktrinal dan pastoral terhadap preferensi bagi penguburan jenazah umat beriman dan untuk menetapkan norma-norma yang berkenaan dengan penyimpanan abu mengenai perihal kremasi.

2.Kebangkitan Yesus merupakan puncak kebenaran iman Kristen, yang diwartakan sebagai bagian hakiki dari Misteri Paskah sejak permulaan Kekristenan: “Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya” (1 Kor 15:3-5).

Melalui wafat dan kebangkitan-Nya, Kristus membebaskan kita dari dosa dan membukakan pintu bagi kehidupan yang baru, “supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru” (Rm 6:4). Lebih lanjut, Kristus yang bangkit adalah prinsip dan sumber kebangkitan kita di masa depan: “Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal… Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus” (1 Kor 15:20-22).

Benar bahwa Kristus akan membangkitkan kita pada akhir zaman; tetapi benar juga bahwa, dalam cara tertentu, kita telah bangkit bersama Kristus. Dalam baptisan, sesungguhnya, kita dibenamkan ke dalam wafat dan kebangkitan Kristus dan secara sakramental disatukan dengan-Nya: “karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati” (Kol 2:12). Disatukan dengan Kristus oleh baptisan, kita telah sungguh berpartisipasi dalam hidup Kristus yang bangkit (bdk. Ef 2:6).

Karena Kristus, kematian Kristiani memiliki makna positif. Visi kematian Kristiani menerima ungkapan istimewa dalam liturgi Gereja: “Sungguh, bagi umat berimanmu, Tuhan, hidup diubah, tidak diakhiri, dan, ketika kediaman duniawi ini berubah menjadi debu, kediaman abadi disiapkan bagi mereka di surga” [2]. Melalui kematian jiwa dipisahkan dari tubuh, tetapi dalam kebangkitan Allah akan memberikan kehidupan yang tak dapat rusak (incorruptible) kepada tubuh kita, yang diubah melalui persatuan kembali dengan jiwa kita. Di masa kini juga, Gereja dipanggil untuk mewartakan imannya dalam kebangkitan: “Keyakinan orang Kristen adalah kebangkitan orang mati; dengan mempercayai ini kita hidup”. [3]

3.Dengan mengikuti tradisi Kristen yang paling purba, Gereja bersikeras dalam menganjurkan bahwa jenazah umat beriman dikuburkan di pemakaman atau tempat-tempat suci lainnya. [4]

Dalam kenangan akan wafat, pemakaman dan kebangkitan Tuhan, misteri yang menerangi makna kematian Kristiani, pengebumian terutama merupakan cara yang paling pantas dalam mengungkapkan iman dan harapan akan kebangkitan badan.

Gereja, yang sebagai Ibu, telah menemani umat Kristen selama peziarahan duniawinya, mempersembahkan kepada Bapa, dalam Kristus, anak-anak rahmatnya, dan ia mempercayakan kepada bumi, dalam pengharapan, benih badan yang akan bangkit dalam kemuliaan. [7]

Dengan menguburkan jenazah umat beriman, Gereja menegaskan imannya akan kebangkitan badan [8], dan bermaksud menunjukkan martabat agung tubuh manusia sebagai bagian integral dari pribadi manusia, yang tubuhnya membentuk bagian identitas mereka.[9] Oleh sebab itu, ia tidak bisa membenarkan atau mengizinkan ritus-ritus yang melibatkan gagasan keliru mengenai kematian, seperti menganggap kematian sebagai pemusnahan pribadi secara definitif, atau momen peleburan dengan Ibu Pertiwi atau alam semesta, atau sebagai tahap dalam siklus regenerasi, atau sebagai pembebasan definitif dari “penjara” tubuh.

Lebih lanjut, penguburan di pemakaman atau tempat suci lainnya, secara memadai berhubungan dengan kesalehan dan penghormatan yang diberikan kepada jenazah umat beriman, yang melalui baptisannya telah menjadi bait Roh kudus dan  yang mana “sebagai instrumen dan cawan Roh yang telah melaksanakan begitu banyak perbuatan baik”. [10]

Tobias, orang benar, dipuji atas jasa yang ia peroleh di hadapan Allah karena menguburkan orang mati, [11] dan Gereja menganggap penguburan orang mati merupakan salah satu karya belas kasih jasmani. [12]

Terakhir, penguburan umat beriman yang telah meninggal di pemakaman atau tempat suci lainnya mendorong anggota keluarga dan seluruh komunitas Kristiani untuk berdoa dan mengenang mereka yang dipanggil Tuhan, sembari pada saat yang sama memelihara penghormata kepada para martir dan orang kudus.

