Pangkalpinang, Berkatnews.com — Rekoleksi bulanan untuk Komunitas para Suster KKS kembali dilaksanakan pada Februari ini. Bertempat di Ruang pertemuan Biara Pusat KKS, Minggu (22/2/2026), rekoleksi ini dibawakan oleh Romo Martin da Silva dan diikuti oleh para suster dari berbagai komunitas, baik yang hadir langsung maupun yang bergabung secara daring.
Rekoleksi ini mempertemukan sejumlah komunitas KKS yang berada di Bangka, yakni Komunitas Santa Theresia, Postulat, Novisiat, dan Nasaret Belinyu. Sementara itu, empat komunitas dari luar Bangka mengikuti rekoleksi secara daring, yaitu Komunitas Santa Lusia Batam, Santa Maria Tanjung Balai, Seraphine Tanjung Uban, dan Keluarga Suci Yogyakarta.

Rekoleksi Komunitas Suster KKS diadakan secara langsung dan daring
Dalam rekoleksi ini, para suster diajak masuk dalam permenungan tentang kebersamaan dan tanggung jawab dalam menghidupi panggilan. Penekanan diberikan pada upaya menumbuhkan ekologi bersama sebagai wujud mencintai kehidupan. Rekoleksi ini juga menjadi ruang untuk membarui kesadaran akan tanggung jawab bersama, meneguhkan panggilan misioner, serta menghidupi pertobatan ekologis dalam kehidupan sehari-hari.
Tema yang diangkat selaras dengan arah pastoral Keuskupan Pangkalpinang, yakni Bertanggung Jawab Bersama Melaksanakan Misi Memelihara Rumah Bersama.

Romo Martin mengulas tema tahun pastoral Keuskupan
Dalam pemaparan, Romo Martin menekankan sikap dasar yang perlu terus dihidupi dalam perjalanan bersama. Ia mengingatkan bahwa jalan bersama bukan sekadar wacana, melainkan sikap hidup yang nyata.
“Sikap pertama yang dituntut dari kita adalah berani mendengar, berani berbagi, dan berani menerima perbedaan. Inilah yang menjadi pegangan untuk kita. Jalan bersama itu mengandaikan kita bukan hanya berkata-kata saja, tetapi yang paling penting itu berani mendengar, lalu kita berani berbagi, dan kita berani menerima perbedaan,” ujar Romo Martin.
Selain permenungan itu, dalam rekoleksi ini juga mengulas tiga bagian penting, yakni tanggung jawab bersama dalam melihat identitas dan peran perempuan dalam Gereja, pelaksanaan misi dengan sikap terbuka dan tidak menutup diri sebagai komunitas, serta upaya memelihara rumah bersama melalui pertobatan ekologis.
Romo Martin juga menegaskan pentingnya komitmen bersama dalam kehidupan komunitas KKS. Para komunitas suster ini diajak untuk membangun relasi yang partisipatif, keluar melayani dengan sikap misioner, serta menghidupi spiritualitas ekologi dalam keseharian.
“Bukan hanya memuji Tuhan di kapel, tetapi juga memuliakan-Nya dengan merawat ciptaan-Nya,” ungkap Sekjend Keuskupan Pangkalpinang.
Usai rangkaian materi dan permenungan, salah satu peserta rekoleksi, Suster Getruda dari Komunitas Suster KKS Santa Theresia, membagikan tanggapannya saat ditemui wawancara oleh tim Berkatnews.com. Ia melihat rekoleksi ini sebagai ajakan untuk terus keluar dari kenyamanan dan terlibat lebih luas dalam misi Gereja.

Suster Getruda dari Komunitas KKS Santa Theresia
“Nah di sini diharapkan juga untuk bagaimana peran serta para suster. Tidak di dalam, tetapi keluar bermisi. Supaya apa yang kita lakukan, bagaimana kita menjadi diharapkan oleh keuskupan untuk terlibat di dalam program-program, terutama di dalam menjalankan misi, untuk ikut serta dengan mereka yang terpinggir,” tuturnya.
Ia juga menambahkan bahwa rekoleksi ini mengajak para suster untuk memulai dari pertobatan diri, lalu bersama-sama membangun cara pandang baru terhadap kehidupan. Menurutnya, komunitas dipanggil menjadi gerakan bersama yang berperan dalam menumbuhkan ekologi kehidupan itu sendiri.
“Semoga dengan pengalaman ini semakin mendobrak para suster untuk bermisi keluar,” pungkasnya. (Vsh)

