Ujung Beting, Berkatnews.com – Ratusan umat dari berbagai stasi yang berada di pulau-pulau seputaran Pulau Lingga, Propinsi Kepulauan Riau menghadiri Perayaan Ekaristi penerimaan Sakramen Krisma di Gereja Paroki St. Carolus Boromeus Ujung Beting, Minggu (13/9/2026). Perayaan Ekaristi yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut dipimpin oleh Bapa Uskup Pangkalpinang, Adrianus Sunarko, OFM, dan didampingi oleh RD. Yohan De Ona, RD. Simplisius Lowa, RD. Guntur, serta RD. Martin da Silva.
Sebanyak 84 umat menerima Sakramen Krisma dalam perayaan yang berlangsung khidmat dan penuh semangat. Penerimaan sakramen ini menjadi momentum penting bagi umat untuk semakin dewasa dalam iman dan semakin siap memberikan kesaksian Kristiani dalam kehidupan sehari-hari.

Pelantikan Pastor Paroki yang baru
Dalam homilinya, Bapa Uskup mengajak umat untuk belajar menghadapi konflik dengan jalan pengampunan dan perdamaian.
“Dalam kehidupan sehari-hari, konflik dapat terjadi di mana saja. Di rumah bisa terjadi konflik, di masyarakat bisa terjadi perselisihan, bahkan di sekolah pun orang dapat mengalami pertengkaran atau perbedaan pendapat. Konflik merupakan bagian dari kehidupan manusia,” ungkap Bapa Uskup.
Menurut Bapa Uskup, persoalannya bukan semata-mata bagaimana menghadapi konflik, tetapi bagaimana menyelesaikannya. Manusia sering kali sulit mengampuni, mengingat kesalahan orang lain, menyimpan luka, bahkan membawa dendam dalam waktu yang lama.

Pesan tersebut berangkat dari Injil pada hari Minggu tersebut ketika Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?”
Yesus menjawab, “Bukan! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.”
Bapa Uskup menjelaskan bahwa jawaban Yesus menunjukkan bahwa pengampunan tidak dapat dibatasi dengan hitungan. Orang beriman dipanggil untuk memiliki hati yang selalu siap mengampuni karena dirinya sendiri telah terlebih dahulu menerima pengampunan dan belas kasih Allah.

Penampilan pentas seni dari umat setelah ekaristi
Melalui perumpamaan tentang hamba yang berutang, umat diajak menyadari betapa besar pengampunan yang telah diterima dari Tuhan. Namun, hamba tersebut justru tidak mau mengampuni orang lain yang berutang kepadanya.
“Kita sering lupa bahwa kita pun memiliki banyak kesalahan dan kekurangan. Kita membutuhkan pengampunan Tuhan dan pengampunan dari sesama. Tetapi ketika orang lain melakukan kesalahan kepada kita, kita justru mudah mengingatnya dan sulit melupakannya,” kata uskup.

Karena itu, Bapa Uskup mengajak umat untuk selalu menyadari siapa dirinya di hadapan Tuhan. Tidak seorang pun sempurna. Semua membutuhkan belas kasih dan pengampunan.
Uskup juga mengingatkan bahwa kehidupan manusia tidak berlangsung selamanya. Kesadaran akan akhir hidup hendaknya mendorong setiap orang untuk tidak membawa dendam dan kebencian sampai akhir hayat.
“Kalau kita terus menyimpan dendam, sesungguhnya kita sendiri yang akan terbebani. Luka yang tidak mau kita lepaskan dapat membuat hati kita tidak bebas,” ujar uskup.
Mengampuni, lanjut Bapa Uskup, bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain atau melupakan begitu saja apa yang telah terjadi. Mengampuni berarti memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain menguasai hati dan kehidupan.
“Ketika ada orang yang pernah menyakiti kita, mari belajar melepaskan dendam. Bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang tersebut. Mengampuni juga bukan berarti kita harus melupakan begitu saja apa yang terjadi. Tetapi kita memilih untuk tidak membiarkan kesalahan orang lain menguasai hati dan hidup kita,” tegas uskup.
Secara khusus kepada para penerima Sakramen Krisma, Bapa Uskup berpesan agar mereka tidak hanya semakin kuat dalam iman, tetapi juga semakin mampu mengampuni.
“Jangan mudah menyimpan dendam. Jangan membalas kejahatan dengan kejahatan. Ketika ada persoalan dalam keluarga, dengan teman, di sekolah, maupun dalam masyarakat, berusahalah mencari jalan damai,” pesannya.
Menurutnya, salah satu kesaksian Kristiani yang paling kuat adalah keberanian untuk memilih mengampuni.
“Kita semua dipanggil untuk menjadi saksi Kristus. Dan salah satu kesaksian yang paling kuat adalah ketika kita mampu berkata: ‘Saya memilih mengampuni.’”
Bapa Uskup berharap, melalui Sakramen Krisma, umat semakin dewasa dalam iman, kuat dalam kasih, serta mampu menjadi pembawa damai dan pengampunan di tengah keluarga, sekolah, Gereja, dan masyarakat.
Pelantikan Pastor Kepala Paroki
Sebelum berkat penutup, dilaksanakan pula pelantikan RD. Simlisius Lowa sebagai Pastor Kepala Paroki St. Carolus Boromeus Ujung Beting untuk masa bakti enam tahun. RD. Simlisius Lowa menggantikan RD. Yohan yang telah menjalankan pelayanan sebagai Pastor Kepala Paroki Ujung Beting selama tiga tahun. Sebelumnya, RD. Yohan juga menjalankan pelayanan selama dua tahun sebagai Vikaris di Paroki Ujung Beting.
Pelantikan tersebut menjadi bagian penting dalam Perayaan Ekaristi sekaligus menandai keberlanjutan pelayanan pastoral di Paroki Ujung Beting.
Setelah perayaan ekaristi penerimaan krisma dan pelantikan Pastor Kepala Paroki, dilanjutkan dengan acara ramah tamah dan rekreasi bersama umat di halaman sekolah SD St. Carolus Boromeus Ujung Beting. Pada kesempatan ini juga dilaksanakan sosialisasi kesehatan untuk para lansia, kaum muuda, dan anak-anak oleh Para Suster FSE.
Dengan diterimanya Sakramen Krisma oleh 84 umat dan dilantiknya pastor kepala paroki yang baru, umat Ujung Beting diajak untuk terus bertumbuh sebagai komunitas Gereja yang dewasa dalam iman, hidup dalam kasih, serta menjadi pembawa damai dan pengampunan di tengah masyarakat (da silva, pr).