Melalui praktik penguburan orang mati di pemakaman, di gereja-gereja atau daerah sekitar mereka, tradisi Gereja telah menjunjung tinggi relasi antara orang hidup dan orang meninggal dan telah melawan kecenderungan apapun untuk mengurangi, atau membuang ke area yang murni bersifat pribadi, peristiwa kematian dan makna yang dimilikinya bagi orang Kristen.

4.Dalam situasi-situasi ketika kremasi dipilih karena alasan kebersihan, ekonomi, atau karena pertimbangan sosial, pilihan ini tidak pernah boleh melanggar keinginan-eksplisit atau keinginan implisit umat beriman yang telah meninggal. Gereja tidak mengajukan keberatan doktrinal terhadap praktik ini, karena kremasi terhadap jenazah tidak mempengaruhi jiwanya, tidak juga mencegah Allah, dalam kemahakuasaan-Nya, untuk membangkitkan jenazah dalam kehidupan baru. Karena itu, kremasi, dalam dan dari dirinya sendiri, secara objektif tidak menyangkal ajaran Kristen mengenai keabadian jiwa ataupun kebangkitan badan. [13]

Dalam ketiadaan alasan yang bertentangan dengan ajaran Kristen, Gereja, setelah perayaan ritus pemakaman, mendampingi pilihan kremasi, memberikan arahan liturgis dan pastoral yang relevan, dan mengambil langkah khusus guna menghindari setiap bentuk skandal atau penampilan indiferentisme religius.

5.Ketika, karena alasan-alasan yang sah, kremasi jenazah telah dipilih, abu umat beriman harus diletakkan untuk beristirahat di tempat suci, yaitu di pemakaman, atau dalam kasus tertentu, di gereja atau di sebuah area yang dikhususkan untuk tujuan ini, dan didedikasikan oleh otoritas gerejawi yang kompeten.

Dari masa-masa yang paling awal, umat Kristen telah menghendaki agar umat beriman yang meninggal menjadi objek doa dan kenangan komunitas Kristiani. Makam mereka telah menjadi tempat doa, kenangan, dan permenungan. Umat beriman yang telah meninggal tetap merupakan bagian Gereja yang percaya “dalam persekutuan semua umat beriman Kristus, yang adalah peziarah di bumi, orang mati yang sedang dimurnikan, dan para kudus di surga, semua bersama-sama membentuk satu Gereja.” [15]

Penyimpanan abu mereka yang telah meninggal di tempat suci memastikan bahwa mereka tidak dikecualikan dari doa dan kenangan keluarga mereka atau komunitas Kristen. Hal ini dilakukan agar umat beriman yang telah meninggal tidak dilupakan, juga agar peninggalan mereka tetap dihormati, yang mungkin terjadi, sesegeranya setelah generasi selanjutnya juga telah meninggal. Hal ini juga mencegah terjadinya praktik-praktik tahayul atau yang tidak pantas.

6.Untuk alasan-alasan yang diberikan di atas, penyimpanan abu umat beriman di kediaman domestik tidak diizinkan. Hanya dalam kasus yang serius dan istimewa yang bergantung pada kondisi-kondisi budaya lokal, maka Ordinaris dapat, dalam persetujuan dengan Konferensi Waligereja atau Sinode Para Uskup Gereja Oriental, memberikan izin bagi penyimpanan abu umat beriman di kediaman domestik. Meskipun demikian, abu tersebut tidak boleh dibagi-bagikan di antara anggota keluarga dan rasa hormat harus dijaga mengenai situasi-situasi penyimpanan abu tersebut.

7.Untuk menghindari munculnya panteisme, naturalisme, atau nihilisme, tidaklah diizinkan menyebarkan abu umat beriman di udara, di darat, di laut atau dengan cara lainnya, tidak juga diizinkan abu tersebut disimpan sebagai tanda mata, keping-keping perhiasan atau objek lainnya. Tindakan-tindakan tersebut tidak dapat disahkan dengan alasan kesehatan, sosial atau ekonomi yang dapat terjadi karena memilih kremasi.

8.Ketika almarhum yang terkenal jahat telah meminta kremasi dan penyebaran abu dengan alasan-alasan yang bertentangan dengan iman Kristen, pemakaman Kristiani harus ditolak terhadap orang tersebut seturut norma-norma hukum. [16]

Paus Fransiskus, dalam Audiensi yang diberikan tertanggal 18 Maret 2016 kepada Kardinal Prefek yang menandatangani instruksi ini, menyetujui Instruksi yang diberikan, dalam Sesi Biasa Kongregasi ini tertanggal 2 Maret 2016 dan memerintahkan penerbitannya.

Roma, dari Kantor Kongregasi Ajaran Iman, 15 Agustus 2016, pada Hari Raya Pengangkatan Bunda Maria.  

Gerhard Card. Müller
Prefect

+ Luis F. Ladaria, S.I.
Titular Archbishop of Thibica
Secretary

[1] AAS 56 (1964), 822-823.

