Home GEREJA Simposium Ekologi Batam, Mgr. Adrianus Sunarko: Merawat Rumah Bersama Adalah Panggilan Iman dan Tanggung Jawab Bersama

Simposium Ekologi Batam, Mgr. Adrianus Sunarko: Merawat Rumah Bersama Adalah Panggilan Iman dan Tanggung Jawab Bersama

by Veronika Suci Handayani

Batam, Berkatnews.com – Krisis ekologis tidak dapat dipisahkan dari krisis kemanusiaan. Kerusakan lingkungan, perubahan iklim, kekerasan, konflik, ketidakpedulian terhadap kelompok rentan, dan berbagai bentuk dehumanisasi memiliki keterkaitan yang mendalam. Karena itu, upaya merawat bumi sebagai rumah bersama sekaligus menjadi panggilan untuk memelihara martabat manusia.

Pesan tersebut disampaikan Prof. Dr. Mgr. Adrianus Sunarko, OFM, dalam paparannya sebagai Keynote Speaker Simposium Ekologi Integral Lintas Iman yang diselenggarakan Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan (HAAK) Kevikepan Kepri, Keuskupan Pangkalpinang, di Ballrom Yos Sudarso, Batam Center, Sabtu (3/10/2026).

Mengusung tema “Kita dan Tanggung Jawab Merawat Rumah Bersama”, simposium mempertemukan kaum muda dan tokoh dari berbagai agama serta kepercayaan untuk membangun dialog, memperkuat persaudaraan, dan mendorong aksi bersama dalam menjawab persoalan sosial-ekologis.

Dalam paparannya yang bertajuk “Ekologi Lintas Agama”, Mgr. Sunarko mengajak peserta melihat persoalan ekologis tidak hanya dari perspektif lingkungan, tetapi juga dari hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan seluruh ciptaan.

Mgr. Sunarko mengawali refleksinya dengan mengangkat Deklarasi Bersama Istiqlal 2024 yang ditandatangani oleh Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal, KH Nasaruddin Umar, pada 5 September 2024.

Mgr. Adrianus Sunarko, OFM

Deklarasi yang bertajuk “Meneguhkan Kerukunan Umat Beragama untuk Kemanusiaan” tersebut merespons dua krisis global yang saling berkaitan, yakni dehumanisasi dan perubahan iklim.

Dehumanisasi tampak dalam meluasnya kekerasan dan konflik, termasuk ketika agama disalahgunakan untuk membenarkan kekerasan. Dampaknya terutama dirasakan oleh kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, dan lanjut usia.

Di sisi lain, eksploitasi terhadap alam telah berkontribusi terhadap perubahan iklim yang menghadirkan berbagai konsekuensi destruktif berupa bencana, pemanasan global, serta pola cuaca yang semakin sulit diprediksi. Krisis lingkungan tersebut pada akhirnya juga menghambat kehidupan bersama yang harmonis.

Karena itu, menurut Mgr. Sunarko, agama tidak boleh berhenti pada pengajaran moral secara internal. Nilai-nilai agama perlu dihadirkan untuk melawan budaya kekerasan dan ketidakpedulian sekaligus menumbuhkan rasa hormat, martabat, belarasa, rekonsiliasi, solidaritas, dan persaudaraan.

Mgr. Sunarko juga memberikan catatan penting mengenai konsistensi gerakan ekologis.

Ia mengangkat refleksi Laudato Si’ bahwa rasa persatuan dengan makhluk lain dan alam tidak mungkin diwujudkan jika hati manusia tidak dipenuhi kelembutan, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama manusia.

Karena itu, menjadi aktivis lingkungan tetapi tidak peduli terhadap kemiskinan, perdagangan manusia, atau penderitaan sesama merupakan sebuah inkonsistensi.*Cosmas

You may also like

Leave a Comment

hacked by rexom

hacked by rexom
phone hack apply job vacancy nonton film streaming teknosehat blog kesehatan, kecantikan, dan teknologi