Kampung Baru,Berkatnews.com 11 Oktober 2026 — Gereja bukanlah sekadar bangunan fisik dengan dinding yang kokoh, pilar-pilar menjulang, atau altar yang megah dipandang mata. Jantung sejati Gereja berdetak jauh lebih dalam; ia berdenyut di dalam persekutuan umat yang hidup, yang saling mendengarkan dengan penuh kasih, merangkul kerapuhan, dan berani berjalan bersama dalam dinamika zaman.
Kesadaran inilah yang berkobar hangat dan menyatukan langkah dalam kegiatan Studi dan Sharing Antar Fasilitator Paroki Santa Maria Assumpta Toboali yang sukses digelar di Stasi Santa Elisabeth Kampung Baru. Pertemuan penuh rahmat ini dihadiri oleh 31 peserta yang digerakkan oleh semangat pelayanan yang sama. Hadir di tengah-tengah umat: Pastor Paroki RP. Baltasar Mili, SS.CC, Moderator Fasilitator Paroki RP. Titus Bala Unagolok, SS.CC, Suster Marsiana, PRR, Tim Fasilitator Paroki Toboali, para Ketua Wilayah, Ketua KBG, hingga para Fasilitator berdedikasi dari Stasi Kampung Baru, Stasi Air Semut, dan Stasi Batu Betumpang. Kehadiran lintas wilayah ini menjadikan peremuan tersebut sebagai sebuah momentum penyegaran rohani yang mendalam—membakar kembali api pelayanan yang dibangun mulai dari wilayah Paroki, Stasi, maupun KBG-KBG. Rangkaian kegiatan ini sendiri dipandu dengan sangat apik oleh Ibu Natalia Meitri Bellinda, salah satu Tim Fasilitator dari Toboali.

Jejak Langkah: Dari Ruang Kelas Teori Menuju Pengalaman Hidup
Pertemuan ini dirancang secara utuh dan mendalam, membekali para penggerak umat agar semakin mantap, percaya diri, dan berakar dalam mendampingi Komunitas Basis Gerejawi (KBG):
Sesi Pertama — RP. Baltasar Mili, SS.CC: Membahas Modul Satu tentang Sharing Injil dan Doa Mengundang Tuhan. Dalam sesinya, beliau mengingatkan bahwa sebelum kita berbicara tentang program atau struktur, kita harus terlebih dahulu membuka hati bagi kehadiran Tuhan melalui Sabda-Nya. Sharing Injil bukan sekadar metode membaca teks suci, melainkan undangan terbuka agar Tuhan sendiri yang merajai hati, memulihkan relasi, dan membimbing langkah persekutuan kita.

Romo Baltasar Pastor Paroki Toboali
Sesi Kedua — RP. Titus Unagolok, SS.CC: Membahas Modul C 8 yang termuat dalam Modul ASIPA tentang “Komunitas Basis Gerejawi Membangun Gereja Partisipatif”. Umat diajak untuk menyelami kembali makna panggilan baptisan bersama: membangun Gereja yang aktif, inklusif, dan sungguh-sungguh hadir di tengah pergulatan masyarakat, dalam semangat Sinodalitas Gereja.

Pastor Titus
Praktik Nyata dan Diskusi Interaktif: Dipandu dengan penuh kehangatan oleh Pak Petrus dan Pak Sutrimo, para peserta langsung mempraktikkan tata cara Sharing Injil secara nyata. Suasana langsung mencair; sekat-sekat formal melebur dalam sesi sharing antar fasilitator dan diskusi kelompok. Tanya jawab mengalir hangat, mempertemukan berbagai kisah pergulatan, tantangan nyata di lapangan, hingga sukacita sederhana dalam merawat KBG masing-masing.


Ketika Sabda Bertemu dengan Realitas Hidup
Menghidupkan KBG bukanlah sebuah proyek instan yang bisa selesai dalam sekejap. Ia menuntut kesabaran seluas samudra, kerendahan hati seperti bulir padi yang merunduk, dan ketekunan yang tak kenal lelah. Melalui perjumpaan di Stasi Kampung Baru ini, kita kembali diingatkan bahwa seorang fasilitator bukanlah “guru” yang berdiri di atas panggung untuk menggurui, melainkan teman seperjalanan yang sama-sama haus, yang menimba air hidup dari satu sumber yang sama: Sabda Allah.
Ketika Injil dibagikan dalam kehangatan suasana KBG, hal-hal kecil yang ajaib mulai terjadi. Ruangan yang sederhana, teras rumah umat yang beralas tikar, atau ruang tamu yang bersahaja tiba-tiba berubah menjadi ruang-ruang kudus. Di sanalah pengalaman hidup manusia yang rapuh berpadu dengan belas kasih Tuhan yang tidak bertepi. Kita belajar mendengarkan bukan dengan niat untuk membalas, melainkan untuk sungguh-sungguh memahami; kita berbicara bukan untuk mencari pujian, melainkan untuk saling menguatkan pundak sesama yang lelah.
“Gereja Partisipatif lahir dari akar rumput yang kuat. Ketika KBG hidup berdenyut di lorong-lorong kampung dan kompleks perumahan, paroki pun akan berdenyut penuh tenaga.”
Menyalakan Api, Merawat Harapan
Mari jadikan percikan semangat dari Stasi Kampung Baru ini sebagai bahan bakar rohani untuk terus melangkah maju. Tantangan dalam merangkul umat yang sibuk, menyatukan waktu, atau menghidupkan kembali suasana KBG yang sempat redup tentu akan selalu ada. Namun, justru di situlah panggilan kita diuji, ditempa, dan dimurnikan oleh rahmat-Nya.

Bagi setiap fasilitator, ketua wilayah, dan ketua KBG yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan segenap hati: jerih payahmu tidak pernah sia-sia di hadapan Tuhan. Kita semua adalah tangan dan kaki Kristus yang merawat persekutuan umat di wilayah Paroki, Stasi, maupun KBG-KBG. Teruslah menyalakan api pelayanan. Jadilah ragi yang diam-diam meresap dan mengubahkan, serta pastikan Gereja kita senantiasa hadir sebagai rumah yang merangkul, menyembuhkan, dan membawa sukacita bagi siapa saja yang dijumpainya.
Penulos : Komsos Santa Maria Assumpta Toboali