Home Asian Church Mengajar Agama Katolik Bukan Sekedar Pengetahuan, Tetapi Memberikan Iman dan Pengharapan

PANGKALPINANG, Berkatnews.com – Seksi Pendidikan Katolik Paroki Katedral St. Yosef Pangkalpinang menggelar rekoleksi khusus bagi para guru agama Katolik dengan tema “Jati Diri Guru Agama Katolik di Tengah Gereja, Negara, dan Masyarakat.” Kegiatan yang berlangsung pada Minggu, 31 Agustus 2025 di Ballroom Terrace Hotel ini diikuti para guru agama Katolik dari khususnya sekolah yang masuk wilayah Paroki Katedral.

Rekoleksi ini digelar dalam rangka pendalaman spiritualitas, kapasitas, dan karakter guru agama, sekaligus sebagai bagian dari semangat Tahun Yubelium.

Melalui pertemuan ini, para guru diharapkan tidak hanya diperlengkapi secara intelektual, tetapi juga merasakan sapaan Gereja dan semakin diteguhkan dalam panggilannya sebagai pewarta Kristus di tengah masyarakat.

Pastor Paroki Katedral St. Yosef Pangkalpinang, RD. L. Yustinianus Ta’laleng, membuka kegiatan dengan menegaskan pentingnya peran guru agama dalam membimbing generasi muda, bukan hanya sebatas mengajar di ruang kelas.

Pastor Paroki Katedral St. Yosef Pangkalpinang, RD. L. Yustinianus Ta’laleng, membuka kegiatan rekoleksi

“Anak-anak yang kita dampingi tidak hanya hadir untuk mendapatkan nilai dari pelajaran yang diberikan, tetapi juga harus ikut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan di komunitas, paroki, maupun wilayah. Kehadiran guru agama diharapkan mampu membawa mereka aktif dalam kehidupan iman, bukan sekadar hadir di bangku sekolah,” tegasnya.

Sesi rekoleksi menghadirkan dua narasumber utama, yakni Vikjen Keuskupan Pangkalpinang, RD. Antonius Moa Tolipung, dan Sekretaris Uskup Pangkalpinang, RD. Martin Da Silva.

Dalam pemaparannya, RD. Antonius Moa menekankan bahwa jati diri seorang guru agama Katolik terletak pada kemampuannya mewartakan iman, bukan sekadar pengetahuan.

” Ilmu Pendidikan Katolik adalaha memberikan iman, bukan pengetahuan ” Vikjen Keuskupan Pangkalpinang, RD. Antonius Moa Tolipung

“Ilmu pendidikan agama Katolik yang diberikan itu adalah iman. Bukan sekadar pengetahuan. Kalau hanya pengetahuan, maka akan mengalami kebuntuan. Apa yang dibagikan kepada anak-anak harus menjadi penghayatan iman, dan melalui itu justru guru juga berkembang dalam imannya,” ungkapnya.

Sementara itu, dalam pemaparan materi RD. Martin Da Silva menekankan bahwa seorang guru agama harus memiliki integritas pribadi yang selaras dengan ajaran iman yang ia wartakan.

RD. Martin Da Silva , Sekretaris Uskup Keuskupan Pangkalpinang

“Kunci utama seorang guru agama adalah hidup sesuai iman yang diajarkan, memiliki kedewasaan emosional dan spiritual, serta sikap sabar, rendah hati, namun tetap tegas. Itulah kekuatan seorang guru dalam mendampingi anak-anak,” ungkapnya.

Romo Martin juga menambahkan satu pesan penting kepada para guru menjadi tanda pengharapan bagi para siswa yang sedang mengalami kesulitan di sekolah.

“Guru agama adalah pintu pengharapan. Kehadiran mereka di sekolah harus mampu menjadi sumber kekuatan bagi anak-anak yang lemah dan membutuhkan pendampingan,” tutupnya.

Sesi dialog bagi para guru untuk berbagi pengalaman mengajar

Dalam sesi pemaparan, Romo Martin juga membuka ruang dialog bagi para guru untuk berbagi pengalaman, kisah inspiratif, maupun tantangan yang mereka hadapi selama menjadi Guru Agama Katolik di sekolah.

Sebagai penutup, seluruh peserta bersama narasumber mendaraskan Doa Tahun Yubelium, menjadi simbol persatuan dan tekad untuk terus menghidupi panggilan sebagai pendidik iman yang berintegritas di tengah Gereja, bangsa, dan masyarakat. (VSH)

 

Reporter / Penulis : Veronika Suci

Related Articles

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.