Home GEREJA Dari Kesadaran Kecil Menuju Perubahan Nyata , Refleksi Perjalanan KBG St. Yohanes XXIII

Dari Kesadaran Kecil Menuju Perubahan Nyata , Refleksi Perjalanan KBG St. Yohanes XXIII

by Veronika Suci Handayani

Pangkalpinang, Berkatnews.com – Fokus pastoral “Merawat Rumah Bersama” secara resmi dibuka oleh Paroki Katedral St. Yosef Pangkalpinang pada Rabu, 22 April 2026. Bagi umat KBG St. Yohanes XXIII, pembukaan itu tidak berhenti sebagai sebuah agenda pastoral yang tertulis dalam program kerja. Sebelumnya, sejak Januari 2026 KBG sudah mulai bergerak dengan aksi: setiap keluarga menanam di 2 pot tanaman untuk digunakan sebagai hiasan altar. Tetapi sejak pembukaan resmi itu, KBG bergerak semakin giat. Tidak menunggu semuanya sempurna, tidak menunggu program besar disiapkan, tetapi mulai dari sesuatu yang sederhana dan dapat dilakukan bersama.

Memulai dari Sebuah Lubang Kecil

Hanya tiga hari setelah pembukaan fokus pastoral, tepatnya Sabtu, 25 April 2026 pukul 08.00, umat berkumpul di rumah Pak Erik Pamu Singgih, rumah yang halamannya cukup luas. Dengan menggunakan alat pembuat lubang biopori yang dibagikan oleh paroki kepada setiap wilayah, umat mulai membuat lubang-lubang biopori di halaman rumah.

Pagi itu menjadi awal yang sederhana tetapi penting. Bapak-bapak dan ibu-ibu bergantian mencoba memutar alat pelubang biopori. Tidak selalu mudah. Tanah yang keras membuat alat harus diputar dengan tenaga yang cukup kuat. Namun, satu demi satu lubang berhasil dibuat hingga mencapai kedalaman yang diharapkan, meskipun ada juga yang tidak cukup dalam karena terbentur batu yang keras.

Setelah itu, beberapa umat mulai membuat lubang biopori di rumah masing-masing. Lubang-lubang kecil itu kemudian menjadi lebih dari sekadar lubang di tanah. Sampah organik pun mulai dimasukkan ke dalamnya. Dari kegiatan kecil ini umat mulai belajar bahwa merawat rumah bersama tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Kadang-kadang ia dimulai dari sebuah lubang kecil di halaman rumah.

Partisipasi Umat merawat rumah bersama

Tidak Langsung Ramai, tetapi Terus Bertumbuh

Dalam pertemuan-pertemuan KBG bulan April, Mei, dan Juni, fokus pastoral “Merawat Rumah Bersama” belum dapat didalami secara khusus dan teratur. Ada berbagai agenda KBG, peringatan 10 tahun meninggalnya Mgr. Hilarius, dan terutama agenda paroki yang pada masa itu masih berfokus pada modul-modul AsIPA.

Namun, proses itu bukan berarti berhenti. Pada minggu terakhir bulan Juni, melalui modul paroki “Sampah dan Tanggung Jawab Iman”, KBG mulai secara lebih intensif mengolah persoalan sampah bukan hanya sebagai persoalan kebersihan, tetapi sebagai persoalan iman dan tanggung jawab manusia terhadap ciptaan.

Penyadaran mulai mendapatkan bentuk yang lebih jelas. Minggu, 28 Juni, KBG langsung menggelar kegiatan Edukasi Pemilahan Sampah, sebagaimana telah diprogramkan sebelumnya. Kegiatan ini menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan KBG. Sampah mulai dilihat bukan sekadar sesuatu yang harus segera dibuang, tetapi sesuatu yang perlu dikenali, dipilah, dikurangi, dan diolah.

