Ia dulu Menolak Aborsi, Sekarang Anaknya Menjadi Uskup dan Membawanya Bertemu Paus

Sebuah cerita yang inspiratif,  seorang uskup membawa ibunya bertemu Bapa Suci Paus Fransiskus; ibu yang dulu menolak tawaran dokter untuk mengaborsinya ketika masih dalam kandungan.

Sebagaimana dilansir Catholic News Agency (2/7/2016), Sarah Figueiredo mengandung anak ke empatnya, Anthony Figueiredo. Sesuai saran dokter, selama kehamilan sang ibu mengonsumsi sebuah obat; thalidomide sleeping pill. Obat ini dikembangkan setelah Perang Dunia Kedua dan disinyalir tidak hanya untuk membantu orang yang sulit tidur, tetapi juga untuk meringankan mual-mual (morning sickness) untuk ibu hamil, thalidomide secara luas diresepkan oleh dokter di seluruh dunia untuk pasien hamil sebagai obat yang aman untuk digunakan.

Tidak sampai tahun 1961, ada temuan baru bahwa thalidomide yang dikonsumsi ibu hamil dapat menyebabkan cacat lahir yang parah pada bayinya. Banyak anak-anak lahir dengan kondisi yang disebut “phocomelia“; anggota badan tidak sempurna, lebih pendek dari kondisi normal atau bahkan tidak ada.

Ketika para dokter menemukan bahwa anak Sarah yang belum lahir itu, juga akan menjadi satu diantara anak-anak dengan cacat ini, mereka menyarankan Sarah untuk melakukan aborsi. Namun, Sarah dan suaminya, adalah keluarga Katolik yang taat, mereka menolak. Sarah percaya anaknya memiliki “misi khusus”.

Akhirnya, Anthony lahir, walau dengan salah satu lengan yang lumpuh, ia tumbuh menjadi anak yang cerdas. Sarah membesarkannya dengan penuh cinta. Sarah menyimpan semua kejadian yang dialaminya ini dan baru menceritakan kepada Anthony ketika hari pentahbisannya sebagai imam. “Saya tidak tahu, saya baru tahu di hari pentahbisan, jika Allah telah memungkinkan seorang ibu untuk hamil, anak yang dianugerahkan itu tidak akan sia-sia. Sebaliknya, Allah akan memberikan misi untuk anak itu, yang mereka percaya sangat kuat adalah bahwa saya akan menjadi imam“, kenang Mgr. Anthony.

Mgr. Anthony Figueiredo ditahbiskan pada tahun 1994 dan memiliki pengalaman yang banyak dalam tugas misionaris dan memiliki latar belakang akademis yang kuat dalam teologi. Dia saat ini menjabat sebagai direktur spiritual untuk ratusan seminaris yang sedang studi di Rome’s Pontifical North American College. Selain itu Mgr. Anthony juga banyak membantu para kardinal dalam berbagai tulisan dan naskah pidato, yang tentu saja ia juga dekat dengan Paus.

Dia juga pernah bertemu Ibu Theresa, ia mampu bertugas sebagai asisten pribadi untuk Paus Yohanes Paulus II dan Paus Benediktus XVI selama beberapa tahun.

Imam itu sangat berterimakasih kepada orang tuanya, atas iman mereka dan dorongan mereka untuk panggilannya. “Dengan usaha keras orang tua menyekolahkan semua anaknya ke sekolah Katolik, dan walau sekarang ibu saya sudah tua, ia adalah ibu yang paling berbahagia di dunia karena salah satu anaknya adalah seorang imam“, Mgr. Anthony bercerita.

Dari semua berkat yang telah diterima Sarah dengan mempunyai anak seorang uskup, salah satu yang terbesar adalah ketika ia datang ke Roma untuk mengunjungi anaknya saat Yubilium Imam. Mgr. Anthony Figueiredo mengatakan, suatu hari ketika ia sedang di Taman Vatikan di bulan April, ia mendapat Telpon dari Paus sendiri.

Bapa Suci mengatakan bahwa ia tahu ibunya mau datang ke Roma saat Yubilium Imam, dan ingin bertemu dengan ibunya. Mengingat jadwal yang sangat padat pada perayaan Yubilium Imam, Paus Fransiskus meminta Mgr. Anthony; “Saya benar-benar ingin dia datang ke rumah saya sebelum Misa“.

Rupanya, Paus Fransiskus-lah sendiri yang mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut Mgr. Anthony dan ibunya, di kediamannya di Vatikan St. Martha Guesthouse pagi 3 Juni.

Pagi itu sangat indah sekali. Bapa Suci seperti seorang pastor paroki biasa dalam menyambut ibu saya. Bapa Suci bertanya seputar berapa jumlah anak-anak dalam keluarga, dan dari mana mereka diberi nama, dasar Alkitabnya“.

Paus Fransiskus juga memberikan Sakramen Pengurapan Orang Sakit untuk Sarah, yang telah menderita dua kali stroke dalam beberapa tahun terakhir dan pada 2010 dia didiagnosis dengan kanker payudara stadium 4 yang agresif, tapi hari ini adalah bebas kanker.

Sarah lah yang membawa piala ke Altar dalam Misa yang dipimpin Bapa Suci itu. “Dia menekan tanganku, dan ia mengenaliku, dia memelukku erat-erat,” katanya.

Dia juga mengucapkan terima kasih anaknya untuk membantu memberinya kesempatan untuk bertemu Paus dan menerima berkat-Nya. Sarah juga memberikan saran kepada orang tua yang berharap untuk panggilan religius di kalangan anak-anak mereka, dia menasihati bahwa “semakin Anda berdoa maka akan semakin baik.” Sarah mengatakan diumurnya yang sudah 84 tahun ia masih setia berdoa Rosario setiap hari, Rosarionya ada di bantalnya, ketika ia terjaga, ia bisa mendaraskan 10 Salam Maria sampai kembali tertidur.

Mgr. Figueiredo mengatakan bahwa merayakan Yubilium Imam bersama ibunya “adalah tanda yang sangat besar bagi saya bahwa Allah setia,” terutama ketika seseorang memberikan sesuatu dari hidup mereka kepadanya, apakah itu orang tua, anak, jenis penderitaan, atau suatu panggilan.

Sumber: http://www.catholicnewsagency.com/

diterjemahkan BerkatNews.com

(costmust)


foto-foto lainnya Mgr. Anthony (https://s3.amazonaws.com)

anthony1

anthony2

One thought on “Ia dulu Menolak Aborsi, Sekarang Anaknya Menjadi Uskup dan Membawanya Bertemu Paus

  • July 5, 2016 at 6:44 am
    Permalink

    terpujilah engkau Ibu Sarah Figueiredo, karena ketetapan hatimu menolak saran dokter untuk menggugurkan kandunganmu, yang dilatarbelakangi oleh Imanmu yang kokoh, ternyata buah kasihmu yang engkau lahirkan itu menjadi seorang putra yang enerjik sekarang telah menjadi Uskup, berbahagia orang yang berketetapan hati yang teguh karena Imannya.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.