Mengendus Jejak Sejarah dan Meretas Masa Depan Gereja Paroki Maria Bunda Pembantu Abadi

Disadur dari berbagai sumber reflektif RD.Lucius Poya Hobamatan

Di Publikasi oleh Atanasius

Sejarah adalah cermin. Sejarah adalah pintu masuk.  Sebagai cermin, sejarah memantulkan sutuasi tempo dulu untuk membantu siapa saja yang ingin  kembali menapaki jejak awal sebuah kehidupan, merefleksikannya, sekaligus melihat  nilai yang harus dipertahankan dan yang harus dibuang. Sementara sebagai pintu masuk, sejarah membantu  siapa saja untuk merancang sebuah cita-cita, sehingga  masa depan bukan hanya sekedar sebuah proses dari masa lalu, melainkan sebuah refleksi dari masa lalu itu. Ada hal yang mungkin perlu dipertahankan, tetapi ada hal yang perlu diperbaharui.

Pemahaman atas sejarah yang demikian membuat sejak lama terlintas sebuah kerinduan untuk mengendus sejarah Gereja di Keuskupan Pangkalpinang, terutama bagaimana benih iman  bertumbuh di setiap paroki. Keuskupan Pangkalpinang yang terdiri dari wilayah kepulauan semakin menegaskan bahwa  setiap wilayah pasti memiliki sejarahnya tersendiri, dengan aneka kisah yang mungkin bisa menjadi peristiwa pembelajaran bagi generasi kemudian.

Mengendus Sejarah Paroki Maria Bunda Pembantu Abadi (juga sejarah Gereja Katolik Keuskupan Pangkalpinang pada umumnya) tergolong sebuah sejarah yang unik. Disebut unik, karena benih iman awal ditanam oleh Kaum Awam. Di wilayah Bangka Belitung, benih iman itu ditanam oleh seorang tabib asal Tiongkok, Paulus Chen On Ngie; sedangkan di wilayah Kepulauan Riau ditanam oleh kaum nelayan asal China Selatan, khususnya dari Phing Hai.

Dari kaum awam asal China itu, kemudian ada fase fakum, karena jejak itu sulit ditelusuri lagi. Dan muncullah kaum awam asal Flores, sekitar 1940-an. Dari orang-orang sederhana ini, tunas-tunas iman katolik yang baru mulai bertumbuh, berkembang dan berbuah dari zaman ke zaman dan membentuk Gereja Lokal Pangkalpinang, sebagaimana yang terpotret sampai saat ini.

  1. Memburu Dollar Sambil Menabur Benih Iman

Benih iman awal, sebagai cikal bakal Paroki Maria Bunda Pembantu Abadi, juga demikian. Awalnya muncul para perantau Flores, sekitar tahun 1960-an. Mereka ini hijrah ke Kepulauan Riau dengan maksud memburu dollar Singapura, lewat Tanjung Pinang. Dengan perahu Bugis, mereka berangkat dari tanah leluhur. Maksud hati ke Singapura tetapi akhirnya mendarat di Tembesi. Begitulah sepintas kisah awal Bapak Mateus Kolin, Bapak Andreas Koda Lembata,  Bapak Pius Isa Mawarane, Bapak Yohanes Payong dan kawan-kawan.

Kendati kaum awam ini hanyalah orang-orang sederhana, tetapi ketangguhan iman mereka tidak diragukan. Dari hari ke hari, rosario menjadi andalan untuk menguatkan hidup spiritual, yang dilakukan lewat kunjungan dari rumah ke rumah setiap malam tiba. Selain hidup spiritual, cahaya iman itu juga terpancar kepada sesama saudara yang non katolik, terutama saudara-saudara dari Suku Melayu, sehingga kendati berbeda suku, budaya, agama dan kepercayaan, mereka tetap hidup berdampingan sebagai saudara dan saudari. Istilah agama Flores (Katolik) dan agama Melayu (Islam) memberikan signal kepada siapa saja bahwa kesederhanaan iman sekaligus kedalaman iman tidak membuat persekutuan tercabik dalam sekat-sekat primordialisme fundamental, melainkan tetap dalam satu bingkai persaudaraan, di tengah aneka perbedaan.

Dari Tembesi ini, mereka keluar masuk Singapura dan Malaysia, sampai tahun 1974. Ketika konflik politik dengan Malaysia mencuat, melalui semboyan “Ganyang Malaysia”, kaum awam ini mulai menetap di Tembesi. Seperti biasa, doa-doa dilakukan dari rumah ke rumah. Ecclesia Domestica (Gereja Rumah) kendati baru dicanangkan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II, tahun 1981, dalam Ensiklik Familiaris Consortio, namun kaum awam ini sudah mempraktekkannya sebelum Ensiklik itu dikeluarkan.