 

Memasuki bulan Juli, pada minggu pertama, KBG mulai menyusun modulnya sendiri. Dengan tema “Allah Menciptakan Rantai Kehidupan yang Saling Menopang”, pendalaman mulai bergerak lebih jauh: dari persoalan sampah menuju cara pandang tentang kehidupan. Ketika manusia merusak satu bagian dari ciptaan, dampaknya tidak berhenti pada bagian tersebut. Ada rantai kehidupan yang ikut terganggu. Kesadaran inilah yang kemudian terus dibangun melalui pertemuan-pertemuan KBG.

Dari Modul Menjadi Kebiasaan

Juli: Menemukan Rumah Bersama dalam Kehidupan Sehari-hari

Setelah satu minggu (minggu II Juli) digunakan untuk mengevaluasi program pada fokus pastoral “Bertanggung Jawab Bersama dalam Misi” yang dijalankan dalam bulan Januari—April, KBG kemudian memasuki rangkaian pendalaman yang lebih intensif tentang “Merawat Rumah Bersama”. Modul-modul tidak dibuat sekadar untuk menambah pengetahuan. Setiap modul diarahkan untuk menyentuh kesadaran umat dan berujung pada aksi nyata. Umat mulai diajak melihat rumah bersama bukan sebagai sesuatu yang jauh dan abstrak, melainkan sebagai sesuatu yang hadir dalam rumah mereka sendiri, halaman mereka sendiri, kebiasaan mereka sendiri, dan bahkan dalam cara mereka memperlakukan makanan, air, listrik, dan barang-barang yang mereka beli.

Sedikit demi sedikit, muncul perubahan yang menarik. Memilah sampah tidak lagi sekadar dianggap sebagai program KBG. Mengolah sampah tidak lagi hanya dilakukan karena ada kegiatan. Bahkan, muncul perasaan tidak nyaman ketika sampah langsung dicampur dan dibuang begitu saja. Demikianlah ungkapan Ibu Agiok, salah seorang umat KBG. Di sinilah sebuah program pastoral mulai berubah menjadi sebuah kebiasaan hidup.

Rangkaian modul bulan Juli dibangun secara bertahap. Pada Juli minggu III, melalui modul “Rumah Bersama yang Diwariskan” umat diajak melihat bahwa rumah bersama yang ditempati hari ini bukanlah sesuatu yang diciptakan sendiri. Umat menerima kehidupan, alam, keluarga, iman, budaya, nilai-nilai, dan berbagai kebaikan dari generasi-generasi terdahulu. Karena itu, apa yang telah diterima bukan hanya untuk dinikmati, tetapi juga untuk dirawat dan diwariskan. Pertanyaan penting yang mulai muncul adalah: rumah bersama seperti apa yang sedang umat siapkan untuk generasi sesudah sekarang? Kesadaran ini memperluas makna merawat rumah bersama. Merawat bukan hanya memperbaiki kerusakan yang sudah terjadi, tetapi juga menjaga agar apa yang baik tetap dapat diterima oleh generasi berikutnya.

Pada Juli minggu IV menjelang peringatan Hari Kakek Nenek dan Lansia (HKNL) ke-6 tahun 2026, KBG St. Yohanes XXIII mengangkat tema “Rumah Bersama yang Menjadi Kenangan.” Tema ini dipertautkan dengan tema HKNL tahun ini, “Aku Tidak Akan Melupakan Engkau” (Yesaya 49:15). Kakek, nenek, dan para lansia adalah bagian penting dari perjalanan keluarga dan komunitas. Mereka adalah penjaga kenangan, iman, dan nilai-nilai kehidupan yang membentuk identitas keluarga, Gereja, dan masyarakat. Generasi sekarang dapat belajar dari mereka nilai-nilai kehidupan, terutama nilai kepedulian terhadap rumah bersama.

