
Oleh L V Evy Puspitosari (Fasilitator AsIPA St. Damian)
Bengkong-BerkatNews.com. Setiap umat Allah di Keuskupan Pangkalpinang diutus untuk mengimplementasikan visi-misi Keuskupan ini, yaitu berpusat pada Kristus, berkomunio dan bermisi. Tidak terkecuali anak-anak dan remaja yang sudah dibaptis.
Setelah seseorang dibaptis, seseorang akan dihapuskan dari dosa asal, masuk sebagai anggota gereja, dan diangkat menjadi keluarga Allah. Sebagai keluarga Allah, seseorang yang sudah dibaptis diangkat sebagai ahli waris kerajaan surga, dan diberi martabat sebagai Raja, Imam dan Nabi. Tetapi selain itu, setiap orang yang sudah dibaptis juga diberi tanggung jawab untuk melaksanakan 5 tugas perutusan gereja, salah satunya adalah Liturgia (Perayaan Iman).
Perayaan Ekaristi bisa berjalan dengan lancar jika semua petugas liturgi menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik, termasuk petugas Misdinar/ Putra Putri Altar. Peran mereka melayani Pastor dalam mempersiapkan peralatan Misa, sangat diperlukan.
Mereka adalah anak-anak yang terus bertumbuh, oleh karena itu sangat diperlukan adanya kaderisasi. Setiap tahun, sesudah Penerimaan Komuni Pertama, Komunitas Misdinar Tarsisius Paroki Santo Damian Batam, menerima anggota misdinar yang baru. Dengan ini diharapkan ketersediaan misdinar selalu berkesinambungan.
Jumlah misdinar yang terdaftar hingga saat ini berjumlah sekitar 120 anak, dan 50%nya adalah misdinar baru, yang baru bergabung pada bulan Juni lalu. Komunitas ini dikoordinasi oleh kak Vivi (Savitri), kak Putri dan ibu Theresia Dana. Ketiganya dibantu oleh 15 kakak pendamping. Mereka melaksanakan 3 bintang (berpusat pada Kristus, berkomunio dan bermisi) bersama-sama dalam keceriaan.
Mereka mengadakan pertemuan setiap Minggu sore, jam 15:00 wib. Minggu ke-1, 2, 3, 4 dan 5 untuk misdinar baru, dan minggu ke-1, 2 dan 3 untuk misdinar lama. Pertemuan pada minggu ke-4 dan ke-5, lebih ditekankan untuk pelatihan bagi anggota baru. Agenda kegiatan mereka beraneka ragam, seperti dinamika kelompok, sharing, berdoa bersama, latihan, rekoleksi. Tarsisius day (memperingati hari Santo pelindung) Tarsisius hunter (outing), Tarsisius funday (talk show) dan baksos.
Kebersamaan dalam keceriaan mereka lakukan bersama-sama, untuk bersatu dengan Kristus, membangun keakraban, berlatih dan melayani Tuhan dalam kegembiraan.***
Para pengajar agama Katolik se-Paroki St Damian, berkumpul sebulan sekali, yang dilaksanakan pada hari Sabtu, minggu kedua setiap bulannya di kompleks Sekolah Katolik Yos Sudarso. Dalam pertemuan-pertemuan itu, para pengajar membahas kesulitan dan kendala yang dihadapi oleh pengajar, penyusunan kisi-kisi, pembuatan RPP, pembuatan soal bersama, baik untuk soal mid semester, ataupun soal untuk semesteran, atau mengadakan rekoleksi bersama.
Rekoleksi ini dihadiri oleh 16 orang dari total 22 orang yang terlibat dalam bidang Pendidikan Agama Katolik ini. Dimulai pada pukul 11:00 wib dengan doa pembukaan, dan pembacaan Injil Lukas 15:1-10 oleh RP Richard SS.CC, dan dilanjutkan dengan sesi yang pertama. Pada Sesi ini, para peserta rekoleksi diajak untuk lebih mengenali diri sendiri, melihat potensi-potensi yang ada pada setiap pribadi, dan diajak untuk terus menerus mengembangkan diri untuk tugas pelayannya.
Dalam pertemuan yang diadakan pada Sabtu 3 September 2016 ini, diawali dengan Sharing Injil 7 langkah, sampai langkah ke-4, dan dilanjutkan oleh Pastor Uung Ungkara SS.CC dengan memberi pembekalan kepada lektor/lektris tentang Spiritualitas Hieronimus dan sikap-sikap rasuli yang harus ditunjukkan oleh anggota komunitas ini.





