Akibat konflik Malaysia yang dengan itu mereka mulai menetap, ditopang pula dengan bertambahnya para perantau Flores, didirikanlah sebuah kapel di Tembesi, dengan ukuran 6×9 meter. Ukuran kapel ini memperlihatkan jumlah umat katolik pada zamannya. Sangat sedikit. Kapel itu dibangun dengan semangat gotong royong, yakni memberi dari kekurangan yang dimiliki. Di kapel itulah mereka setiap minggu mengadakan doa rosario, sebagai pengganti ritus ibadat hari Minggu.

Ketika tahun 1990, saat Lubuk Baja dijadikan sebagai Paroki mandiri, terpisah dari Paroki induk Tanjung Pinang-Bintan, kawasan  Batu Aji mulai dibanjiri oleh penduduk yang datang dari berbagai sudut nusantara. Kawasan ini dibanjiri oleh para migran, karena kawasan ini akan dijadikan sebagai area pemukiman bagi pengembangan daerah industri Batam. Untuk itulah, kapel yang berukuran 6×9 meter mulai diperluas dengan modal gotong royong umat, di bawah pengawasan Paroki St. Petrus Lubuk Baja sebagai Paroki induk.

Ternyata pertumbuhan umat dikawasan ini tidak bisa terbendung dari waktu ke waktu bersamaan dengan geliatnya pengembangan Batam menjadi daerah insdustri. Oleh karena itu, setelah Paroki St. Damian Bengkong didirikan 1995, terlepas dari paroki St. Petrus Lubuk Baja, muncul gagasan untuk menjadikan Tembesi sebagai Paroki ke-3 untuk wilayah barat Batam.

Sampai dengan tahun 2000, kendati umat Tembesi sudah di atas 2000 jiwa, tetapi pelayanan pastoral kurang begitu diperhatikan akibat ketiadaan visi pastoral. Akibatnya, wilayah ini hanya bisa dilayani Ekaristi tetapi bagaimana menggembalakan umat di sebuah daerah industri agak diabaikan. Keprihatinan ini membuat umat Tembesi, antara lain Bapak Yohanes Waluyo, Hendrik Hayon, Julius Joni, dkk mengusulkan agar Tembesi dipersiapkan lebih serius untuk menjadi Paroki. Setelah melakukan beberapa kali pendekatan dengan Bapa Uskup Pangkalpinang, akhirnya bulan Juni tahun 2002, Bapa Uskup Pangkalpinang menugaskan Pastor Lucius Poya untuk mempersiapkan secara intensif agar Tembesi menjadi Paroki tahun 2003.

  1. Bekerja Sambil Memusatkan Diri pada Kristus

Situasi Batam, ketika Tembesi mulai dipersiapkan menjadi Paroki, ternyata kurang kondusif. Pertama, Paroki St. Petrus Lubuk Baja sebagai Paroki Induk rupanya tidak memiliki kemauan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang menjadi kewajiban paroki induk bila paroki hendak dimekarkan. Kedua, Batam pada umumnya sedang terjadi penggusuran besar-besaran. Masyarakat pinggiran dari wilayah Simpang Franky dan wilayah seputar Duta Mas digusur paksa oleh pihak Otorita, untuk menghuni wilayah baru, Dapur 12 dan Sei Lekop; sebuah kawasan di wilayah Batu Aji. Situasi begitu tegang akibat penggusuran paksa yang merambat pula pada labilitas kejiwaan umat saat itu. Ketiga, trauma perang suku antara Flores dan Batak belum lagi pulih. Keempat, dalam situasi seperti ini, pola pastoral hanya difokuskan pada perayaan ekaristi, tanpa sebuah visi untuk membangun umat supaya mengimpelemantasikan ekaristi itu dalam perwujudan jati dirinya di tengah dunia.

Kondisi umat seperti inilah yang  mendorong panitia persiapan, di antaranya bapak Yohanes Waluyo, Dicky Sigarlaki, Julius Joni, Hendrik Hayon, Andreas Satrio, Sandiawan, dan Mudika Tembesi pada saat itu, untuk memfokuskan persiapan paroki  pada problem bagaimana membangun jati diri sebagai Gereja. Itulah sebabnya, kunjungan animasi dari satu wilayah ke wilayah yang lain secara rutin untuk  menyadarkan umat tentang jati diri sebagai Gereja, Pengembangan KBG sebagai perwujudan konkret Gereja, pengembangan bina iman anak dan remaja serta kaum muda, persiapan keluarga-keluarga untuk menjadi Ecclesia Domestica dan memacu semangat kemandirian dana melalui Kartu Persembahan Keluarga (KPK) serta pembentukan dan persiapan DPP menjadi konsentrasi panitia selama satu tahun.