Aksi nyata KBG dibuat sederhana. Umat mengunjungi para lansia dan membawa buah tangan untuk mereka, beserta —uniknya— satu pot tanaman bunga untuk mereka. Tanaman itu menjadi tanda kasih sekaligus pengingat bahwa mereka tidak dilupakan. Setiap kali melihat tanaman itu, para lansia akan ingat bahwa mereka tidak dilupakan. Maka yang lebih penting dari kunjungan itu adalah kehadiran, menyapa, mendengarkan, dan menunjukkan bahwa para lansia tetap mempunyai tempat dalam kehidupan KBG.

Di Juli minggu V, umat kemudian diajak melihat kembali gaya hidup sendiri. Merawat rumah bersama berarti juga berani hidup secukupnya: membeli sesuai kebutuhan, menggunakan barang dengan bijaksana, mengurangi yang sekali pakai, dan tidak membiarkan keinginan terus-menerus menentukan cara hidup.

Agustus: Mencintai Rumah Bersama Bernama Indonesia

Memasuki bulan Agustus, fokus pastoral tetap dipertahankan, tetapi diberi warna ke-Indonesiaan. KBG ingin agar kecintaan terhadap Indonesia tidak berhenti pada perayaan kemerdekaan, bendera, dan semarak 17 Agustus. Jika Indonesia adalah rumah bersama, maka mencintai Indonesia berarti ikut menentukan seperti apa rumah itu dibangun dan diwariskan.

Rangkaian modul pun disusun:

Agustus I – “Rumah Bersama yang Indah: Belajar Mengagumi Ciptaan Allah.”

Umat diajak kembali kepada pengalaman paling dasar: mengagumi keindahan ciptaan. Sebelum seseorang mau merawat sesuatu, ia perlu belajar melihat bahwa sesuatu itu indah dan berharga.

Agustus II – “Rumah Bersama Indonesia: Memilih Indonesia yang Kita Bangun.”

Kemerdekaan kemudian dilihat sebagai kesempatan untuk memilih Indonesia seperti apa yang ingin dibangun. Pilihan itu tidak hanya berada di tangan para pemimpin atau pemerintah. Ia juga hadir dalam keputusan sehari-hari setiap warga: bagaimana menggunakan sumber daya, memperlakukan lingkungan, mengelola sampah, dan hidup bersama.

Agustus III – “Rumah Bersama yang Tidak Sempurna: Memilih untuk Tetap Mengambil Bagian.”

Indonesia, Gereja, masyarakat, keluarga, dan bahkan diri umat sendiri tidak pernah sempurna. Namun ketidaksempurnaan bukan alasan untuk tidak berbuat apa-apa. Justru karena rumah bersama belum sempurna, setiap orang dipanggil untuk mengambil bagian dalam memperbaikinya.

Agustus IV – “Harapan bagi Rumah Bersama: Memulai dari yang Kecil.”

Rangkaian Agustus ditutup dengan penegasan bahwa harapan tidak harus dimulai dari proyek besar. Harapan dapat dimulai dari rumah sendiri, dari keluarga sendiri, dari kebiasaan sendiri. Dari kesadaran itu, KBG kemudian melanjutkan aksi dengan pembuatan ember tumpuk komposter.

September: Melihat Perjalanan

Mengikuti gerak paroki untuk mendalami bahan BKSN pada minggu ke-2 September, KBG mengisi minggu I September dengan mengajak umat melihat rangkaian perjalanan dan menyadari betapa aksi-aksi nyata yang dilakukan telah perlahan-lahan membentuk kebiasaan dan cara hidup. Pertemuan KBG meneguhkan umat yang sudah melaksanakan aksi nyata dan menunjukkan perubahan sekaligus memotivasi umat yang belum untuk mau memulai dengan melakukan langkah pertama.

Laudato Si’: Belajar Melihat dengan Mata Iman

Dalam seluruh perjalanan tersebut, modul-modul KBG juga secara konsisten memasukkan kutipan-kutipan dari ensiklik Laudato Si’. Dengan demikian, umat tidak hanya melakukan kegiatan peduli lingkungan, tetapi perlahan-lahan mulai mengenal pemikiran Gereja tentang merawat rumah bersama.

