PERWAKILAN TEAM PASTORAL PAROKI KERAHIMAN ILAHI, DILATIH MEMBUAT PROGRAM KERJA PAROKI

     Minggu, 09 Desember 2018, bertempat di aula Paroki Kerahiman Ilahi – Tiban Batam, beberapa perwakilan team pastoral paroki Kerahiman Ilahi, dilatih untuk membuat program kerja Pastoral dengan menggunakan alat bantu Cermin Pastoral dan Goal Setting. Dua alat bantu Cermin Pastoral (Pastoral mirror) dan Goal Setting yang tertuang dalam Buku Menjadi Gereja Partisipatif (MGP), Pedoman Pastoral Keuskupan Pangkalpinang Post Sinode II, adalah instrumen untuk merancang kegiatan-kegiatan pastoral yang dimulai dengan menetapkan tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang hendak dicapai demi merealisasikan visi dan misi (MGP Art. 322).

Selaras dengan prioritas Pastoral yang ditetapkan oleh Uskup Pangkalpinang melalui Surat Gembala Adven 2018, pada poit empat yang menegaskan tentang prioritas pastoral tahun 2019 dengan memberi perhatian khusus pada aspek “Berpusat Pada Kristus” (Bintang pertama), dengan menekankan aspek pengetahuan (Kognitif), aspek relasi (Afeksi) serta aspek “Yesus Kristus” sebagai pedoman hidup (psikomotorik), maka proses pelatihan pembuatan program kerja kepada perwakilan team pastoral Paroki Kerahiman Ilahi kali ini sekaligus diarahkan untuk merancang program kerja pastoral paroki 2019 untuk merealisasikan prioritas pastoral sebagaimana yang ditetapkan oleh Uskup Pangkalpinang.

Proses pelatihan yang dimulai pukul 11.00 setelah Ekaristi hari Minggu ini, dipimpin oleh RD. Lucius Poya, yang dipercayakan oleh Parokus Kerahiman Ilahi untuk mendampingi proses pelatihan ini. Hadir juga Parokus Kerahiman Ilahi, RD. Agustinus Tupen Belo, perwakilan team pastoral Paroki Kerahiman Ilahi, serta beberapa pendamping dari Fasilitator AsIPA Paroki Maria Bunda Pembantu Abadi, yang diundang secara pribadi untuk membantu proses pelatihan tersebut.

Pada sesi pertama pelatihan yang dibawakan oleh RD. Lucius Poya, team pastoral mendapatkan sebuah “warning” awal sebelum memasuki inti dari proses pelatihan ini. Mantan Parokus MBPA ini, menegaskan bahwa banyak orang gagal menjalankan visi dan misi karena kehilangan spiritualitas hamba dan murid, yakni tidak setia pada proses, tidak mau belajar bersama, suka asal-asalan serta bertindak shock tahu. Padahal spiritual Keuskupan hasil sinode yakni Hamba dan Murid dimaksud untuk menjadi kekuatan untuk bermisi yakni terlibat dalam tugas perutusan Kristus. Untuk itu kepada perwakilan team Pastoral Romo Poya mengingatkan bahwa unsur hakiki yang dibutuhkan dalam pembuatan program kerja Pastoral adalah spiritual hamba dan murid. “siapapun yang masuk dalam team pastoral Paroki (PIPA), yang telah mengikrar sumpah dalam pelantikan, hendaknya menghayati spiritualitas ini supaya kelak menjadi orang Katolik yang sungguh melayani”.

Lebih lanjut, Ketua Yayasan Bentara Persada ini menjabarkan bahwa banyak program Pastoral dibuat asal-asalan, tanpa arah yang jelas yang pada gilirannya tidak menjawabi visi dan misi, karena program-program tersebut dibuat sekedar untuk mengatasi masalah sesaat (problem solving)dan bukan sebuah perubahan hidup menggereja kedepan. Padahal Sinode II menegaskan bahwa Cermin Pastoral dan Goal Setting dimaksud agar program pastoral sungguh merupakan pengimplementasian visi dan misi Gereja.

Setelah mendapatkan gambaran tentang pentingnya Cermin Pastoral dan Goal Setting, peserta juga diarahkan untuk memahami unsur-unsur penting yang tertuang dalam cermin pastoral dan goal setting, serta bagaimana penggunaannya. Selanjutnya, peserta pelatihan bersama team pendamping dibagi dalam enam kelompok untuk merancang program kerja dengan menggunakan alat bantu cermin pastoral.
Pantauan wartawan BerkatNews.com, pada tempat pelatihan ini, peserta yang terdiri dari perwakilan team pastoral Paroki Kerahiman Ilahi begitu antusias dalam menggunakan cermin pastoral, menggali persoalan fundamental yang membuat Komunitas Basisi Gereja selama ini belum menunjukan indikasi keberpusataanya Pada Kristus, sembari merumuskan upaya-upaya visioner yang akan dilakukan oleh KBG-KBG untuk menghantar umat agar semakin Berpusat pada Kristus, sebagaimana tuntutan kolom ketiga pada cermin pastoral yang berisi tentang pertanyaan penuntun.

Setelah menikmati santapan siang bersama, peserta pelatihan memasuki sesi kedua yakni pleno hasil diskusi kelompok. Pada sesi presentasi hasil ini, setiap kelompok memaparkan hasil diskusi kelompok kecilnya, yang kemudian diberikan kesempatan untuk ditanggapi oleh peserta yang lain. Kendati peserta latihan pembuatan program kerja kali ini baru diajarkan menggunakan alat bantu cermin pastoral, dan hasil diskusi hari ini masih berupa draft bahan mentah yang harus diolah kembali menjadi rumusan cermin pastoral yang benar, namun melihat semangat peserta serta keinginan kuat untuk belajar menggunakan alat bantu cermin pastoral dalam pembuatan program kerja kali ini, semakin menepis anggapan sebagian orang yang selama ini mengganggap alat bantu CP dan GS ini sebagai sesuatu yang sulit untuk digunakan. Refleksi peserta disela-sela pelatihan menunjukan bahwa alat bantu CP dan GS sungguh menolong KBG, Paroki, Kelompok kategorial, Subyek-subyek pastoral dalam pembuatan program kerja pastoral mereka, dan semakin menghantar mereka untuk mewujudkan visi dan misi, sebagaimana yang diimpikan oleh Sang Gembala dalam Surat Gembala Adven 2018.

T6T3T5T4

AtanBN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.