Mentok, BerkatNews.com – Sebanyak 31 Misdinar Paroki Mentok mengikuti tes pengetahuan bertempat di dalam gereja pada Jumat (7/2). Tes ini diadakan sebagai upaya untuk mengingatkan kembali materi yang telah diajarkan, seperti pengetahuan seputar misdinar, warna liturgi, peralatan liturgi, dan Tata Perayaan Ekaristi.
Sebanyak 50 soal terdiri dari 35 pilihan ganda dan 15 isian harus diisi oleh seluruh peserta yang hadir. Soal-soal ini merupakan hasil kolaborasi dua pembina, yakni Frater Amandus Lionsius Lowa dan Bapak Tarsisius Ramto Idong.

Suasana Ujian Pengetahuan Misdinar
Selama ujian berlangsung, suasana tampak beragam. Beberapa peserta terlihat cemas dan khawatir terhadap soal yang diberikan, sementara yang lain tersenyum dan merasa lebih percaya diri. Salah seorang peserta, Freanata Veren Lim, memberikan tanggapannya. “Awalnya saya merasa soal yang diberikan tidak begitu sulit, namun selama proses ujian saya mulai ragu sehingga semakin lama saya merasa ada sedikit kesulitan,” ungkapnya.
Di akhir sesi, setelah semua peserta mengumpulkan lembar jawaban, Frater Amandus dan Bapak Tarsisius mengajak mereka untuk membahas soal bersama-sama. Setelah semua soal selesai dibahas, Frater Amandus menyampaikan bahwa sebelum tugasnya di Paroki Mentok selesai, ia berencana mengadakan satu kali ujian lagi.
Dengan adanya tes ini, diharapkan para misdinar semakin memahami tugas dan peran mereka dalam pelayanan liturgi. Para pembina juga berharap agar para misdinar dapat terus belajar dan berkembang dalam menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab serta kesungguhan hati.
Penulis : Komsos Paroki Mentok

Wajar bila Pastor Rusdi juga merasa kehilangan Erwin. Meskipun baru beberapa bulan menjadi pastor pendamping misdinar, Pastor Rusdi yang dikenal dengat dengan anak-anak dan remaja itu sering datang berkunjung ke rumah keluarga Erwin. Mengajak ngobrol dan bercanda, memberikan Komuni Kudus, juga memberikan Sakramen Perminyakan.
Kepergiannya membuatnya tidak jadi bertugas misdinar di Hari Raya Jumat Agung. Di masa sakitnya, ia selalu mendambakan bertugas melayani imam dalam Misa Jumat Agung dan berkesempatan membawa salib paling besar. Teman-temannya menyemangati agar cepat sembuh sehingga kuat mengangkat salib besar yang selubung ungunya dibuka oleh imam sambil menyanyikan: Lihatlah kayu salib…di sini…bergantung Kristus….penyelamat dunia.
Bersama teman misdinar sebayanya, ia dijuluki Sengklek Bersatu. Sebuah julukan yang mencerminkan kedekatan, keakraban, dan soliditas antaranggota misdinar. Bersama kesembilan kawannya ia selalu bertanggung jawab dalam setiap tugas yang diemban. Ia tidak pernah pulang jika tugasnya belum selesai. Setelah benar-benar tuntas, tempat acara juga kembali bersih, barulah ia lega pulang ke rumah. Ke mana-mana, mereka selalu bersama. Dengan beberapa motor mereka berboncengan, saling menjemput dan mengantar, pergi latihan dan pertemuan, tugas misdinar, juga sekadar menghabiskan hari Minggu dengan makan di warung atau bermain di warnet.
Perayaan Ekaristi bisa berjalan dengan lancar jika semua petugas liturgi menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik, termasuk petugas Misdinar/ Putra Putri Altar. Peran mereka melayani Pastor dalam mempersiapkan peralatan Misa, sangat diperlukan.
Jumlah misdinar yang terdaftar hingga saat ini berjumlah sekitar 120 anak, dan 50%nya adalah misdinar baru, yang baru bergabung pada bulan Juni lalu. Komunitas ini dikoordinasi oleh kak Vivi (Savitri), kak Putri dan ibu Theresia Dana. Ketiganya dibantu oleh 15 kakak pendamping. Mereka melaksanakan 3 bintang (berpusat pada Kristus, berkomunio dan bermisi) bersama-sama dalam keceriaan.