Laudato Si’ tidak diperkenalkan sebagai bacaan yang harus dipelajari secara teoritis, melainkan sebagai terang untuk membaca kehidupan sehari-hari. Apa yang dilakukan di rumah, apa yang dibuang, apa yang dibeli, berapa banyak air yang digunakan, bagaimana listrik dipakai, apakah makanan dihabiskan, dan bagaimana plastik digunakan—semuanya mulai dilihat sebagai bagian dari tanggung jawab iman. Sedikit demi sedikit, ensiklik itu mulai menemukan tempatnya dalam kehidupan umat.

Dari Sampah hingga Cara Hidup

Sampai pada tahap ini, umat KBG St. Yohanes XXIII telah melakukan berbagai aksi nyata, baik secara pribadi maupun bersama keluarga. Pemilahan dan pengolahan sampah sudah mulai dilakukan dalam skala rumah tangga. Lubang biopori dimanfaatkan untuk sampah organik. Ember tumpuk komposter mulai diperkenalkan. Selain itu, umat juga mulai melakukan berbagai tindakan sederhana: menghemat penggunaan listrik dan air, berusaha menghabiskan makanan dan tidak membuangnya, membeli barang sesuai kebutuhan, membawa thumbler ketika mengikuti pertemuan, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menanam sedikitnya dua pot tanaman untuk dijadikan hiasan altar, membuat ecobrick, membuat eco enzyme, serta berbagai tindakan sederhana lainnya yang dilakukan secara pribadi maupun bersama keluarga.

Jika dilihat satu per satu, semuanya mungkin tampak kecil. Tetapi justru di situlah letak kekuatannya. Perubahan yang diharapkan KBG bukanlah perubahan yang hanya terlihat ketika ada kegiatan bersama. KBG ingin agar perubahan itu masuk ke rumah, masuk ke dapur, masuk ke kebiasaan belanja, masuk ke cara menggunakan listrik dan air, dan masuk ke cara memperlakukan sampah.

Bukan Sekadar Aksi yang Wah

KBG St. Yohanes XXIII tidak ingin fokus pastoral “Merawat Rumah Bersama” berhenti pada kegiatan yang besar, ramai, dan mudah dipublikasikan. KBG tidak ingin sekadar melakukan aksi yang tampak “wah”, tetapi sesungguhnya hanya menjadi gimik. Memungut sampah di jalan atau di pantai, misalnya, memang merupakan tindakan baik. Tetapi jika sampah yang dipungut kemudian hanya dipindahkan dan pada akhirnya kembali menumpuk di tempat pembuangan akhir, sementara kebiasaan menghasilkan sampah tidak berubah, maka persoalan mendasarnya belum tersentuh.

Karena itu, KBG memilih jalan yang mungkin lebih sunyi. Tidak harus banyak difoto. Tidak harus selalu dipublikasikan. Tidak harus terlihat oleh banyak orang. Yang penting adalah kesadaran umat sungguh-sungguh disentuh.

Lebih baik sampah dipilah setiap hari di rumah meskipun tidak ada yang melihat, daripada melakukan aksi besar sekali lalu kembali kepada kebiasaan lama.

Lebih baik membawa thumbler setiap kali pertemuan daripada hanya membuat satu kegiatan bebas plastik untuk kemudian kembali menggunakan plastik seperti biasa.

Lebih baik mengolah sampah organik di halaman rumah daripada sekadar berbicara tentang kepedulian terhadap lingkungan. Lebih baik membeli barang sesuai kebutuhan daripada mengampanyekan kesederhanaan tetapi terus hidup dalam budaya konsumsi. KBG ingin agar aksi nyata lahir dari kesadaran, bukan karena ingin dilihat.

Dari Rumah-Rumah Kecil, Dampak yang Lebih Besar

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan perjalanan ini bukanlah berapa banyak kegiatan yang telah dilakukan.