Ternyata animo umat, karena kesadaran akan jati diri sebagai Gereja, serta semangat gotong royong yang ditanam sejak awal, membuat Paroki baru yang dipersembahkan dalam naungan keibuan  Maria Bunda Pembantu Abadi akhirnya diresmikan pada hari Sabtu, 1 Nopember 2003, pkl. 17.00, oleh Bapa Uskup Pangkalpinang, Mgr. Hilarius Moa Nurak, SVD.

Kesadaran akan jati diri sebagai Gereja dengan semangat gotong royong, yakni memberi dengan hati dari kekurangan itu, membuat paroki ini, yang dibangun dengan modal nol rupiah dan tenaga apa adanya, bisa berjalan untuk menghayati jati diri sebagai  umat Allah yang saat itu berjumlah 3.686 (tiga ribu enam ratus delapan puluh enam)  jiwa.

Pilihan pastoral yang difokuskan pada pemberdayaan umat ini sesungguhnya berlatar pada keinginan untuk meneladani spiritualitas Musa dalam kepemimpinannya mengantar perziarahan Israel yang merupakan cikal bakal umat Allah; dan meneladani  kepemimpinan Yesus dalam tugas misionernya. Bagaimanapun ketika berbicara tentang Gereja, maka yang dibicarakan adalah manusia dalam hubungannya dengan Allah, dengan sesama dan dengan tugas perutusannya di tengah dunia.

Oleh karena itulah, setelah pendirian paroki, dibandingkan dengan paroki-paroki lain, paroki Maria Bunda Pembantu Abadi sudah memiliki visi paroki yang tercetus dalam rapat DPP Pleno, 16 Nopember 2005. Bunyi visi itu sbb:

Umat Allah Paroki Maria Bunda Pembantu Abadi, yang dibimbing oleh Roh Kudus dalam ziarah menuju Bapa, yang hidup bersama dalam dan melalui KBG yang berpusat pada Kristus Ekaristi, terus berjuang untuk memperbaharui diri sebagai hamba Allah seperti Maria dan dalam semangat persaudaraan mengembangkan tanggungjawab bersama dan pembebasan manusia seutuhnya”

Visi di atas merupakan refleksi teologis atas apa yang telah dimulai sejak persiapan Tembesi  menjadi Paroki. Visi di atas mengandung pula arah pastoral yang dikemas bukan berdasarkan selera, melainkan dalam dimensi Ecclesiologis, Kriostologis, Antropologis dengan sentuhan spiritualitas yang jelas. Visi itu yang harus terungkap dalam misi pastoral setiap bidang perutusan, dengan orientasi pada pemberdayaan umat.

Itulah sebabnya lima tahun pertama, yakni  tahun 2003-2008, pilihan pastoral tidak pernah bergeser, selain pemberdayaan umat akan jati dirinya, supaya kendati ia datang di Batam untuk bekerja, namun kesadarannya sebagai keluarga Allah tetap tertanam sebagaimana yang diperlihatkan keluarga Yakob di tanah Mesir.

Pilihan pastoral ini ternyata memperlihatkan sebuah proses pertumbuhan umat yang membanggakan. Konsentrasi kerja tidak menggerus jati diri mereka menuju ateisme religius (iman KTP). Dengan kata lain, bekerja sambil memusatkan diri pada Kristus, itulah pancaran jati diri yang terus bersinar akibat upaya pastoral yang coba dikembangkan dalam perjalanan paroki sejak awal sampai tahun 2008.

  1. Membangun Gedung Gereja: Upaya Perwujudan Jati Diri

Ternyata dengan adanya paroki baru di wilayah barat Batam, penambahan umat dari waktu ke watu juga sangat siginifikan. Dari sensus tahunan, penambahan jumlah umat setiap tahun mencapai 1000 jiwa. Di samping karena mobilitas umat yang tinggi, penambahan umat juga terjadi akibat kesadaran jati diri yang mulai bertumbuh. Kondisi ini membuat gedung gereja di Tembesi tidak bisa menampung, walau di beberapa tempat ada kapel sementara yang dibangun sebagai tempat ibadat hari minggu.

Kondisi inilah yang membuat umat di KBG-KBG mendorong untuk dibangun sebuah bait Allah yang kudus, tempat Allah Tritunggal bertakhta menyapa umat-Nya;  tempat Bunda Maria bersemayam melindungi anak-anaknya; dan tempat semua anak-anak Allah yang berdomisili di wilayah barat Batam berhimpun untuk mengungkapkan diri dalam persekutuan iman sebagai Keluarga Allah.

