Pangkalpinang,Berkatnews.com — Seksi Pralaya Paroki Santa Bernadeth Pangkalpinang menggelar rekoleksi pelayanan bertema Pelayanan yang Bertanggung Jawab dalam Menjalankan Tugas Perutusan di Rumah Retret Puri Sadhana, pada 21–22 Februari 2026. Kegiatan ini menjadi ruang pembinaan sekaligus penguatan bagi tim pralaya dalam menjalankan pelayanan bagi keluarga yang sedang berduka.
Rekoleksi ini bertujuan memperdalam pemahaman akan makna kerja tim pralaya, memperkuat koordinasi pelayanan, menumbuhkan empati kepada keluarga berduka, serta membangun kesatuan hati dalam setiap tugas perutusan. Tim pralaya dipanggil untuk hadir bukan sekadar menjalankan tugas teknis, melainkan menjadi tanda kasih, penghiburan, dan harapan bagi keluarga yang ditinggalkan.

Sesi materi pertama diberikan oleh Suster Elisabeth
Kegiatan diawali dengan pengantar materi tentang pentingnya kerja tim dalam pelayanan pralaya yang dibawakan oleh Suster Elisabeth. Dalam sesi ini, para tim seksi pralaya ini diajak melihat kembali panggilan dasar pelayanan, bahwa kehadiran tim pralaya berangkat dari hati yang tergerak untuk mendampingi keluarga berduka secara manusiawi dan penuh empati.
“Intinya, mengapa kita bekerja dalam tim pralaya adalah untuk hadir sebagai tanda kasih, penghiburan, dan harapan bagi keluarga yang berduka. Kerja tim bukan hanya soal tugas teknis, tetapi pelayanan bersama yang tumbuh dari empati dan kesatuan hati. Hati kita harus tergerak dan fokus pada mereka yang sedang berduka,” ujarnya.
Masih dalam sesi pemaparan materi, dilanjutkan dengan diskusi dan refleksi kelompok. Para anggota saling berbagi pengalaman pelayanan, kendala yang sering dihadapi, serta cara-cara membangun kekompakan di lapangan.

Sesi materi ke dua diberikan oleh Romo Yosef Setiawan
Materi berikutnya disampaikan oleh Pastor Paroki Santa Bernadeth, Romo Yosef Setiawan, yang memberikan pembekalan khusus terkait tugas dan tanggung jawab Seksi Pralaya. Dalam pemaparannya, Romo Yosef menjelaskan bahwa seksi pralaya bertanggung jawab atas perawatan jenazah umat Katolik di lingkungan KBG yang meninggal dunia, menghadiri rapat-rapat yang berkaitan dengan bidang tugas, melaksanakan katekese tentang liturgi kematian bersama seksi liturgi, serta menjaga dan merawat perlengkapan pelayanan kematian.
Sebagai tanda peneguhan dan perutusan, akhir sesi materi ditutup dengan pembagian rompi pralaya oleh Romo Yosef Setiawan kepada tim pralaya. Rompi tersebut menjadi tanda kesiapsediaan dan tanggung jawab tim pralaya dalam menjalankan pelayanan dengan empati dan kesatuan hati. (Vsh)

