Pangkalpinang, Berkatnews.com – Dua pot tanaman hias di sudut teras rumah bukan sekadar hiasan rumah bagi umat Komunitas Basis Gerejani (KBG) St. Yohanes Paulus II, Paroki Katedral St. Yosef Pangkalpinang. Pot-pot tersebut adalah salah satu bentuk aksi nyata dalam menghidupi gerakan Tahun Pastoral Merawat Bumi yang dimulai sejak bulan April lalu. Melalui aksi sederhana ini, umat diajak menyadari kembali bahwa bumi adalah rumah bersama yang dianugerahkan Tuhan untuk dijaga dan dirawat. Bukan hanya mempercantik hunian pribadi, tanaman-tanaman ini mengemban tugas khusus yaitu untuk menghias altar gereja saat giliran tugas liturgi KBG tiba pada bulan September mendatang.
Setelah berjalan selama tiga bulan, Ketua KBG mengimbau setiap keluarga mendokumentasikan perkembangan tanaman masing-masing. Foto-foto yang terkumpul memperlihatkan dinamika yang beragam dan kaya akan refleksi. Ada tanaman yang tumbuh makin rimbun dengan dedaunan segar memanjakan mata, tetapi ada pula yang layu hingga mati karena tantangan dalam hal perawatan.

Kegiatan pemilahan sampah
“Awalnya saya ragu bisa merawatnya karena jadwal pekerjaan harian cukup padat,” cerita Ibu Maria, salah satu anggota KBG, saat menunjukkan foto tanamannya yang tumbuh subur. “Namun, rutinitas menyiram di pagi hari menyadarkan saya bahwa bumi ini tempat tinggal kita bersama. Jika dari hal kecil di rumah sendiri saja kita tidak peduli, bagaimana kita bisa menjaga bumi yang lebih luas? Apalagi membayangkan tanaman ini nanti akan memperindah altar Tuhan pada bulan September, rasa semangat untuk merawatnya jadi berlipat ganda.”
Tantangan perawatan juga dialami langsung oleh Tintus, Ketua KBG St. Yohanes Paulus II. Ia mengaku sempat mengalami kesulitan saat awal menanam hingga tanamannya mati. Namun, kegagalan tersebut justru menjadi pemantik untuk belajar dalam menjaga lingkungan, dimulai dari pekarangan dan dalam rumahnya sendiri.

Gerakan merawat rumah dengan menjaga tanaman lingkungan
“Pot pertama saya sempat mati karena kurang paham cara merawatnya,” ujar Tintus. “Dari sana saya sadar bahwa merawat rumah bersama butuh ketelatenan. Karena bulan September sudah semakin dekat untuk tugas hias altar, saya langsung ganti dengan bibit baru. Tidak berhenti di situ, saya juga mulai melatih keluarga dengan memilah sampah di rumah. Saya beri label ‘Organik’ dan ‘Anorganik’ di atas tempat sampah. Senang sekali melihat anak-anak sekarang mulai terbiasa memilah sampahnya sendiri sebelum dibuang.”
Gerakan merawat rumah bersama ini kian bergema kuat melalui pengalaman pasangan suami istri Herman Susanto dan Theresia Ndari. Pasutri ini memilih melangkah lebih maju dalam mengelola limbah rumah tangga. Mereka memilah sampah anorganik berupa gelas dan botol plastik kemasan secara konsisten untuk dikumpulkan dan diberikan kepada para pemulung yang rutin melintas di depan rumah mereka. Tak berhenti di situ, untuk sampah organik sisa dapur, Pak Herman dan Bu Ndari secara mandiri membuat lubang biopori serta merakit wadah komposter sendiri di pekarangan.

Anak usia dini terlibat dalam merawat lingkungan
“Kami ingin pemilahan sampah ini selesai dari sumbernya, yaitu rumah sendiri,” ungkap Herman didampingi sang isteri. “Sampah anorganik seperti botol dan gelas bekas bisa menjadi saluran rezeki bagi sesama, khususnya para pemulung. Sementara sampah organik sisa dapur kami olah jadi pupuk kompos dan resapan air tanah lewat biopori. Jadi, sedikitlah atau bahkan kadang tidak ada sampah dari rumah kami yang terbuang ke TPA, ”tambahnya.
Semua gerakan aksi nyata ini menunjukkan bahwa merawat bumi sebagai rumah bersama adalah peziarahan iman yang berkelanjutan. Tanaman yang tumbuh subur menjadi simbol harapan, sementara keberanian mengganti tanaman yang mati dan membiasakan pola hidup bersih mengajarkan kepedulian akan ciptaan Allah yang baik adanya. Dari pot-pot kecil di teras hingga sampah yang terpilah, umat KBG St. Yohanes Paulus II membuktikan bahwa bakti kepada Sang Pencipta selalu berjalan seiring dengan kasih menjaga kelestarian bumi, rumah kita bersama. (Penulis : Alexander)