Home GEREJA Uskup Adrianus Mengunjungi Taman Doa Bukit Fatima dan Rumah Purna Bakti Uskup Emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung

Uskup Adrianus Mengunjungi Taman Doa Bukit Fatima dan Rumah Purna Bakti Uskup Emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung

by Veronika Suci Handayani

Larantuka,Berkatnews.com – Pada hari kedua di Larantuka (10/2/2026), pagi itu terasa begitu teduh. Sekitar pukul 08.30 WITA, Bapa Uskup bersama Romo Martin da Silva melangkah menuju Taman Doa Bukit Fatima di Bukit San Dominggo, yang menjulang sekitar 100 meter di atas permukaan laut. Perjalanan singkat itu seakan menjadi ziarah batin—sebuah pendakian yang bukan hanya membawa kaki naik ke ketinggian, tetapi juga mengangkat hati menuju keheningan.

Dari puncak bukit, alam membentangkan keagungannya tanpa batas. Birunya Selat Gonzalu berkilau diterpa cahaya pagi, Pulau Adonara dan Pulau Solor berdiri tenang di kejauhan, sementara Gunung Lewotobi tampak megah seolah menjadi penjaga daratan Flores Timur. Kota Larantuka terhampar indah di bawah sana—hening, damai, dan memeluk setiap kenangan yang tersimpan di dalamnya.

Di tengah taman doa itu, Patung Bunda Maria berdiri anggun dan penuh wibawa, seakan merentangkan tangan untuk menyambut setiap peziarah yang datang membawa doa, harapan, dan air mata. Sebelum sampai di pelataran utama, Patung Malaikat Mikhael setinggi tiga meter menyambut dengan kokoh dan gagah, menghadirkan rasa aman dan sakral sejak langkah pertama memasuki kawasan suci tersebut.

Bapa Uskup mengunjungi Taman Doa Bukit Fatima di Bukit San Dominggo

Pada momen istimewa itu, Uskup Adrianus juga menatap rumah masa purna bakti Uskup Emeritus Mgr. Fransiskus Kopong Kung—gembala yang selama 24 tahun setia menggembalakan Keuskupan Larantuka. Rumah itu bukan sekadar bangunan; ia menjadi simbol penghormatan atas pengabdian panjang, doa yang tak terhitung, serta cinta seorang gembala bagi umatnya.

Bapa Uskup pun berjumpa dengan Romo Doni, imam Keuskupan Larantuka, yang sedang mendampingi para tukang bekerja. Dengan penuh semangat, Romo Doni menuturkan bahwa rumah tersebut didatangkan dalam bentuk rumah jadi (knockdown) dari Minahasa, Sulawesi Utara. Pilihan itu bukan hanya soal kepraktisan, tetapi juga menghadirkan sentuhan khas yang memperkaya wajah Larantuka.

Rumah Purna Bakti

Ia menambahkan dengan harapan yang hangat, bahwa sebuah kapel sedang dibangun sebagai ruang doa bagi Bapa Uskup Emeritus. Kelak, seorang imam akan ditugaskan untuk tinggal dan mendampingi beliau—menjadi teman seperjalanan di masa purna bakti, menjaga ritme doa tetap bernyala dalam kesederhanaan hari-hari.

Pagi itu, Bukit Fatima bukan hanya menjadi tempat kunjungan, tetapi ruang perjumpaan—antara alam dan iman, antara pengabdian dan penghargaan, antara masa lalu yang penuh karya dan masa depan yang tetap berakar dalam doa.

Di ketinggian Bukit Fatima, hati belajar untuk hening. Dari sana, keindahan alam Larantuka seakan mengingatkan bahwa karya Tuhan selalu lebih luas daripada pandangan manusia. Laut, gunung, dan pulau-pulau yang terhampar menjadi simbol kesetiaan-Nya yang tak pernah berubah.

Kunjungan ini juga mengajarkan bahwa pengabdian tidak pernah berakhir, ia hanya memasuki babak yang berbeda. Masa purna bakti bukanlah akhir pelayanan, melainkan kelanjutan panggilan dalam doa dan keheningan.

Di bawah tatapan Bunda Maria, kita diingatkan bahwa setiap karya, setiap langkah, dan setiap pengorbanan akan menemukan maknanya ketika diserahkan kepada Tuhan (martin dasilva, pr / vsh) 

Related Articles

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

phone hack apply job vacancy nonton film streaming teknosehat blog kesehatan, kecantikan, dan teknologi