Home Episkopal Sesi Pertama KKL, Bapa Uskup Adrianus Sunarko Mengulas Kepemimpinan Transformatif

Sesi Pertama KKL, Bapa Uskup Adrianus Sunarko Mengulas Kepemimpinan Transformatif

by Veronika Suci Handayani

Pangkalpinang ,Berkatnews.com— Kepemimpinan yang sejati bukan hanya soal memimpin orang lain, tetapi juga keberanian untuk terus mengoreksi dan memperbarui diri. Pesan itu mengemuka saat Bapa Uskup Adrianus Sunarko,OFM  sebagai pemateri pertama dalam kegiatan KKL 1, Jumat, 15 Mei 2026, di Ballroom Grand Safran Hotel.

Dalam sesi pembuka tersebut, Bapa Uskup membawakan materi tentang Kepemimpinan Transformatif yang dikaitkan dengan Rekomendasi SAGKI 2025. Materi ini menekankan bahwa kepemimpinan yang transformatif menuntut sikap kritis, baik terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri.

“Untuk pengembangan kepemimpinan yang transformatif, perlu sikap kritis pada orang lain, pada sistem yang tidak baik, pada keadaan masyarakat yang tidak adil, keadaan organisasi yang tidak benar, tapi harus juga kritis pada diri sendiri,” ujarnya.

Materi pertama dibawakan Bapa Uskup Adrianus

Lebih lanjut, Bapa Uskup menyoroti pentingnya kepemimpinan partisipatif dan sinodal. Ia menjelaskan bahwa semangat sinodalitas yang dipromosikan oleh Paus Fransiskus mengajak para pemimpin untuk berjalan bersama, mendengarkan semua pihak, dan mengambil keputusan secara partisipatif.

“Kepemimpinan bukan sekadar memerintah dari atas, melainkan memberdayakan komunitas,” tegasnya.

Sesi sharing bersama para peserta

Dialog kemudian berkembang secara aktif bersama para peserta KKL. Salah satu peserta mengajukan pertanyaan mengenai sosok pemimpin favorit Bapa Uskup. Menanggapi hal tersebut, ia menyebut Yesus Kristus sebagai teladan utama, sekaligus menyinggung Paus Fransiskus sebagai contoh kepemimpinan yang nyata dalam kehidupan Gereja saat ini.

“Pemimpin favorit, selain Yesus Kristus ya. Tadi saya sudah sebut contoh juga Paus Fransiskus, salah satu model kepemimpinan yang sungguh-sungguh kelihatannya. Dia mengikuti Yesus dengan melayani, tampil sederhana, dan lain sebagainya,” ungkapnya.

Bapa Uskup Adrianus foto bersama dengan para peserta KKL

Sekjen KWI itu juga mengingatkan kembali kunjungan Paus Fransiskus yang membekas di hati banyak orang.

“Hatinya untuk orang-orang yang menderita itu tidak bisa kita lupakan. Dia selalu punya hati untuk orang-orang yang konsep dasarnya bela rasa. Memang dia punya hati yang sangat jelas untuk orang-orang yang menderita,” ujarnya.

Menutup seluruh rangkaian materi, Bapa Uskup menyampaikan penegasan yang merangkum pesan utama kepemimpinan transformatif. Ia menekankan bahwa proses perubahan adalah perjalanan panjang yang tidak pernah selesai.

“Yang penting sekali adalah kita setia dan tekun dalam proses yang tidak akan selesai sepanjang hidup. Proses pertobatan, proses perubahan menjadi makin baik, terbuka untuk masukan-masukan. Itu membutuhkan kematangan pribadi,” ungkapnya.

Kepemimpinan adalah proses seumur hidup yang menuntut kesetiaan dan ketekunan. Proses pertobatan dan perubahan menuju kebaikan, katanya, tidak pernah selesai dan membutuhkan kematangan pribadi.

“Salah satu yang sangat diperlukan oleh seorang pemimpin adalah keterbukaan dan daya tahan yang panjang untuk terus mengadakan pembaruan, baik perubahan diri sendiri maupun organisasinya. Kalau kita sendiri atau organisasi berhenti bertransformasi, berarti dia sudah mati. Jadi proses transformasi itu seumur hidup,” tutupnya (Vsh)

Related Articles

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

phone hack apply job vacancy nonton film streaming teknosehat blog kesehatan, kecantikan, dan teknologi