“Pentahbisan Pastor Joseph adalah berkat dari Tuhan dan momen sukacita besar dan inspirasi bagi anak muda Mongolia Gereja kita”, ungkap Chamingerel Ruffina, anggota OC untuk komunikasi Pusat Katekese Nasional Mongolia.
Segenap umat Katolik Mongolia telah disiapkan untuk acara tersebut dengan melakukan novena kepada St. Paulus, untuk memperkuat semangat misioner mereka selama Tahun Kerahiman.
Di antara para tamu dalam Misa itu adalah Abbot Dambajav dari Biara Dashi Choi Lin Buddha. Dia memuji upaya Gereja Katolik dan mendorong Pastor Baatar untuk mengambil tanggung jawab membantu orang-orang Mongolia. Dia juga memberi imam baru itu sebuah khadag biru, sebuah syal ceremonial scarf, sebagai tanda persahabatan.
Dalam suratnya kepada jemaat di Korintus, Paulus menulis demikian: ”Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal. Sebab sama seperti maut datang karena satu orang manusia, demikian juga kebangkitan orang mati datang karena satu orang manusia. Karena sama seperti semua orang mati dalam persekutuan dengan Adam, demikian pula semua orang akan dihidupkan kembali dalam persekutuan dengan Kristus….. ”
Dengan teologi ini, kita diantar kepada kisah penciptaan yang dilukiskan oleh Kitab Kejadian 1. Kitab Kejadian dibuka dengan sebuah gambaran bahwa pada mulanya kosong, tak berbentuk. Yang ada hanya Allah-Pencipta, Roh dan Firman. Dan ketika Allah berfirman, mulai ada dan terbentuk secara teratur alam semesta. Dari tidak ada menjadi ada; dari tak berbentuk menjadi berbentuk; dari tak teratur menjadi teratur; dari gelap menjadi terang. Begitulah Allah menciptakan langit dan bumi dalam sebuah perencanaan yang teratur, dihiasi terang dan semuanya baik adanya. Firman mencipta, membentuk, mendatangkan keteraturan, membawa cahaya.
Sebab Allah adalah Allah yang berkomunitas, maka gambaran kehidupan manusia-rupa-Nya pun haruslah gambaran hidup yang berkomunitas. Tidak baik manusia hidup seorang diri saja (Kej. 2: 18).
Namun ketika iblis memberikan argumentasi rasional dengan alasan-alasan yang masuk akal, apalagi menyentuh insting, untuk membangkitkan keangkuhan manusia supaya menyamai Allah, trjadilah sebuah perubahan besar.
Inilah awal sejarah keselamatan yang dimulai oleh Musa di Gunung Horeb. Kesetiaan mendengarkan Firman Allah dalam kerendahan hati itu memunculkan keberanian Musa untuk memberikan dirinya diutus kembali ke Mesir. Musa menyadari bahwa dari dirinya sendiri, ia tak berarti apa-apa di hadapan Firaun, namun dengan kesetiaan mendengarkan dan melaksanakan Firman Allah, Musa menempatkan dirinya sebagai alat bagi Tuhan; Tuhan adalah pelaku utama dari seluruh gerak misi pembebasan; sedangkan Musa hanya menjadi alat yang kelihatan. Dia fasilitator Allah untuk bangsanya yang tertindas.
Dan mulailah babak baru perziarahan kaum terpilih menuju tanah terjanji. Kesetiaan mereka mengikuti Firman, membuat Tuhan juga mendengarkan seruan mereka. Itulah sebabnya, walau di padang gurun sekalipun, Israel tetap mengalami kehidupan dari sumber air dan manna dari surga. Mendengar dan melaksanakan Firman membawa rahmat.
Oleh karena itu, selepas dari Sinai, Allah memerintahkan Musa untuk segera membuat Tabut Perjanjian (Kel. 25). Di dalam Tabut Perjanjian itu, terdapat Firman Allah yang terpatri dari loh batu (Kel. 25: 16, 21, 40: 20; Ul. 10: 1-5; 31:9); juga buli-buli emas yang berisikan manna (roti padang gurun yang berasal dari Allah) dan tongkat Harun yang pernah bertunas) (Ibr. 9: 4-5).