Home Asian ChurchAsian News Saat Gereja Mendengar Suara Orang Muda, Begini Kisah Refleksi OMK Paroki Katedral Santo Yosef Setelah Pulang Dari SAGKI 2025

Saat Gereja Mendengar Suara Orang Muda, Begini Kisah Refleksi OMK Paroki Katedral Santo Yosef Setelah Pulang Dari SAGKI 2025

by Veronika Suci Handayani

Jakarta – Berkatnews.com –  Mengikuti SAGKI 2025 ini menjadi pengalaman yang membuka mata dan hati saya sebagai seorang OMK.  Melalui tema SAGKI “BERJALAN BERSAMA SEBAGAI PEZIARAH PENGHARAPAN – Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian”.  Saya merasa benar-benar disadarkan bahwa Gereja tidak hanya berbicara tentang orang muda, tetapi juga mendengarkan, memberi ruang dan bergerak bersama kita. Para peserta SAGKI 2025 yang datang dari Sabang sampai Marauke, dari Miangas sampai Rote.  Kaum klerus dan Awam, tua dan muda mempunyai satu tekad untuk berjalan bersama menjadi misionaris perdamaian bagi sekalian bangsa.

Salah satu hal yang paling saya rasakan adalah bahwa OMK bukan hanya sekadar “pelengkap” dalam Gereja, tetapi satu subyek pastoral penentu perjalanan Gereja. Melalui pembahasan tentang formasi, forum, kolaborasi, hingga isu-isu kenakalan remaja dan keterlibatan sosial, saya jadi sadar bahwa Gereja menginginkan kami bertumbuh, berdaya dan bersuara. Gereja memahami bahwa kita adalah pembaharu melalui sikap kita yang enerjik, kreatif, inovatif, spontan dan multitasking. Kita berperan sebagai agen perubahan yang memperbaharui budaya gereja, menghubungkan tradisi dengan zaman modern, membawa energi inovatif melalui kegiatan pastoral dan pemanfaatan teknologi.

Saya menyadari bahwa SAGKI telah melukiskan orang muda katolik bukan hanya sebagai penerus masa depan Gereja. Tetapi orang muda Katolik adalah “Gereja saat ini” yang penting untuk pertumbuhan dan revitalisasi.  Orang muda bukan hanya kelompok usia, melainkan komunitas dengan potensi untuk bertumbuh dan berkembang, serta memiliki jiwa pembaharu untuk Gereja masa depan. Saya teringat akan pesan Santo Paulus kepada Timotius, anak rohaninya, “Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau Muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu”  (1Tim 4:12).

Saya merenungkan tentang keberadaan saya dan teman-teman semua. Kita adalah generasi alpah (post Gen Z) yang paling terampil  secara digital. Sering orang menyebut kita sebagai generasi digital native. Ini adalah sebuah kebanggaan, karena melalui kemajuan dunia digitalisasi ini kita dapat melakukan sesuatu yang positif. Santo Carlo Acutis menggunakan digital sebagai media pewartaan iman katolik dan kita pun bisa melakukan itu. Saya juga  menyadari bahwa banyak tantangan dialami orang muda di era digital ini.  Banyak teman sebaya terjebak dalam judi online, pinjol, toxic digital culture, hingga pergaulan bebas. Melihat perhatian Gereja terhadap hal-hal itu membuat saya merasa didampingi, bukan dihakimi. Gereja ingin kami bertumbuh lewat formasi iman, literasi digital, kesehatan mental, katekese digital, dan kaderisasi yang jelas. Bagi saya, ini tanda bahwa Gereja sedang berjalan sesuai “pintu kami,” masuk ke realitas kami yang nyata. Gereja tidak ingin orang mudanya hilang tertelan oleh arus modernitas. Gereja ingin orang muda bangkit dan menjadi saksi-saksi Kristus. Orang muda yang mempunyai harapan yang tidak mengecewakan, sebab Kristus sendiri memberikan jaminan kepada kita, “Aku berkata kepada-mu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama Aku di dalam Firdaus” (Luk 23:43).

Melalui diskusi di SAGKI,  dan tema HOMS, “Kamu juga adalah saksi-saksi-Ku karena kamu telah bersama-sama dengan Aku” (Yoh 15-26-27), saya belajar bahwa OMK harus berani terlibat lebih luas: dalam isu sosial, politik, ekonomi, lingkungan dan kemanusiaan.  Selama ini saya sering merasa bahwa keterlibatan seperti itu “bukan ranah saya,” tetapi SAGKI dan HOMS membuat saya terpanggil untuk terlibat aktif dalam isu-isu itu.  Saya telah menyiapkan diri menjadi garam dan terang dunia untuk berpartisipasi  dalam masalah konkret yang dihadapi masyarakat umum dan lingkup Gereja (KBG, Wilayah dan Paroki). Menjadi saksi Kristus tidak mungkin saya mengandalkan kekuatan sendiri tetapi membutukan orang lain. Saya terkesan akan ajakan SAGKI  untuk bersinergi dan berkolaborasi, bukan hanya antar-OMK, tetapi juga dengan berbagai komisi gereja, para orang tua, bahkan masyarakat. Saya menyadari bahwa suara OMK akan lebih terdengar kalau kami berjalan bersama, bukan sendiri-sendiri.

Akhirnya, sebagai OMK dari Paroki Katedral St. Yosef dan Keuskupan Pangkalpinang, saya pulang dari SAGKI dengan harapan dan komitmen baru. Saya ingin berproses dalam formasi yang berkelanjutan, terlibat dalam Gereja, membuka diri terhadap dialog, dan menjadi bagian dari perubahan. Saya percaya, seperti yang dikatakan dalam Christus Vivit 34, “bahwa menjadi muda, lebih dari sekadar usia, adalah keadaan hati. Maka dari itu, sebuah institusi setua Gereja dapat memperbarui dirinya dan kembali menjadi muda dalam fase berbeda-beda dari sejarahnya yang sangat panjang”. Dikatakan juga dalam Christus Vivit 38 bahwa “Kita perlu menciptakan lebih banyak ruang untuk menggemakan suara orang muda: Mendengarkan memungkinkan pertukaran karunia dalam konteks empati”.  Dengan pertologan Tuhan, saya bertekad menjadi “Eccelesia Reformada Est”-nya Gereja untuk pertumbuhan dan perkembangan sukacita Injil.

SAGKI 2025 bukan hanya acara, tetapi perjalanan rohani yang mengingatkan saya bahwa Gereja membutuhkan suara kami, dan kami pun membutuhkan Gereja untuk menuntun kami tumbuh seturut kehendak Kristus. “Tinggalah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tingal di dalam Aku” (Yoh 15:4-5). Tuhan memberkati kita semua. (vsh)

 

Penulis : Revalina Michaela Krisna

Related Articles

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.