Belinyu, BerkatNews.com – Di tengah suasana sukacita Imlek yang masih terasa hangat, Pastor Wendilinus Pantaleon mengingatkan umat bahwa Rabu Abu adalah undangan lembut dari Tuhan untuk kembali kepada-Nya. Pesan itu disampaikannya dalam homili pada Perayaan Rabu Abu di Gereja Paroki Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Belinyu, Rabu, 18 Januari 2026
Perayaan Ekaristi yang menandai awal Masa Prapaskah tersebut berlangsung khidmat dan dipadati umat hingga keluar Gedung gereja. Dalam homilinya, Pastor Wendilinus mengajak umat merefleksikan perbedaan suasana antara hari-hari penuh kunjungan dan kegembiraan saat Imlek dengan panggilan hening dan pertobatan di Hari Rabu Abu.
“Beberapa hari terakhir kita bersukacita, saling mengunjungi, menikmati kebersamaan. Itu indah dan patut disyukuri. Namun hari ini Tuhan mengajak kita berhenti sejenak, melihat kembali perjalanan hidup kita,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa Masa Prapaskah adalah masa rahmat untuk membangun kembali relasi dengan Tuhan dan sesama. Pertobatan, katanya, bukan pertama-tama soal pantang dan puasa secara lahiriah, melainkan perubahan hati. Tidak ada gunanya menahan lapar jika hati tetap keras dan enggan mengampuni.
Menurutnya, tanpa melibatkan Tuhan, perdamaian sering hanya terjadi di permukaan. Tetapi ketika kasih Tuhan sungguh dihayati, kebencian dapat luruh dan relasi yang retak bisa dipulihkan. Karena itu, umat diajak menyediakan waktu doa secara pribadi, bahkan mendoakan orang yang pernah melukai atau yang pernah disakiti.

Pastor juga mengingatkan agar setiap orang memiliki satu niat baik selama empat puluh hari ke depan, entah memperbaiki hubungan, setia dalam doa, atau membangun kebiasaan rohani dalam keluarga. “Tuhan tidak pernah memaksa kita kembali. Ia hanya menunggu dengan kasih yang setia,” tegasnya.
Setelah Homili, Pastor Wens menerimakan abu kepada umat sebagai tanda pertobatan dan kerendahan hati. Dengan dimulainya Masa Prapaskah ini, umat diharapkan menapaki perjalanan pembaruan hati, sehingga saat Paskah tiba, mereka sungguh mengalami sukacita sebagai pribadi yang diperbarui dalam kasih Tuhan.