Untuk mewujudkan keinginan itu, lagi-lagi semangat gotong royong menjadi senjata andalan, yang dilandaskan pada spiritualitas janda Miskin di Kenisah dan semangat Ekaristi di padang rumput. Memberi dari kekurangan dan mempersembahkannya kepada Allah, membuat mujisat terjadi secara kasat mata. Dari kekurangan menjadi berkelimpahan.

Itulah sebabnya, dengan pendapatan umat yang berkisar Rp. 1.200.000/ bulan (Rp. 900.000 gaji pokok dan Rp. 300.000 transportasi), umat dengan gembira hati mempersembahkankan Rp. 1000/hari untuk pembangunan gedung gereja, sedangkan Rp. 29. 000 dialokasikan untuk kebutuhan harian keluarga. Pemberian dari kekurangan, yang dimulai sejak tahun 2008, itulah yang kini menjadi modal awal pembangunan gedung Gereja Paroki yang terletak di Kavling Baru-Batu Aji.

Prinsip seperti ini sesungguhnya merupakan prinsip spiritual yang dipancarkan sejak benih iman awal ditabur di bumi Bangka-Belitung, maupun di gugusan kepulauan Riau. Bukan terutama apa  yang diberikan, melainkan penyataan iman di balik apa yang terberi, kendati dalam kesederhanaan dan kekurangan. Prinsip itulah yang ingin terus ditumbuhkembangkan di Paroki  yang dipersembahkan kepada Maria Bunda Pembantu Abadi. Seperti Maria, yang melakukan karya besar Allah dalam kesadaran akan kehinaan dan kepapaan, demikian juga umat Paroki yang dipersembahkan di kaki keibuannya.

Memasuki Tahun iman dan Tahun Rahmat yang digagas oleh Sri Paus Emeritus Benediktus ke-VI yang lalu, Paroki MBPA memasuki fase baru dalam perziarahan sebagai Gereja, melanjutkan perjuangan selama 10 tahun, yakni pentahbisan Gereja. Pentahbisan Gereja Paroki MBPA merupakan rahmat di tahun iman karena dengan pentahbisan Gereja ini terjadi sebuah pentekosta baru, yang selama 10 tahun membangun persekutuan iman dalam serpihan-serpihan, bergerak maju mewujudkan sebuah persekutuan yang nyata sebagaimana yang dinyatakan Roh Kudus dalam peristiwa pentekosta. Komunio KBG-KBG, diungkapkan secara nyata dalam komunio di paroki sebagai representasi Gereja Lokal dan Universal, dalam satu kawanan dan satu gembala. Dengan itu pula citra umat Allah, Tubuh Kristus, Bait Roh kudus, dan sakramen keselamatan,yang diperjuangkan selama 10 tahun pada akhirnya terbangun, bukan hanya pada segelintir orang melainkan pada semua orang Katolik yang berada dalam Paroki Maria Bunda Pembantu Abadi.

Akhirnya pada hari jumad, tanggal 1 November 2013 bertepatan dengan perayaan Hari Raya Semua Orang Kudus, Gereja Paroki yang baru “ Maria Bunda Pembantu Abadi” diresmikan. Nunsius Apostolik Indonesia, Mgr Antonio Guido Filipazzi berkenan hadir dan meresmikan gereja megah yang berdiri di atas lahan seluas sekitar satu hektar tersebut. Syukur umat bertumpah ruah karena memiliki tempat ibadat yang nyaman dan aman untuk memuji Allah.

Di balik keberhasilan mendirikan rumah Tuhan ini, ada tangan-tangan dingin yang piawai menata proses pembangunan. Banyak pemikiran cemerlang nan pandai mengkonstruksi kehendak umat hingga solid. Tentu saja, hati lembut pun bertebaran dan dengan cermat memilah serta memilih yang terbaik dari yang baik demi menopang susunan batu-batu bata menjadi bangunan yang indah.

 

Penutup

Kalau semua peristiwa terlihat serba kebetulan, mulai dari awal penanaman benih iman sampai puncak peresmian sebagai Gereja; hal itu menunjukkan bahwa semua itu di luar rencana manusia. Maria hadir sebagai ibu. Ia lebih memahami apa yang harus dinyatakan terhadap kehendak Puteranya. Ia selalu membantu dengan keibuannya, saat melihat anak-anaknya yang sangat sederhana tetap memiliki iman yang mendalam. Ia sangat  setia dengan kidung syukurnya. Kasih sayangnya turun temurun kepada orang-orang yang takwa. Ia mengangkat orang yang hina dina. Ia Pembantu Abadi bagi umat wilayah barat yang anawim, yang susah mendapatkan kehidupan tetapi memiliki iman yang membanggakan, yang tahu apa itu kasih, yang mengerti apa itu persaudaraan dan persekutuan, yang sadar akan arti pelayanan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.