Home Refleksi Sudah Terima Sakramen, Mengapa Menjauh Dari KBG?

Sudah Terima Sakramen, Mengapa Menjauh Dari KBG?

Penulis : Lidwina Lan Cen.

by Veronika Suci Handayani

Pangkalpinang, Berkatnews.com – Ada keprihatinan yang kerap muncul dalam pendampingan pastoral: umat yang rajin mengikuti masa persiapan penerimaan sakramen, khususnya Baptis (juga Komuni Pertama, Krisma, bahkan Perkawinan), tetapi setelah sakramen diterima, perlahan mereka menghilang dari kehidupan menggereja, terutama dari kegiatan Komunitas Basis Gerejani (KBG). Bahkan ada yang sejak masa persiapan sudah tidak aktif, tetapi ketika diingatkan justru merasa dipersulit dan menilai Gereja terlalu menuntut.

Keprihatinan ini mengajak kita untuk kembali bertanya secara mendasar: apa arti sakramen, apa makna menjadi Gereja, dan bagaimana KBG seharusnya dihidupi?

 

Sakramen: Awal Hidup Baru, Bukan Garis Akhir

Dalam iman Katolik, sakramen bukan sekadar upacara atau pemenuhan syarat administratif. Sakramen adalah rahmat Allah yang mengawali sebuah kehidupan baru. Melalui Baptis, seseorang dipersatukan dengan Kristus dan dimasukkan ke dalam Tubuh-Nya, yakni Gereja. Karena itu, sakramen bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu masuk ke dalam peziarahan iman yang terus bertumbuh.

Konsili Vatikan II menegaskan bahwa Gereja adalah umat Allah yang sedang berziarah (Lumen Gentium art. 9). Semua orang yang dibaptis memiliki martabat yang sama dan dipanggil untuk ambil bagian aktif dalam hidup dan perutusan Gereja sesuai karunia masing-masing (Lumen Gentium art. 10–12).

 

Gereja yang Berkomunio, Iman yang Dihidupi Bersama

Iman Kristiani tidak pernah bersifat individualistis. Sejak Gereja perdana, hidup beriman selalu dijalani dalam persekutuan (komunio): mendengarkan sabda, memecahkan roti, dan berbagi hidup (lih. Kis. 2:42). Menjauh dari komunitas berarti mereduksi iman menjadi urusan pribadi semata.

Di sinilah KBG memiliki peran penting. KBG adalah wajah Gereja yang paling dekat dengan kehidupan umat sehari-hari: tempat umat saling mengenal, saling meneguhkan, dan bersama-sama menghidupi iman di tengah realitas hidup.

 

Partisipasi: Buah Iman, Bukan Beban

Sering kali partisipasi dalam KBG dipersepsi sebagai kewajiban yang memberatkan. Padahal, partisipasi adalah buah alami dari iman yang hidup. Paus Fransiskus menegaskan bahwa seluruh umat beriman dipanggil menjadi subjek evangelisasi, bukan sekadar penerima pelayanan (Evangelii Gaudium art. 120). Gereja bukan milik segelintir orang yang aktif, melainkan persekutuan semua orang yang dibaptis.

Dalam semangat yang sama, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa komunitas basis dan paroki dipanggil menjadi komunitas yang hidup, partisipatif, dan misioner, bukan struktur yang tertutup dan kaku (Evangelii Gaudium art. 28). Maka, keterlibatan dalam KBG bukanlah bentuk upaya “mempersulit”, melainkan sarana agar rahmat sakramen sungguh dihidupi dan berbuah.

 

Keprihatinan yang Mengajak Kita Berbenah

Keprihatinan atas umat yang menjauh setelah menerima sakramen tidak dimaksudkan untuk menghakimi, melainkan untuk mengajak semua pihak (umat dan pelayan Gereja) bercermin. Gereja dipanggil untuk terus memperbarui cara pendampingan agar umat sungguh memahami bahwa menerima sakramen berarti menerima panggilan untuk tinggal, berjalan bersama, dan terlibat dalam kehidupan Gereja.

Sakramen seharusnya tidak menjadi akhir keterlibatan, melainkan awal komitmen. Melalui KBG, Gereja berharap rahmat sakramen tidak berhenti di altar, tetapi menjelma dalam iman yang hidup, harapan yang bertumbuh, dan kasih yang nyata di tengah kehidupan sehari-hari.

Mari kita kembali memandang sakramen bukan sebagai akhir sebuah proses, melainkan sebagai awal komitmen untuk tinggal, berjalan bersama, dan bertumbuh dalam Gereja yang hidup dan berkomunio.

 

Related Articles

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

phone hack apply job vacancy nonton film streaming teknosehat blog kesehatan, kecantikan, dan teknologi