[2] Roman Missal, Preface I for the Dead.

[3] Tertullian, De Resurrectione carnis, 1,1: CCL 2, 921.

[4] Cf. CIC, can. 1176, § 3, can. 1205; CCEO, can. 876, § 3; can. 868.

[5] Cf. Catechism of the Catholic Church, 1681.

[6] Cf. Catechism of the Catholic Church, 2300.

[7] Cf. 1 Cor 15:42-44; Catechism of the Catholic Church, 1683.

[8] Cf. St. Augustine, De cura pro mortuis gerenda, 3, 5; CSEL 41, 628:

[9] Second Vatican Ecumenical Council, Pastoral Constitution Gaudium et Spes, 14.

[10] St. Augustine, De cura pro mortuis gerenda, 3, 5: CSEL 41, 627.

[11] Cf. Tb 2:9; 12:12.

[12] Cf. Catechism of the Catholic Church, 2300.

[13] Cf. Holy Office, Instruction Piam et costantem, 5 July 1963: AAS 56 (1964) 822.

[14] CIC, can. 1176 § 3; cf. CCEC, can. 876 § 3.

[15]Catechism of the Catholic Church, 962.

[16]CIC, can. 1184; CCEO, can.876, § 3.


Teks Asli

CONGREGATION FOR THE DOCTRINE OF THE FAITH

Instruction Ad resurgendum cum Christo
regarding the burial of the deceased
and the conservation of the ashes in the case of cremation

1. To rise with Christ, we must die with Christ: we must “be away from the body and at home with the Lord” (2 Cor 5:8). With the Instruction Piam et Constantem of 5 July 1963, the then Holy Office established that “all necessary measures must be taken to preserve the practice of reverently burying the faithful departed”, adding however that cremation is not “opposed per se to the Christian religion” and that no longer should the sacraments and funeral rites be denied to those who have asked that they be cremated, under the condition that this choice has not been made through “a denial of Christian dogmas, the animosity of a secret society, or hatred of the Catholic religion and the Church”.[1] Later this change in ecclesiastical discipline was incorporated into the Code of Canon Law (1983) and the Code of Canons of Oriental Churches (1990).

During the intervening years, the practice of cremation has notably increased in many countries, but simultaneously new ideas contrary to the Church’s faith have also become widespread. Having consulted the Congregation for Divine Worship and the Discipline of the Sacraments, the Pontifical Council for Legislative Texts and numerous Episcopal Conferences and Synods of Bishops of the Oriental Churches, the Congregation for the Doctrine of the Faith has deemed opportune the publication of a new Instruction, with the intention of underlining the doctrinal and pastoral reasons for the preference of the burial of the remains of the faithful and to set out norms pertaining to the conservation of ashes in the case of cremation.

2. The resurrection of Jesus is the culminating truth of the Christian faith, preached as an essential part of the Paschal Mystery from the very beginnings of Christianity: “For I handed on to you as of first importance what I also received: that Christ died for our sins in accordance with the scriptures; that he was buried; that he was raised on the third day in accordance with the scriptures; that he appeared to Cephas, then to the Twelve” (1 Cor 15:3-5).

Through his death and resurrection, Christ freed us from sin and gave us access to a new life, “so that as Christ was raised from the dead by the glory of the Father, we too might walk in newness of life” (Rm 6:4). Furthermore, the risen Christ is the principle and source of our future resurrection: “Christ has been raised from the dead, the first fruits of those who have fallen asleep […] For as in Adam all die, so also in Christ shall all be made alive” (1 Cor 15:20-22).

It is true that Christ will raise us up on the last day; but it is also true that, in a certain way, we have already risen with Christ. In Baptism, actually, we are immersed in the death and resurrection of Christ and sacramentally assimilated to him: “You were buried with him in baptism, in which you were also raised with him through faith in the power of God, who raised him from the dead” (Col2:12). United with Christ by Baptism, we already truly participate in the life of the risen Christ (cf. Eph 2:6).

Because of Christ, Christian death has a positive meaning. The Christian vision of death receives privileged expression in the liturgy of the Church: “Indeed for your faithful, Lord, life is changed not ended, and, when this earthly dwelling turns to dust, an eternal dwelling is made ready for them in heaven”.[2] By death the soul is separated from the body, but in the resurrection God will give incorruptible life to our body, transformed by reunion with our soul. In our own day also, the Church is called to proclaim her faith in the resurrection: “The confidence of Christians is the resurrection of the dead; believing this we live”.[3]

3. Following the most ancient Christian tradition, the Church insistently recommends that the bodies of the deceased be buried in cemeteries or other sacred places.[4]

In memory of the death, burial and resurrection of the Lord, the mystery that illumines the Christian meaning of death,[5] burial is above all the most fitting way to express faith and hope in the resurrection of the body.[6]

The Church who, as Mother, has accompanied the Christian during his earthly pilgrimage, offers to the Father, in Christ, the child of her grace, and she commits to the earth, in hope, the seed of the body that will rise in glory.[7]

By burying the bodies of the faithful, the Church confirms her faith in the resurrection of the body,[8] and intends to show the great dignity of the human body as an integral part of the human person whose body forms part of their identity.[9] She cannot, therefore, condone attitudes or permit rites that involve erroneous ideas about death, such as considering death as the definitive annihilation of the person, or the moment of fusion with Mother Nature or the universe, or as a stage in the cycle of regeneration, or as the definitive liberation from the “prison” of the body.