Ukuran keberhasilannya adalah:

Apakah cara pandang umat mulai berubah? Apakah umat mulai merasa bahwa sampah yang dihasilkan adalah tanggung jawabnya? Apakah umat mulai berpikir sebelum membeli? Apakah umat mulai merasa sayang membuang makanan? Apakah air dan listrik mulai digunakan dengan lebih bijaksana? Apakah plastik sekali pakai mulai dikurangi? Apakah keluarga mulai terlibat? Apakah anak-anak melihat bahwa orang tua mereka sungguh-sungguh mempraktikkan apa yang dibicarakan dalam KBG?

Jika jawabannya mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari, maka perjalanan ini sedang menghasilkan buah sebab merawat rumah bersama tidak terutama tentang melakukan sesuatu yang besar sekali, melainkan tentang melakukan sesuatu yang baik terus-menerus.

Oktober: Doa yang Mengikat Kesadaran

Pada bulan Oktober, meskipun fokus pastoral akan ditutup pada tanggal 4 bertepatan dengan Peringatan St. Fransiskus Asisi, KBG tetap akan melanjutkan perjalanannya. Dalam rangka merayakan pesta pelindung KBG St. Yohanes XXIII yang jatuh pada tanggal 11 Oktober, direncanakan pula novena yang dikaitkan dengan tema Merawat Rumah Bersama. Novena ini diharapkan menjadi kesempatan untuk membawa seluruh perjalanan tersebut kembali kepada sumbernya: iman. Sebab pada akhirnya, merawat ciptaan bukan sekadar gerakan lingkungan. Ia merupakan ungkapan iman bahwa dunia ini adalah ciptaan Allah, bahwa kehidupan saling terhubung, dan bahwa manusia dipanggil untuk menjaga serta merawat apa yang dipercayakan kepadanya.

Sebuah Perjalanan yang Belum Selesai

Leni Julianti, Seksi Lingkungan Hidup KBG melihat bahwa ada semangat dan kemauan umat untuk berubah dan ini adalah sebuah langkah yang baik menurutnya. Beliau berharap ini terus dilakukan dan semakin banyak umat yang melakukannya.

Memang perjalanan KBG St. Yohanes XXIII masih panjang. Masih ada banyak yang harus dipelajari. Masih ada kebiasaan yang belum berubah. Masih ada sampah yang belum terolah. Masih ada anggota keluarga yang perlu diajak. Masih ada kesadaran yang perlu terus dibangun.

Tetapi KBG telah memulai, dari tanaman di pot sederhana, dari sebuah lubang biopori. Kemudian masuk ke pertemuan KBG. Dari pertemuan, masuk ke kesadaran. Dari kesadaran, lahir kebiasaan kecil di rumah-rumah umat. Dan dari kebiasaan-kebiasaan kecil itu, diharapkan lahir sebuah cara hidup baru.

Merawat rumah bersama ternyata tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar. Ia dapat dimulai dari rumah sendiri, dari sampah yang dipilah sendiri, dari makanan yang dihabiskan, dari air yang dihemat, dari barang yang tidak jadi dibeli, dari thumbler yang repot-repot dibawa, dari tanaman yang dirawat, dari keputusan sederhana yang mungkin tidak dilihat siapa pun.

Karena rumah bersama tidak akan berubah hanya karena umat berbicara tentangnya. Rumah bersama berubah ketika orang-orang yang tinggal di dalamnya mulai berubah. KBG St. Yohanes XXIII memilih untuk memulai perubahan itu—dari yang kecil, dari yang nyata, dari rumah sendiri, dan dari kesadaran yang tumbuh dalam hati. (Penulis : Lidwina Lan Cen)

You may also like

Leave a Comment

hacked by rexom

hacked by rexom
phone hack apply job vacancy nonton film streaming teknosehat blog kesehatan, kecantikan, dan teknologi