BerkatNews.com. Asian Youth Day (AYD) atau hari orang muda asia adalah perjumpaan orang muda Katolik se-Asia. Acara ini diselenggarakan tiap tiga tahunan dan dihadiri kurang lebih seribu sampai tiga ribu OMK perwakilan dari berbagai negara di Asia. Dalam acara inilah berbagai kegiatan menumbuhkan semangat pewartaan dibuat. AYD digagas oleh pembina OMK se-Asia dan disetutuji oleh Federasi Konferensi Uskup-uskup se-Asia (FABC) dibawah kantor komisi Keluarga dan Kerawam bagian kepemudaan.
AYD terdiri dari 3 acara besar yakni Day in the Diocese, Days in AYD’s Venue and Asian Youth Ministers’ Meeting (AYMM).
Asian Youth Day ke 7 akan diadakan di kota Yogyakarta, Indonesia 30 Juli – 6 Agustus 2017 dengan tema Joyful Asian Youth! Living the Gospel in Multicultural Asia.
Dirilis di halaman resmi AYD 2017, http://asianyouthday.org, konsep acara AYD 2017 kali ini sangatlah padat, diantaranya:
- Family and Parish Experience Terkecuali saat AYD1 yang diselenggarakan di Thailand, semua AYD dimulai dengan pengalamanpengendapan situasi dan kondisi kehidupan iman bersama dengan keluarga angkat setempat. Para Delegasi ditempatkan di sebuah paroki dan pada khususnya, di sebuah keluarga angkat yang bersedia menerima para delegasi dari negara yang berbeda dan beraktivitas bersama untuk mengenal budaya masyarakat setempat. Pengalaman beberapa hari tersebut diakhiri dengan perayaan Ekaristi dan persekutuan bersama dengan umat di paroki setempat.
- Regional Sharing Para Delegasi dikelompokkan berdasarkan wilayah/region (Asia Timur, Asia Selatan, Asia Tenggara 1, Asia Tenggara 2) untuk berbagi pengalaman realitas di negara masing-masing. Hal ini lebih diperdalam di AYMM ketika para pendamping OMK merencanakan aksi yang lebih konkrit sesuai hasil AYD.
- Youth Walk Ini adalah katekese interaktif, yang dirancang untuk membantu delegasi memperdalam pemahaman mereka pada tema. Khusus untuk AYD7 ini akan diadakan serangkaian acara dialog dan pengalaman kehidupan iman dan dialog lintas agama dan ragam kebudayaan di Indonesia.
- Workshop Beberapa lokakarya simultan untuk meningkatkan kesadaran dan pembekalan keterampilan untuk menangani isu-isu yang berkaitan dengan tema.
Tema harian AYD7: Hari ke-1: Datang dan Berkumpul Bersama sebagai Masyarakat Asia yang Majemuk Hari ke-2: Menghargai Keberagaman dan Merayakannya Bersama Hari ke-3: Bersatu dalam Keberagaman Hari ke-4: Merayakan Kebersamaan Hari ke-5: Berbagi dan Hidup dalam Sukacita Injil.
AYMM The Asian Youth Ministers’ Meeting, di sisi lain, menindaklanjuti tantangan dalam pelayanan dan pendampingan orang muda sesuai yang dimunculkan oleh tema. Disini juga menjadi sarana untuk membicarakan perencanaan yang lebih praktis dan koordinasi di tingkat nasional, sub-regional, dan regional.***


Gereja selalu berusaha untuk memberikan jawaban yang sesuai dengan tantangan zaman, dengan beradaptasi dengan mentalitas orang-orang dan budaya mereka dan khususnya situasi konkret orang dalam memenuhi tugas dasar nya, yaitu, mengabarkan Kabar Baik untuk semua umat manusia. Untuk mencapai tujuan ini Gereja telah terus-menerus untuk menganalisis metode pastoral dan pelayanannya. Apakah Gereja masih menggunakan cara yang tepat dan efektif untuk mencapai tujuannya? Apakah bahasa nya masih mampu melanjutkan tugas mendasar nya yaitu evangelisasi? Apakah Gereja masih menangani manusia dan masyarakat pada waktu tertentu dengan tepat? Dunia yang berubah cepat selalu menuntut pendekatan terkini untuk menjangkau orang-orang dalam konteks perubahan dan situasi mereka. Inilah apa yang para Bapa Konsili pikiran. Oleh karena itu, setengah abad kemudian visi pastoral mereka masih menjadi orientasi yang valid untuk waktu kita saat ini.
Dua lembaga pastoral luar biasa: AMECEA Gaba Pastoral Institute, di Eldoret, Kenya, dan Lumko Pastoral Institute dari Konferensi Uskup Afrika Selatan [3], merepresentasikan dua tempat yang dikontekstualisasikan dan terinkulturasi dalam formasi pelayanan yang telah mengilhami Gereja-gereja lokal di seluruh dunia. Disebut pendekatan Lumko dikembangkan oleh Mgr. Fritz Lobinger dan Mgr. Oswald Hirmer dengan seluruh staf Lumko. Dari tahun 1986 Pastor Anselm Prior, OFM, dan dari tahun 2001 Pastor Gabriel Afagbegee, SVD, menjabat sebagai direktur Lumko dalam rangka untuk mempromosikan pendekatan Lumko.





Uskup Lucius Hre Kung dari Keuskupan Hakha, Ketua AsIPA nasional team hadir dan memberikan seminar di hari pertama. Ia memulai naskahnya dari bagaimana KBG dan AsIPA hadir di Myanmar 20 tahun yang lalu. Namun begitu hal ini telah mengalami penyegaran-penyeragara di beberapa keuskupan di Myanmar sejak 2013. Sebanyak 8 Keuskupan dari 16 Keuskupan telah aktif mempromosikan KBG bersama koordinator KBG tingkat keuskupan masing-masing. Juga teks-teks AsIPA telah diterjemahkan ke dalam bahasa lokal Burmese. Kami telah membuat rencana tiga tahunan tentang KBG untuk level nasional. Uskup Kung menekankan bahwa KBG adalah intrumen yang hebat untuk mewujudkan cara baru hidup menggereja, Gereja Partisipatif.