Furthermore, burial in a cemetery or another sacred place adequately corresponds to the piety and respect owed to the bodies of the faithful departed who through Baptism have become temples of the Holy Spirit and in which “as instruments and vessels the Spirit has carried out so many good works”.[10]

Tobias, the just, was praised for the merits he acquired in the sight of God for having buried the dead,[11] and the Church considers the burial of dead one of the corporal works of mercy.[12]

Finally, the burial of the faithful departed in cemeteries or other sacred places encourages family members and the whole Christian community to pray for and remember the dead, while at the same time fostering the veneration of martyrs and saints.

Through the practice of burying the dead in cemeteries, in churches or their environs, Christian tradition has upheld the relationship between the living and the dead and has opposed any tendency to minimize, or relegate to the purely private sphere, the event of death and the meaning it has for Christians.

4. In circumstances when cremation is chosen because of sanitary, economic or social considerations, this choice must never violate the explicitly-stated or the reasonably inferable wishes of the deceased faithful. The Church raises no doctrinal objections to this practice, since cremation of the deceased’s body does not affect his or her soul, nor does it prevent God, in his omnipotence, from raising up the deceased body to new life. Thus cremation, in and of itself, objectively negates neither the Christian doctrine of the soul’s immortality nor that of the resurrection of the body.[13]

The Church continues to prefer the practice of burying the bodies of the deceased, because this shows a greater esteem towards the deceased. Nevertheless, cremation is not prohibited, “unless it was chosen for reasons contrary to Christian doctrine”.[14]

In the absence of motives contrary to Christian doctrine, the Church, after the celebration of the funeral rite, accompanies the choice of cremation, providing the relevant liturgical and pastoral directives, and taking particular care to avoid every form of scandal or the appearance of religious indifferentism.

5. When, for legitimate motives, cremation of the body has been chosen, the ashes of the faithful must be laid to rest in a sacred place, that is, in a cemetery or, in certain cases, in a church or an area, which has been set aside for this purpose, and so dedicated by the competent ecclesial authority.

From the earliest times, Christians have desired that the faithful departed become the objects of the Christian community’s prayers and remembrance. Their tombs have become places of prayer, remembrance and reflection. The faithful departed remain part of the Church who believes “in the communion of all the faithful of Christ, those who are pilgrims on earth, the dead who are being purified, and the blessed in heaven, all together forming one Church”.[15]

The reservation of the ashes of the departed in a sacred place ensures that they are not excluded from the prayers and remembrance of their family or the Christian community. It prevents the faithful departed from being forgotten, or their remains from being shown a lack of respect, which eventuality is possible, most especially once the immediately subsequent generation has too passed away. Also it prevents any unfitting or superstitious practices.

6. For the reasons given above, the conservation of the ashes of the departed in a domestic residence is not permitted. Only in grave and exceptional cases dependent on cultural conditions of a localized nature, may the Ordinary, in agreement with the Episcopal Conference or the Synod of Bishops of the Oriental Churches, concede permission for the conservation of the ashes of the departed in a domestic residence. Nonetheless, the ashes may not be divided among various family members and due respect must be maintained regarding the circumstances of such a conservation.

7. In order that every appearance of pantheism, naturalism or nihilism be avoided, it is not permitted to scatter the ashes of the faithful departed in the air, on land, at sea or in some other way, nor may they be preserved in mementos, pieces of jewelry or other objects. These courses of action cannot be legitimized by an appeal to the sanitary, social, or economic motives that may have occasioned the choice of cremation.

8. When the deceased notoriously has requested cremation and the scattering of their ashes for reasons contrary to the Christian faith, a Christian funeral must be denied to that person according to the norms of the law.[16]

The Sovereign Pontiff Francis, in the Audience granted to the undersigned Cardinal Prefect on 18 March 2016, approved the present Instruction, adopted in the Ordinary Session of this Congregation on 2 March 2016, and ordered its publication.

Rome, from the Offices of the Congregation for the Doctrine of the Faith, 15 August 2016, the Solemnity of the Assumption of the Blessed Virgin Mary.

Gerhard Card. Müller
Prefect

+ Luis F. Ladaria, S.I.
Titular Archbishop of Thibica
Secretary

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.