
Oleh L V Evy Puspitosari (Fasilitator AsIPA St. Damian)
Berkatnews.com-Bengkong, Batam. Pada Pelatihan Pendamping Anak dan Remaja yang dilaksanakan di aula Paroki St. Damian pada hari Sabtu 27 Januari 2018 – Minggu 28 Januari 2018, dengan tema, “Berjalan Bersama KIDS ZAMAN NOW”, panitia sangat menyadari tentang pentingnya bersahabat dengan alam. Hal ini ditunjukkan dengan tidak lagi menggunakan air mineral kemasan selama kegiatan ini berlangsung. Para peserta diimbau untuk membawa botol minum pribadi. Memang tidak mudah, masih ada peserta yang bertanya, atau keberatan untuk melakukannya, tapi dengan sedikit penjelasan, akhirnya para peserta bisa memahami maksud panitia.
Penggunaan kertas juga sangat dikurangi. Materi yang biasanya dibagikan pada peserta dalam bentuk hard copy, bisa diperoleh peserta dalam bentuk soft copy. Para peserta diimbau untuk membawa laptop (bagi yang memiliki laptop) atau flash disk agar bisa menyimpan data. Penggunaan laptop ini juga sangat membantu peserta dalam menyusun modul dan mempresentasikannya di depan peserta yang lain.
“Pendidikan Ekologi bagi anak dan remaja, harus dimulai dari para pendampingnya terlebih dahulu.”, kata Ibu Dana, pangillan dari Ibu Theresia Dana Hutami, ketua panitia Pembekalan tersebut. Pemateri yaitu Dirdios KKI dari Keuskupan Agung Palembang, RP Ignatius Elis Handoko, SCJ, juga berkali-kali menyampaikan tentang pentingnya bersahabat dengan alam.
Setelah pelatihan kali ini, para pendamping diharapkan bisa menularkan nilai-nilai ekologi ini pada anak dan remaja yang didampinginya. Salam Misioner.





Sebelum menjelaskan tentang merangkai bunga altar, Pastor Philips lebih dulu menjelaskan tentang liturgi. Liturgi adalah perayaan misteri keselamatan Allah. Liturgi dilaksanakan oleh Yesus Kristus, Sang Imam Agung bersama Gereja-Nya di dalam ikatan Roh Kudus. Karenanya, liturgi disebut juga perayaan Tuhan atau perayaan iman. Disebut perayaan Tuhan karena Tuhan yang berinisiatif menjumpai manusia, Allah yang mencari dan mengundang manusia. Dan disebut perayaan iman karena dalam liturgi manusia menanggapi undangan Tuhan untuk terlibat dalam perjamuan-Nya. Dengan demikian, dalam liturgi terjadilah perjumpaan antara Allah dan manusia. Perjumpaan ini membawa anugerah keselamatan bagi manusia, baik yang merayakan dan yang didoakan.
Dilihat dari kegiatannya, liturgi memiliki 2 unsur yaitu kebersamaan dan keresmian. Unsur kebersamaan liturgi nampak dalam kehadiran umat. Umat yang hadir bukan penonton tetapi dipanggil berpartisipasi secara sadar dan penuh, yakni berpartisipasi dengan jiwa dan raganya serta dikobarkan dengan iman, harapan dan kasih. Unsur keresmian liturgi nampak dari adanya ketentuan-ketentuan, aturan-aturan/pedoman yang ada. Secara umum pedoman liturgi mengacu pada Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR). Dengan demikian liturgi bukan sembarang kegiatan dan sembarang perayaan, karena harus memenuhi unsur-unsur tersebut di atas. Dan sebagai salah seorang petugas liturgi, seorang perangkai bunga altar harus memahami benar tentang hal ini.
Semua umat dipanggil untuk berpartisipasi secara sadar dan aktif dalam liturgi. Partisipasi tersebut meliputi: partisipasi batin (penghayatan pribadi), partisipasi lahir (keikutsertaan dalam berbagai tugas) dan partisipasi sacramental (menerima komuni)









Dan, seperti yang ditulis oleh Santo Yohanes Paulus II, tantangan besar di abad 21 ini adalah “membuat Gereja sebagai rumah dan sekolah communio”, dengan memajukan “spiritualitas komunio”.
Sejak Perjanjian Lama sampai ke Yesus, Tuhan selalu menghadirkan diriNya sebagai “Bapa yang penuh kasih, lemah lembut, penuh kebaikan”, “karena itu kita dapat dan harus memiliki kepercayaan yang besar kepadaNya”:

