Sibolga,Berkatnews.com – Hari ketiga pelaksanaan Jambore Seminari Regio Sumatera 2026 menjadi salah satu momen yang paling berkesan bagi seluruh peserta. Setelah dua hari sebelumnya mengikuti berbagai kegiatan pembinaan, refleksi, dan kebersamaan, para seminaris dari berbagai seminari di Sumatera diajak menikmati suasana yang lebih santai melalui kegiatan rekreasi dan malam budaya. Kedua kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga menjadi wadah untuk mempererat persaudaraan, menumbuhkan semangat kerja sama, serta memperkenalkan kekayaan budaya dari berbagai daerah di Sumatera.
Kegiatan rekreasi dilaksanakan di Pantai Batu Gajah Humaga Hajoran, sebuah kawasan wisata pantai yang menyuguhkan keindahan alam pesisir dengan hamparan pasir, deburan ombak, dan panorama laut yang menawan. Sejak pagi hari, para peserta jambore berangkat menuju lokasi dengan penuh antusias. Perjalanan yang ditempuh bersama menjadi kesempatan bagi para seminaris untuk semakin mengenal satu sama lain, berbagi cerita, serta membangun relasi persaudaraan lintas seminari.
Sesampainya di lokasi, suasana pantai yang asri dan udara segar langsung menyambut para peserta. Kegiatan rekreasi kemudian diawali dengan berbagai permainan kelompok yang telah dipersiapkan panitia. Seluruh permainan dirancang secara khusus untuk melatih kerja sama, komunikasi, kreativitas, serta kekompakan antarpeserta.

Rekreasi para Seminari di Pantai Batu Gajah Humaga Hajoran
Salah satu permainan yang paling menarik perhatian adalah permainan memindahkan air ke dalam ember menggunakan botol yang dibawa dengan mulut. Dalam permainan ini, setiap kelompok dituntut untuk bekerja sama dan menyusun strategi agar air yang dipindahkan dapat terkumpul sebanyak mungkin. Sorak-sorai dan gelak tawa peserta terdengar di sepanjang permainan, terutama ketika air yang dibawa tumpah sebelum mencapai tujuan.
Permainan lainnya adalah memindahkan tepung secara estafet. Tantangan ini menguji kekompakan dan koordinasi antaranggota kelompok. Wajah para peserta yang dipenuhi tepung justru menambah suasana menjadi semakin meriah dan menghibur. Tidak sedikit peserta yang tertawa melihat rekannya berubah menjadi “putih” karena tepung yang berhamburan.
Keseruan berlanjut dengan permainan memindahkan botol plastik menggunakan botol lain tanpa bantuan tangan. Permainan ini membutuhkan konsentrasi, kesabaran, dan kemampuan bekerja sama. Selain itu, terdapat pula permainan pipa bocor yang menjadi salah satu tantangan paling menegangkan. Dalam permainan ini, setiap anggota kelompok harus menutup lubang-lubang pada pipa yang bocor agar air dapat mengalir dan memenuhi wadah yang telah disediakan. Tanpa kerja sama yang baik, mustahil permainan tersebut dapat diselesaikan dengan sukses.
Meskipun seluruh permainan dikemas dalam suasana yang santai dan penuh kegembiraan, terdapat nilai-nilai penting yang ingin ditanamkan kepada para seminaris. Melalui kegiatan tersebut, para peserta belajar bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, melainkan juga oleh kemampuan untuk bekerja bersama, saling mendukung, dan mengutamakan kepentingan kelompok. Nilai-nilai ini sangat relevan dengan kehidupan seminari yang menekankan pentingnya hidup berkomunitas dan semangat persaudaraan.
Keceriaan yang terbangun sepanjang kegiatan rekreasi semakin mempererat hubungan di antara para peserta jambore. Para seminaris yang sebelumnya belum saling mengenal kini dapat berinteraksi dengan lebih akrab. Tidak terlihat lagi sekat-sekat asal daerah maupun seminari; yang tampak hanyalah semangat persaudaraan sebagai sesama calon imam yang sedang menempuh perjalanan panggilan yang sama.
Setelah menikmati kegiatan rekreasi sepanjang hari, para peserta kembali ke lokasi jambore untuk mempersiapkan diri mengikuti Malam Budaya, salah satu acara yang paling dinantikan dalam rangkaian Jambore Seminari Regio Sumatera 2026. Malam budaya menjadi panggung bagi setiap seminari untuk menampilkan kekayaan seni dan budaya daerah masing-masing.
Suasana malam budaya berlangsung meriah. Panggung yang telah dihias dengan nuansa tradisional menjadi saksi perjumpaan berbagai budaya yang hidup dan berkembang di wilayah Sumatera. Para peserta, pendamping, panitia, serta tamu undangan tampak memenuhi area kegiatan dengan penuh antusias.
Pada kesempatan tersebut, Seminari Menengah Mario John Boen Pangkalpinang mempersembahkan sebuah pertunjukan bertajuk “Seni Budaya Kite” yang mengangkat tema Tradisi Nganggung, salah satu warisan budaya khas masyarakat Bangka Belitung.
Melalui penampilan yang memadukan unsur tari, musik, dan dramatik, para seminaris memperkenalkan kepada seluruh peserta jambore tentang makna mendalam yang terkandung dalam tradisi tersebut. Tradisi Nganggung merupakan simbol persatuan, gotong royong, dan kebersamaan yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Melayu Bangka Belitung.

Penampilan Pentas Seni Seminari Menengah Mario John Boen
Dalam tradisi ini, setiap keluarga membawa dulang, yakni nampan atau wadah besar yang berisi berbagai makanan dan hidangan yang telah dipersiapkan dari rumah masing-masing. Dulang tersebut kemudian dibawa menuju tempat pelaksanaan kegiatan, seperti masjid, balai desa, ataupun rumah keluarga yang sedang mengadakan hajatan. Semua dulang yang dibawa masyarakat disusun secara bersama-sama sebagai lambang persaudaraan dan semangat berbagi.
Biasanya, kegiatan Nganggung diawali dengan doa bersama atau pembacaan ayat-ayat suci sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Setelah itu, seluruh peserta yang hadir menikmati hidangan secara bersama-sama tanpa membedakan status sosial maupun latar belakang. Melalui tradisi ini, masyarakat Bangka Belitung memelihara nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, kepedulian sosial, rasa syukur, serta semangat hidup bermasyarakat yang harmonis.

Penampilan yang dibawakan oleh para seminaris Seminari Menengah Mario John Boen Pangkalpinang mendapat apresiasi yang hangat dari seluruh peserta jambore. Gerakan tari yang kompak, kostum yang mencerminkan identitas budaya Melayu Bangka Belitung, serta penghayatan para penampil berhasil menghadirkan suasana yang hidup dan menarik perhatian penonton. Tidak hanya menjadi hiburan, penampilan tersebut juga menjadi sarana edukasi budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi Bangka Belitung kepada para seminaris dari berbagai daerah.
Selain penampilan dari Seminari Menengah Mario John Boen Pangkalpinang, malam budaya juga dimeriahkan oleh berbagai penampilan menarik dari seminari lainnya. Seminari St. Maria Nirmala Padang membawakan paduan suara yang memukau dengan harmonisasi yang indah dan penuh penghayatan. Lagu-lagu yang dibawakan berhasil menghadirkan suasana khidmat sekaligus menghibur para penonton.

Seminari St. Maria Nirmala Padang

Seminari Christus Sacerdos Pematangsiantar
Sementara itu, Seminari Christus Sacerdos Pematangsiantar mempersembahkan medley lagu-lagu daerah yang mewakili budaya Batak Toba, Karo, dan Simalungun. Penampilan tersebut menggambarkan kekayaan budaya Sumatera Utara yang beragam namun tetap bersatu dalam satu identitas.

Seminari Menengah St. Paulus Palembang
Tidak kalah menarik, Seminari Menengah St. Paulus Palembang menampilkan lagu-lagu berbahasa Jawa yang mencerminkan keberagaman budaya yang hidup di wilayah Palembang dan sekitarnya. Penampilan mereka mendapat sambutan meriah dari para peserta yang ikut bernyanyi dan bertepuk tangan mengikuti irama lagu.
Sebagai penutup yang penuh semangat, Seminari Menengah St. Petrus Aek Tolang mempersembahkan tarian perang khas Suku Nias. Dengan gerakan yang tegas, energik, dan penuh wibawa, tarian tersebut menggambarkan keberanian, ketangguhan, dan semangat juang masyarakat Nias. Penampilan ini berhasil memukau seluruh hadirin dan menjadi salah satu pertunjukan yang paling berkesan dalam malam budaya tersebut.

Tarian Perang Khas
Malam budaya tidak hanya menjadi ajang pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan berbagai tradisi yang hidup di Sumatera. Melalui setiap penampilan, para seminaris diajak untuk semakin mengenal, menghargai, dan mencintai keberagaman budaya yang dimiliki bangsa Indonesia. Di tengah perbedaan bahasa, adat istiadat, dan tradisi, para peserta menyadari bahwa mereka dipersatukan oleh nilai-nilai yang sama, yakni persaudaraan, kebersamaan, dan iman kepada Kristus.
Hari ketiga Jambore Seminari Regio Sumatera 2026 pun ditutup dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Rekreasi yang membangun kekompakan serta malam budaya yang memperkaya wawasan menjadi pengalaman berharga bagi seluruh peserta. Melalui kegiatan-kegiatan tersebut, semangat persaudaraan antarseminaris semakin diteguhkan, sejalan dengan tujuan jambore untuk membangun kebersamaan yang berakar dalam Kristus serta menghargai keberagaman sebagai anugerah Tuhan yang memperkaya kehidupan bersama. Penulis : Rm Greg / Edit : Vsh
