Pastoral Orang Muda Katolik (OMK)

Oleh : Atanasius Anlly

Pengantar 

Suatu ketika handphone Anda berdering.  Anda mencoba mengangkatnya sehingga terdengar suara seseorang di seberang bertanya “Di mana Anda sekarang? Di mana buku itu Anda simpan?” Kemudian tanpa ragu Anda menjawab “ Saya ‘ada’ di sini” atau “Buku itu ‘ada’ di atas meja belajar saya”. Nah, apakah Anda tahu perbedaan kedua jawaban tersebut? Memang, secara sepintas kedua jawaban itu  kelihatannya sama saja. Namun demikian, apakah benar keduanya sama saja? Jawabannya: tidak.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita tidak sekedar menjalani hidup seperti orang utan, atau tergeletak begitu saja di atas meja seperti sebuah buku, melainkan kita selalu bergumul dengan diri sendiri dan bertanya mengapa aku ada? Ketika kita berkata: “Aku ada di sini,” kita pun mempertanyakan mengapa kita ada di sini. Sebaliknya, sebuah buku tidak pernah mempertanyakan tentang ‘ada’-nya, bahkan tidak peduli dengan keberadaannya.

Saya tidak tahu apakah kita pernah mengajukan pertanyaan seperti ini? atau sebaliknya, kita hidup begitu saja tanpa mau tahu dari mana kita berasal, tanpa mau tahu keberadaan kita? Kita tentu menyadari bahwa keberadaan kita sekarang bukanlah hasil rancangan kita sendiri dan bukan pula rancangan orang tua kita. Bukankah kita tidak pernah berpikir sebelumnya bahwa kelak akan lahir, tumbuh dewasa, dan ada di sini sekarang ini?

Rekan-rekan muda yang terkasih…

Sepenggal refleksi yang tertuang dalam pengantar diatas, merupakan refleksi panjang saya atas hasil diskusi teman-teman pada pertemuan pertama, seminggu yang silam. Dalam komentar singkat saya waktu itu, saya mengatakan bahwa jawaban-jawaban yang teman-teman laporkan sebagai hasil diskusi itu, masih berada diawang-awang atau kurang membumi. Hal ini saya ungkapkan, lantaran teman-teman belum menyadari jati diri teman-teman sebagai Orang Muda Katolik.

Nah, bila identitas diri saja belum kita kenali, maka peran dan tanggungjawab anda sebagai orang muda akan sangat diragukan, selanjutnya analisis problem pastoral yang di hadapi pun masih bersifat obyektif sehingga pola pastoral yang anda inginkan sebagaimana yang direfleksikan juga hampir tidak menyentuh problem pastoral yang anda hadapi.

Malam ini kita semua diajak untuk melihat diri kita sesungguhnya sebagai Orang Muda Katolik, sebagai sebuah generasi yang mengemban tugas berat namun mulia yakni sebagai tulang punggung Gereja dan Negara. Banyak sekali definisi Orang Muda Katolik yang sudah rekan-rekan ungkapkan dalam pertemuan yang silam. Banyak juga literatur dan sumber-sumber lain yang berbicara dan mendefinisikan tentang Orang Muda Katolik. Namun semua yang berbicara (Termasuk apa yang rekan-rekan refleksikan minggu lalu) hanya sebatas ciri yang kelihatan dari Orang Muda Katolik itu sendiri. Muncul berbagai definisi yang berbunyi “OMK adalah Orang Muda Katolik. Ada yang mendefinisikan OMK adalah Orang muda dengan rentang usia tertentu (17 – 35 Tahun ), OMK adalah mereka yang belum menikah, OMK adalah mereka yang aktif dalam berbagai kegiatan Gereja, dan aneka definisi tentang OMK lainnya. Beragam bentuk definisi tentang OMK yang menitik beratkan pada ciri-ciri lahiriah dari OMK itu sendiri, berakibat pada cara pandang pastoral untuk OMK. Ada paroki tertentu yang menempatkan OMK sebagai obyek Pastoral, ada paroki yang menempatkan OMK sebagai wadah kategorial, ada yang lain memposisikan OMK sebagai kelompok organisasi. Semua ini berangkat dari definisi tentang OMK yang menekankan hanya pada ciri lahiriah yang dimiliki oleh OMK itu sendiri.

Lantas pertanyaannya apa itu OMK? Siapa kami sebenarnya ? who am I ?

OMK = Subyek Pastoral Gereja

Bila kita membaca buku hasil sinode II MENJADI GEREJA PARTISIPATIF-Pedoman Pastoral Keuskupan Pangkalpinang BAB II yang berjudul “ Menjumpai Allah Dalam Terang Visi Gereja Konsili Vatikan II Dan Gereja Asia” yang berbicara tentang Kaum Beriman Awam (Hal 69-No 2.3.1), kita akan mendapatkan gambaran secara utuh tentang apa itu OMK dan siapa itu OMK serta apa tugas dan tanggung jawab yang diemban oleh OMK itu sendiri. Dalam artikel 140 ditegaskan bahwa OMK harus menjadi penggerak utama dalam kehidupan KBG dan peradaban publik Bangsa. Karena OMK diposisikan sebagai pengerak utama dalam pastoral di KBG dan peradaban publik Bangsa, maka OMK bukan hanya diperlakukan sebagai sasaran reksa pastoral Gereja (Hanya sebagai obyek, kelompok kategorial atau organisasi) melainkan sebagai pelaku-pelaku dan rekan-rekan kerja (Subyek Pastoral) didalam misi Gereja diberbagai karya kerasulan cinta kasih dan pelayanan.

Oleh karena itu, RD. Poya dalam salah satu kesempatan pertemuan pastoral mendefinisikan OMK sebagai subyek Pastoral Gereja yang memiliki ciri-ciri lahiriah sebagaimana yang anda sebutkan pada pertemuan pertama seminggu yang silam. Dengan definisi sederhana ini, RD.Poya hendak mengatakan bahwa Gereja tidak melihat orang muda hanya sebagai sekelompok orang dari sebuah tahapan usia tertentu tetapi dengan menempatkan OMK sebagai subyek Pastoral Gereja, maka anda sebagai OMK harus bertindak sebagai pelaku utama dalam aneka kegiatan pastoral Gereja dan bukan sebagai penonton, bukan membangun geng-geng, atau sekedar ada dengan muatan motivasi yang salah.

Untuk itu Gereja ingin merangkul orang muda agar ikut ambil bagian dalam misi perutusanya, bukan berdasarkan selera orang muda, melainkan atas identitas yang dimiliki oleh orang muda itu sendiri sebagai orang Katolik sejati yang telah menerima sakramen inisiasi yang menjadikan OMK sebagai Imam, Nabi, dan Raja. Konsekwensi yang harus diterima oleh OMK dengan status sebagai subyek pastoral adalah ikut ambil bagian dalam melaksanakan lima bidang tugas Gereja yakni Liturgia, Koinonia, Matirya, Diakonia dan Kerigma.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *