Asian Church
Kabil – Berkatnews.com. Fasilitator paroki St. Fransiskus Assisi – Batam mengadakan kegiatan On Going Formation untuk semua Fasilitator AsIPA angkatan 1, 2 dan 3, bersama pengurus KBG dalam bentuk rekoleksi dengan tema “Fasilitator yang Berkomunio, Bermisi dan Semakin Berpusat pada Kristus”. Rekoleksi yang diadakan di Palm Spring Golf & Resort Nongsa ini diikuti oleh 156 peserta dari 34 KBG di bawah naungan paroki termuda di Batam ini.
1. “Tidak Ada Sesuatu Yang Kebetulan”, Sharing Pengalaman Iman Fasilitator dalam Rekoleksi
Pada pukul 09:00 WIB Sharing Injil 7 Langkah mengawali rangkian kegiatan sepanjang hari itu. SI7L dipandu oleh Ibu Maria Miarsih, seorang Fasilitator AsIPA angkatan 3 dari KBG S. Patrisius. Bu Mia memberi kesempatan pada beberapa orang untuk membagikan pengalaman imannya. Ibu Nurliana br. Sinaga, salah satu Fasiltator AsIPA angkatan 1 adalah salah satu peserta yang membagikan pengalaman imannya. Berawal dari keinginannya menyekolahkan puteranya di seminari. Setiap kali Bu Lia, demikian panggilan dari Ibu 2 putera dan 1 puteri ini menawarkan kepada puteranya untuk menimba ilmu di seminari, selalu ditolak oleh puteranya.
Situasi menjadi haru biru, ketika putera kedua Bu Lia, Karolus A. Wawin, pulang dari kegiatan Minggu Panggilan yang dilaksanakan oleh Sie Kerasulan Remaja paroki St. Fransiskus Assisi, pada hari Minggu, 12 Mei 2019. Dengan penuh keyakinan, remaja yang baru lulus dari Sekolah Menengah Pertama ini menyampaikan niatnya untuk melanjutkan studi di Seminari Menegah Mario Jhon Boen, kepada Ibundanya, setelah mendengarkan sharing pengalaman Theodorus Alvaro Da Lopez, putra berdarah NTT, yang lahir dari pasangan Bapak Fransiskus Xaverius dan Ibu Hendrika Sri Lestari, umat dari KBG S. Yanuarius, Paroki S. Fransiskus Assisi yang telah lebih dahulu menimba ilmu di SMMJB, dan akan melanjutkan mendalami panggilannya di tarekat SVD.
Meski sebenarnya tes seleksi untuk seminari sudah ditutup, tapi Tuhan berkehendak lain. Bu Lia dibantu oleh Pastor Yodi, akhirnya Karolus bisa mengikuti tes seleksi susulan, dan hasilnya sungguh tidak terduga. Remaja tersebut diterima di SMMJB, Pangkalpinang. Suka cita tak terhingga terpancar dari keluarga ini. Begitu juga dengan kedua pastor yang menggembalakan umat di paroki ini. RD. Yohanes De Orney atau Pastor Yance, mengatakan pada bu Lia, “Tidak ada sesuatu yang kebetulan. Yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”
Pada akhir sharingnya, Bu Lia memohon doa dari para Imam dan seluruh peserta rekoleksi supaya puteranya bisa mendalami agama katolik dengan tekun dan setia, dan doa itu menjadi salah satu Aksi Nyata Injili yang akan dilakukan seluruh peserta rekoleksi, untuk utusan pertama yang belajar di SMMJB dari paroki S. Fransiskus Assisi tersebut.

RD. Wilfridus Patrisius Nong Yodi, Pastor Paroki Santo Fransiskus Assisi
2. Fasilitator Yang Menjiwai 3 Bintang Menjadi Motor Penggerak Di Kbg Dan Paroki S. Fransiskus Assisi – Batam
Pada sesi pertama, RD. Wilfridus Patrisius Nong Yodi, Pastor Paroki Santo Fransiskus Assisi yang menjadi Pemateri Tunggal selama rekoleksi berlangsung, mengingatkan kembali 3 bintang ciri khas keuskupan Pangkalpinang. Sesi ini diawali dengan diskusi kelompok untuk menggali pemahaman peserta tentang fasilitator, mengapa ada fasilitator, kendala yang dihadapi fasilitator di KBG, ciri fasilitator yang baik serta saran untuk fasilitator di KBG.
Dari hasil penggalian yang disampaikan oleh tiap kelompok terungkap bahwa banyak hal positif yang terjadi karena adanya fasilitator di KBG. Hidup tidaknya KBG tergantung pada fasilitator di KBG tersebut. Kegiatan-kegiatan KBG dan kegiatan pastoral di paroki berjalan dengan baik karena fasilitator sadar untuk ambil bagian di dalamnya. Lima tugas perutusan Gereja bisa terlaksana dengan baik karena peran fasilitator menjadi motor penggerak KBG dan paroki.
Fasilitator juga memliki kendala dalam tugas perutusannya. Pastor Yodi menawarkan beberapa solusi dalam menghadapi kendala tersebut dengan kembali pada keberpusatan fasilitator pada Yesus, selalu membangun komunio dengan orang-orang disekitarnya dan menjadikan komunio Allah Tritunggal sebagai teladannya, serta menyadari misinya sebagai penerus misi penyelamatan Yesus di dunia.
Dan diakhir sesi pertama ini, Pastor Yodi kembali mengingatkan tentang Visi, Misi dan Spiritualitas keuskupan Pangkalpinang. Dan spiritualitas Kemuridan dan Hamba Allah kembali digarisbawahi oleh Pastor Yodi untuk para Fasilitator dan pengurus KBG yang hadir pada hari itu, dengan harapan, karakter fasilitator yang sabar, rendah hati, bersedia untuk mendengar, tidak mendominasi, tidak baperan dan terus menerus belajar, akan terbentuk.

3. Berkobar-Kobar Dan Aksi Segenggam Beras Adalah Branding Paroki S. Fransiskus Assisi – Batam
Sebelum memasuki sesi kedua, sekretaris DPP St. Fransiskus Assisi, yaitu Bapak Cornelis Sijabat mengawali dengan sebuah kode. Branding. Mungkin di paroki-paroki lain memiliki ciri khas masing-masing. Seperti di Asia, ada AsIPA. Di keuskupan Pangkalpinang ada PIPA sebagai turunannya. Dan di paroki St. Fransiskus Assisi ada jawaban salam “Berkobar-kobar” ketika ditanya “Apa kabar ?”, dan satu hal lagi yang mengarahkan pikiran tertuju ke paroki S. Fransiskus Assisi yaitu “Aksi Segenggam Beras”.
Semangat berkobar-kobar inilah yang ingin terus menerus dipelihara. Tema yang diambil dari Injil Lukas 24 : 13-35, 36-49, 50-53, tidak tanpa sebab. Perjumpaan dua murid yang sedang dalam perjalanan ke Emaus, dengan Yesus, menjadi insiprasi dalam penentuan tema yang dirumuskan oleh sie materi panitia. Kepanitiaan kegiatan ini diketuai oleh Bapak Soni Liston Sitanggang, yang merupakan fasilitator AsIPA angkatan 3.
Pada sesi kedua ini, Pastor Yodi mengajak seluruh peserta untuk becermin pada dua murid Yesus tersebut. Pengalaman di jalan ke Emaus adalah model perjalanan yeng dibuat Yesus untuk para fasilitator. Yesus membuka mata dan mengarahkan para fasilitator pada kehendak Allah. Yesus tidak ingin para fasilitaotor tinggal dan larut dalam kesedihan, kekecewaan, keputusasaan dan tenggelam dalam kecemasan. Yesus ada, berjalan, bercakap-cakap, tinggal dan makan bersama fasilitator.
“Menjadi fasilitator adalah sebuah proses. Proses yang tidak mudah, jatuh bangun, susah senang dan penuh tantangan, baik dari diri sendiri atau dari luar diri sendiri. Fasilitator ada karena dibentuk, bukan diciptakan. Fasilitator harus menyadari bahwa mereka secara pribadi dipanggil dan dipilih oleh Tuhan. Dipanggil untuk bersatu dengan Allah, berkomunio dengan sesama dan bermisi mewartakan Kabar Gembira dan menghadirkan kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. ”, tambah Pastor Yodi. Di akhir sesi kedua ini, Pastor Yodi mendoakan seluruh peserta rekoleksi agar dapat menjadi fasilitator yang baik, yang selalu berpusat pada Kristus, membangun komunio dan bermisi di tengah-tengah dunia.
Seluruh rangkaian rekoleksi yang penuh keceriaan dengan pelbagai permainan yang dipandu oleh Bu Justin, Bu Rini dan Pak Dipo ini ditutup dengan perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh Pastor Yodi dan berfoto bersama. *(Kontributor Berkatnews LVEP)
Jam 12 Siang ini Jenasah Datuk “Yang Dihormati” Tiba di Gereja Kabil, Batam
Batam-BerkatNews.com. Jenasah mendiang Romo Frans Adbauw pada pagi tadi diberangkatkan dari Tanjungpinang menuju Batam. Sesuai informasi bahwa umat Katolik di Batam diberikan waktu untuk melakukan penghormatan terakhir jam 12 siang ini (Selasa, 25/6) di Gereja Katolik St. Yosef Kabil, Batam.
Baca juga: Selamat Jalan Datuk “Yang Dihormati”
Berikut informasi lengkapnya:
Misa Requem Romo Frans Adbaw Odjan,Pr diGreja St.Yosef Kabil Hari ini Selasa,25 Juni Pkl.12:00.
(Jensah diberangkatkan dari Uban ke Pungur,diperkirakan pkl.11:30 sudah dipunggur)
Setelah misa atau pkl.14:00 Jenasahnya akan dibawah ke bandara Hangnadim menuju Pangkal pinang.
Trima kasih
Salam
Romo Yodi,Romo Yance,Bp.Warsito
Tanjungpinang-BerkatNews.com. DUA tahun silam, tatkala Romo Atbau merayakan pesta perak imamatnya di Gereja Kristus Raja, Tanjungpinang, Minggu (17 September 2017), ia menerima gelar kehomatan “Yang Dihormati” dari Lembaga Adat Melayu Kepulauan Riau, diwakili Kekerabatan Keluarga Besar Melayu Kepri. Satu kalimat yang ia ucapkan hari itu, “Saya sangat berterimakasih karena saudara-saudara Melayu menerima saya. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” tutur pemilik nama lengkap RD Fransiskus Atbau Oedjan ini.
Imam dengan ‘sense of art’ tinggi ini tidak asing di mata banyak orang, tidak terkecuali bagi kalangan umat katolik di wilayah Keuskupan Pangkalpinang. Pun bagi masyarakat luas yang non katolik, tak sedikit masyarakat kota ini mengenalnya. Edi Jajang Jaya Atmaja misalnya, mantan Redaktur Pelaksana Bangka Pos yang kini adalah dosen UBB (Universitas Bangka Belitung), suatu ketika kepada penulis menyampaikan bahwa ia mengenal sosok Romo Atbau dengan baik. Kedua pemilik suara merdu ini sepertinya saling mengenal lewat hobi tarik suara mereka, tetapi kepada penulis mereka merahasiakan di mana mereka saling mengenal.

Kolaborasi Rm Atbau dengan Didiek SSS saat perayaan pesta perak imamat-nya.
Semasa hidupnya, beberapa karya dengan sentuhan seni tinggi yang pernah Romo Atbau hasilkan diantaranya adalah ‘Goa Maria Pelindung Segala Bangsa’, Belinyu. Romo Atbau “menyulap” Goa Maria ‘Mo Thian Liang’ (begitu Tionghoa Belinyu menyebutnya-red) menjadi Goa Maria dengan penataan cahaya lampu yang artistik, mengemas sumber daya alam yang ada menjadi lebih alami, semisal pohon kiara yang menyerupai beringin dipangkas sedemikian rupa sehingga tampak rindang, teduh dan asri, di mana terdapat ular hitam bertotol kuning yang selalu setia menjadi “penunggu” pohon-pohon kiara itu. Juga aliran air dari arah pasar yang di hadang dengan tumpukan pasir sedemikian rupa, hingga menghasilkan suara gemericik air yang mirip anak sungai. Di sanalah ‘Mo Thian Liang‘ alias ‘Bukit Menggapai Langit’ itu berada.
Dalam banyak moment khusus, imam ini juga sering mempersembahkan perayaan ekaristi dengan alunan persembahan music dan lagu para professional semisal penyanyi terkenal Denpasar Moon, Maribeth, juga alunan saxophone adik dari mendiang musisi terkenal Embong Raharjo, Didik SSS, serta penari dan penyanyi profesional lainnya. Romo Atbau pun pernah menelurkan beberapa album lagu untuk karya pelayanan gereja.
Impian si “Hitam”
Di kampung halamannya sendiri Tanjungpinang, ia dikenal dengan julukan “Hitam”. Mungkin karena warna kulitnya yang gelap. Duapuluhtujuh tahun yang lalu, tepatnya 13 September 1992, Atbau muda menerima tahbisan imamat di Paroki Hati Maria Tak Bernoda, Kota Kijang, Pulau Bintan, Kepulauan Riau.
Satu impiannya yang tak pernah terwujud adalah tatkala pada pesta perak imamatnya Romo Atbau berkeinginan menerbitkan buku biografi tentang dirinya. Kepada penulis, Romo Atbau beberapa kali menyampaikan keinginan tersebut, bahkan meminta penulis merancang kisi-kisi atas buku tersebut. Dan semua keinginannya penulis penuhi, namun tanpa penulis ketahui alasannya secara pasti, buku tersebut gagal dibuat hingga akhir hayatnya.
Hari ini, Senin (24 Juni 2019) engkau telah pergi, meninggalkan kami semua. Kami kehilangan sosok imam yang humanis, humoris dan merakyat, tapi mungkin Allah Bapa lebih mencintaimu. Selamat jalan Datuk “Yang Dihormati”. Berbahagialah bersama para kudus di surga. Doa kami menyertaimu. (fennie)
Senin, 24 Juni 2019
Pukul 13.00 Wib :
Misa Pemberkatan Jenazah dipimpin Mgr. Adrianus Sunarko di Gereja Batu Kucing
Dilanjutkan tirakatan sampai pagi.
Selasa, 25 Juni 2019
09.00 wib : Jenazah diterbangkan menuju pangkalpinang via Jakarta dengan sriwijaya
Sore sekitar jam 16.00 diperkirakan sampai di pangkalpinang.
Disemayamkan di gereja Katedral st. Yosep pangkalpinang.
Rabu, 26 Juni 2019
Pukul 13.00 Misa Requiem dan Pemakaman di gereja di lanjutkan pemakaman di Pemakaman umum Jalan Koba.
Demikian info dari kami setelah konsultasi dengan Bapa Uskup.
Salam,
Rm. Ag. Dwi Pramodo
Pastor Paroki Tanjungpinang
ADA PERUBAHAN, BERIKUT UPDATE 24 JUNI 2019 11.30 WIB
Senin, 24 Juni 2019
Pukul 13.00 Wib :
Misa Pemberkatan Jenazah dipimpin Mgr. Adrianus Sunarko di Gereja Batu Kucing
Dilanjutkan tirakatan sampai pagi.
Selasa, 25 Juni 2019
09.00 wib : Jenazah diberangkatkan menuju batam melalui RORO Tanjung Uban dan Jenazah akan di terbangkan dari Batam menuju Pangkalpinang
Rabu, 26 Juni 2019
Pukul 13.00 Misa Requiem dan Pemakaman di gereja di lanjutkan pemakaman di Pemakaman umum Jalan Koba.
Demikian info dari kami setelah konsultasi dengan Bapa Uskup.
Salam,
Rm. Ag. Dwi Pramodo
Pastor Paroki Tanjungpinang
Tanjungpinang-BerkatNews.com. Menyebut nama Romo Frans Adbauw Odjan, Pr, siapapun umat di Keuskupan Pangkalpinang, tidak merasa asing dengannya. Namun, tiba-tiba ada kabar tidak elok tentangnya dari Pastor Paroki Hati Santa Perawan Maria Tak Bernoda (HSMT) Tanjungpinang melalui Romo Sekjend Keuskupan, Romo Ludgerus Oke.
“Rekan Imam yang terkasih, saya baru dapat info dari RD Pramodo bahwa Romo Frans Atbaw sedang menjalani rawat intensif di RSAL TjPinang,” tulis Romo Oke di whatsap group Imam Papin. “Dokter memberikan info medik bahwa beliau sesak nafas dan pembengkakan di kaki,” sambung Romo Oke lagi.
Romo Oke yang meneruskan informasi Romo Pramodo itu, juga mengatakan akan ada beberapa tindakkan medik mendesak yang dilakukan sambil menunggu kondisi lebih stabil.
“Mari kita doakan moga proses medik untuk romo Adbaw berjalan lancar dan memberikan hasil yang baik. Kita doakan juga romo Pram dan Rm Yohan yang terus bergantian berjaga, moga mereka tetap bugar,” pungkas Romo Oke
Selang beberapa waktu, Romo Pramodo mengabarkan bahwa ia kondisi Romo Adbauw yang biasa disapa Romo “Abang” itu kritis dan mendapatkan pelayanan Sakramen Perminyakan.
“Saya, Romo Yohan dan Yunni Adbauw, adik Romo Adbauw sedang berjaga,” tulis Romo Pramodo. Imam yang lainnya pun terpantau terus berjaga dan memberi perhatian melalui WAG Imam Papin.
Lantas, pada jam 01.55 WIB, Romo Pramodo mengirim pesan lagi di WAG Imam Papin. “Mgr dan para Romo, Romo Adbauw telah tiada,” kata Romo Paroki Tanjungpinang ini.
Sebagian besar para Romo yang menyampaikan pesan dukacita di WAG Imam Papin, memanggilnya Abang.
Menanggapi itu, Romo Provinsial SS.CC Indonesia juga turut memberikan ucapan dukacitanya untuk berpulangnya Romo Abang. “Bpk uskup dan rekan2 imam sekeuskupan Ppinang, kami atas nama keluarga besar SS.CC turut berdukacita atas meninggal nya rm Frans Adbaw. Mat jalan abang, bahagia bersama para kudus dan para malaikat di surga,” ungkap Romo Provinsial SS.CC, Romo Bonifasius Payong, SS.CC.
Sedangkan Romo Vicarius Episkopal (Vikep) Kepri, RD Frans Mukin, merasa kepergian Romo Abang begitu mendadak.
“RIP P. Adbaw, demikian tiba-tiba kepergianmu. Berbahagialah bersama Para Kudus di Surga,” ungkap Romo Frans Mukin. (Stefan)
Batam-BerkatNews.com. Paroki Santo Damian Bengkong, Batam kini genap berusia 24 Tahun pada tanggal 11 Juni 2019. Beberapa kegiatan dilakukan untuk mensyukuri dan bersukacita atas usia baru ini, baik kegiatan liturgi maupun perlombaan. Kegiatan perlombaan yaitu rangkaian perlombaan untuk anak-anak Bina Iman Anak dan Bina Iman Remaja Se-Paroki Santo Damian. Ada 5 jenis perlombaan dalam rangka HUT Paroki Santo Damian, diantaranya makan kerupuk, membawa kelereng di sendok, memindahkan air, mewarani dan memindahkan tepung khusus untuk pendamping. Umat antusias mengikuti perlombaan tersebut dilihat dari banyakny jumlah peserta yang mendaftar yaitu 268 orang anak dan remaja dan diikuti oleh 31 orang pendamping.
Misa syukur juga diadakan sebagai puncak perayaan syukur atas bertambahnya usia Paroki Santo Damian yang berdiri 24 tahun lalu ini. Misa diadakan pada tanggal 16 Juni 2019 pada pukul 08:00 WIB dengan perarakan vandel ikon Santo Damian dan Vandel per wilayah serta KBG yang dibawa oleh para ketua wilayah dan ketua KBG. Misa dipimpin oleh Pastor Paroki Santo Damian, RP. Yohanes Budiyanto SS.CC selebran utama dan Paulus Budiyunianto SS.CC imam konselebran. Umat dengan khusyuk mengikuti perayaan Ekarsti syukur tersebut sampai akhir dan bersama-sama bersukacita atas rahmat Tuhan yang membimbing perjalanan Paroki Santo Damian hingga kini.
Ramah tamah bersama seluruh umat paroki diadakan usai Misa Syukur HUT Paroki St. Damian di aula Paroki. Acara dimulai dengan kata sambutan dari Pastor Yohanes Budiyanto sebagai kepala Paroki. Pastor Budi menyampaikan bahwa Paroki St. Damian kian berkembang baik dari kuantitas maupun kualitas reksa pastoral yang semakin menuju visi Gereja Partisipatif. Harapan Pastor Budi pada kesempatan tersebut adalah agar umat Paroki St. Damian senantiasa bergandengan tangan mewujudkan gereja partisipatif untuk mewujudkan impian Paroki dan Keuskupan. Sebagai informasi, Paroki ini adalah paroki di Kevikepan Kepri yang terus melakukan basic formatio untuk pemimpin dengan lokakarya AsIPA (Asian Integral Pastoral Approach) sebagaimana amanat Sinode.
Ragam acara ditampilkan dengan apik oleh pengisi acara dari berbagai komunitas dan KBG, mulai dari menyanyikan Mars Santo Damian, bertutur kitab suci, dan yang menarik pada perayaan ini adalah Tari-tarian. Tidak hanya sekedar tarian semata yang ditampilkan, namun tarian-tarian tersebut sekaligus sebagai sarana penggalangan dana untuk keperluan pembelian gudang sebagai penunjang kegiatan di Paroki St. Damian Bengkong.
Selain Ramah Tamah dan acara makan bersama, ada pula pengobatan kasih. Pengobatan kasih tidak dipungut biaya dan dapat dinikmati oleh para umat di Paroki St. Damian yang ingin berobat. Kegiatan ini adalah hasil kerjasama antara Tim Kesehatan Paroki St. Damian dan tim Damian Care yang baru saja terbentuk.
Damian Care dibentuk awalnya melalui beberapa umat yang peduli dengan mereka yang sakit, kadang hanya rasa iba dan peduli dari situlah tergerak untuk membuat komunitas baru yang berguna untuk menolong sesama. Berbagai cara untuk mendapatkan dana bagi Damian Care untuk membantu pengobatan umat Paroki St. Damian yang membutuhkan, salah satunya dengan Bank Sampah. Umat diajak untuk berpartisipasi menolong sesama yang membutuhkan dengan menyumbangkan sampah seperti kardus dan botol plastik, disisi lain umat membantu melestarikan lingkungan dengan memberdayakan sampah.*



Artikel kiriman: Fransiska Putri Patriot
Editor: costmust/berkatnews.com
Kabil – BerkatNews. Selasa, 4 Juni 2019 petang, pelataran di depan gereja stasi St. Yosef – Kabil, dipenuhi puluhan kendaraan yang berjajar rapi. Sore ini dimulai Novena St. Antonius Padua selama 9 hari, setiap hari Selasa pukul 19:00 wib, hingga tanggal 30 Juli 2019 nanti.
Misa sekaligus pembukaan novena ini dipimpin oleh RD. Wilfridus Patrisius Nong Yodi sebagai selebran utama bersama konselebran RD. Yohanes Belang De Ornay. Antusias umat terlihat jelas, dengan banyaknya umat yang hadir memenuhi ruangan gerja, hingga tenda samping gereja.
Kekusyukan mulai terasa saat Paduan Suara Wanita mengantar umat dengan 2 lagu para liturgi. Alunan “Adoramus Te” dan “O Sacrum Convivium” memenuhi ruangan gereja dan hati seluruh umat.. Paduan suara dari wilayah Sta. Monika yang bertugas malam itu juga membawa umat pada suasana doa yang dalam. Lagu “Jadikanlah Aku Pembawa Damai” membawa umat semakin menghayati tema novena hari pertama ini.
Pada homilinya, Pastor Yodi, panggilan akrab pastor paroki St, Fransiskus Assisi, menyampaikan 3 hal, Pertama, Pastor Yodi menceritakan sedikit tentang sejarah St. Antonus dari Padua. Kedua, Beliau sharing tentang pengalaman pribadi Beliau saat ziarah ke Padua, ke Basilika tempat Orang Kudus yang terkenal sebagai Pengkotbah Ulung ini. Lalu hal yang ketiga tentang tema yang diambil dari St. Fransiskus Assisi, yaitu Jadikan Aku Pembawa Damai.
Pastor Yodi juga mengajak umat untuk berdoa, memohon kepada Tuhan melalui perntaraan St. Antonius Padua supaya umat menjadi alat / ciptaan-Nya / duta – duta pembawa damai. Para kudus yang sudah mendahului kita mengikuti teladan Yesus Sang Raja Damai, Dan hal,itu juga yang harus kita teladani sebagai murid Yesus. “Damai yang keluar dari hati. Jika ingin dunia damai, harus dimulai dari damai pada diri sendiri, lalu damai pada sesama, damai dengan alam semesta dan damai dengan Allah.”, pesan Pastor Yodi. “Jika ada gelisah, perpecahan, bimbang atau ragu-ragu, berarti belum damai”, tambahnya. Damai menjadi sumber dari segala sesuatu.
Di akhir perayaan Ekaristi ini, Pastor Yance, panggilan akrab RD. Yohanes Belang De Ornay juga sharing tentang terkabulnya doa Novena St, Antonius Padua, serta menyampaikan bahwa doa novena ini tidak harus didoakan dalam perayaan Ekaristi, tapi bisa dilakukan sendiri dengan ujud doa pribadi, atau bisa juga dengan keluarga.
Umat Paroki St. Fransiskus Assisi mengundang umat dari paroki-paroki lain yang ada di Batam dan sekitarnya, yang tergerak hatinya untuk berdoa bersama dalam novena ini. Sampai jumpa pada Novena S. Antonius dari Padua hari kedua, Selasa, 11 Juni 2019 dengan tema “Jadikanlah Aku Pembawa Cinta Kasih”, yang akan dipimpin oleh RD Philipus Seran.* (LVEP/BerkatNews.com)