Home GEREJA Ketika Kamis Putih Mengingatkan Untuk Melayani Bukan Dilayani

Ketika Kamis Putih Mengingatkan Untuk Melayani Bukan Dilayani

by Veronika Suci Handayani

Pangkalpinang, Berkatnews.com – Umat Paroki Santa Bernadeth memadati gereja dalam Perayaan Ekaristi Misa Kamis Putih, Kamis malam, (02/04/2026). Misa yang dimulai pukul 19.00 WIB ini dipimpin oleh Pastor Vikaris Paroki Romo Untung Sinaga, didampingi Diakon Aven.

Kamis Putih menjadi momen penting bagi umat untuk mengenang peristiwa pembasuhan kaki para rasul oleh Yesus Kristus, sebuah keteladanan agung tentang kasih dan kerendahan hati yang diwujudkan dalam pelayanan nyata.

Umat memadati gereja dalam misa kamis putih

Melayani, bukan untuk dilayani, ujar Romo Untung

Dekorasi Altar dengan Roti dan Anggur

Suasana perayaan terasa khidmat sejak awal. Di depan altar, roti dan buah anggur, lengkap dengan gelas berisi anggur, ditata secara khusus. Tata simbolik ini menegaskan makna Perjamuan Malam Terakhir, saat Yesus menyerahkan diri-Nya bagi keselamatan manusia.

Dalam homili disampaikan Romo Untung bahwa Kamis Putih menempatkan pelayanan sebagai pusat hidup iman. Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati lahir dari kerendahan hati dan keberanian untuk melayani tanpa syarat. Melalui pembasuhan kaki murid-murid-Nya, Yesus mengingatkan bahwa pengikut-Nya dipanggil untuk melayani, bukan dilayani—sebuah wujud kasih yang tulus dan konkret.

12 para rasul

Pembasuhan kaki ke 12 para rasul

Usai homili, perayaan dilanjutkan dengan prosesi pembasuhan kaki terhadap dua belas rasul. Tindakan ini menggambarkan bagaimana Yesus, meski sebagai Guru dan Tuhan, rela merendahkan diri, bahkan mengambil posisi paling rendah di hadapan mereka yang dilayani-Nya.

Perarakan Sakramen Mahakudus

Suasana Tuguran ,dilakukan secara bergantian mulai KBG Wilayah 5 hingga wilayah 1

Kamis Putih sekaligus menandai awal Tri Hari Suci, sebuah perjalanan iman yang menyingkap ketaatan Yesus dalam mengorbankan diri demi menebus dosa manusia.

Setelah berkat penutup, Sakramen Mahakudus diperarakkan menuju Gua Maria Lourdes, dilanjutkan dengan Tuguran. Ibadat berjaga ini menjadi ungkapan kesetiaan umat untuk menemani Kristus dalam masa penderitaan-Nya, dalam suasana doa yang hening dan penuh permenungan. (Vsh)

 

Foto : Komsos Bernadeth

Related Articles

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

phone hack apply job vacancy nonton film streaming teknosehat blog kesehatan, kecantikan, dan teknologi